Aktivis HAM Desak Israel Hentikan Pasok Senjata ke Militer Myanmar

Berbagisemangat.comKelompok hak asasi manusia berencana mengadakan demonstrasi di luar parlemen Israel pekan depan untuk mendesak Tel Aviv segera menghentikan penjualan senjata ke rezim Myanmar.

Aktivis HAM meningkatkan upaya untuk mengekspos sejarah panjang dan terselubung hubungan Penjajah Israel yang telah memasok senjata dan pelatihan militer ke rezim Myanmar sementara mereka secara aktif melakukan pembantaian, pembersihan etnis dan genosida kepada etnis minoritas Muslim.

Isu perdagangan Israel dengan rezim militer Myanmar telah menjadi sorotan setelah adanya pemberitaan pihak Israel mengirim senjata ke Myanmar, yang bertentangan dengan embargo senjata AS dan Eropa.

Sebagaimana diketahui, rezim Zionis Israel dikenal memiliki hubungan dekat dengan negara-negara yang bertindak dengan kejam termasuk melakukan pembantaian dan pembersihan etnis.

Sejauh ini, hakim dan politisi Israel telah menolak tuntutan kelompok hak asasi manusia untuk menghentikan penjualan senjatanya ke rezim Aung San Suu Kyi, yang disebut PBB sebai ‘contoh buku sejarah penbantaian etnis’, melakukan penyiksaan dan pemerkosaan terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

Catatan menunjukkan rezim Penjajah Israel menjual senjata ke Myanmar, ketika PBB menuduh rezim junta militer negara tersebut melakukan berbagai tindakah kekerasan dan pembersihan etnik.

Senjata yang dijual ke rezim Myanmar, termasuk lebih dari 100 tank, senjata api berat dan kapal yang digunakan oleh polisi perbatasan negara tersebut, kata kelompok hak asasi manusia.

Termasuk di antaranya Tar Ideal, yang dikatakan terlibat dalam pelatihan pasukan khusus Myanmar yang kini ditugaskan di Rakhine, negara bagian dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim Rohingya.

Pada Maret, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman sudah merespons petisi tersebut dan mengatakan bahwa pengadilan tidak memiliki yurisdiksi atas isu senjata setelah sekelompok aktivis HAM Israel mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Israel untuk menuntut dihentikannya penjualan senjata ke Myanmar.

Sang menteri juga mengklaim bahwa penjualan persenjataan kepada Myanmar “jelas merupakan urusan diplomatik”.

AS dan Uni Eropa sudah lebih dahulu memberlakukan pembatasan ekspor persenjataan ke Myanmar.

Tak hanya Israel, AS, dan Uni Eropa, sejumlah peneliti juga menemukan bahwa pasokan persenjataan militer Myanmar pun datang dari Inggris dan Korea Utara.

Rezim Israel juga dituduh telah banyak terlibat dalam serangkaian kekejaman yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk memasok senjata ke militan di Sudan selatan, di mana sebuah perang saudara pecah yang menyebabkan 300.000 orang terbunuh sejak akhir 2013.

Kelompok HAM juga menyebut, Tel Aviv melakukan operasi senjata berbahaya selama perang di Balkan, Cile, Argentina, Sri Lanka, Haiti, El Salvador dan Nikaragua.

“Perusahaan menjual senjata, dan pejabat yang menyetujuinya diam-diam perlu dimintai pertanggungjawabannya,” katanya.

AS dan Uni Eropa sudah lebih dahulu memberlakukan pembatasan ekspor persenjataan ke Myanmar.

Tak hanya Israel, AS, dan Uni Eropa, sejumlah peneliti juga menemukan bahwa pasokan persenjataan militer Myanmar pun datang dari Inggris dan Korea Utara.

Rezim Israel juga dituduh telah banyak terlibat dalam serangkaian kekejaman yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk memasok senjata ke militan di Sudan selatan, di mana sebuah perang saudara pecah yang menyebabkan 300.000 orang terbunuh sejak akhir 2013.

Kelompok HAM juga menyebut, Tel Aviv melakukan operasi senjata berbahaya selama perang di Balkan, Cile, Argentina, Sri Lanka, Haiti, El Salvador dan Nikaragua.

“Perusahaan menjual senjata, dan pejabat yang menyetujuinya diam-diam perlu dimintai pertanggungjawabannya,” katanya.

Related posts

Leave a Comment