MUI Minta Penerbit Yudhistira Tarik Buku IPS yang Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Berbagisemangat.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia menarik buku pelajaran IPS kelas VI yang memuat Yerusalem sebagai ibu kota Israel, bukan Tel Aviv. Lantaran, hal tersebut melukai umat Islam dan pemerintah Indonesia yang secara nyata menolak hal itu.

“Peredaran buku tersebut unt  uk sementara waktu perlu ditarik dahulu untuk dilakukan revisi,” kata Sekretaris Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) MUI, Arif Fahrudin, Selasa (12/12/2017).

Menurut Arif, penerbit Yudhistira juga harus meminta maaf dan berjanji kepada publik untuk tidak teledor lagi dalam sistem penerbitannya. Apalagi, belum lama ini Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump juga memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Ada apa dengan dunia perbukuan Indonesia? Mengapa tidak ada kepekaan sosial di dalamnya?” ucapnya.

Karena itu, menurut Arif, hal ini semakin menunjukkan bahwa reformasi sistem perbukuan nasional mutlak harus segera dijalankan. Menurut dia, terbitnya UU No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan Nasional harus segera ditindaklanjuti dengan terbitnya PP dan peraturan di tingkat menteri.

Arif mengatakan bahwa penguatan sektor hulu pada produksi konten keagamaan juga mutlak perlu penguatan oleh lintas stakeholder khususnya oleh MUI, sehingga hal-hal kontraproduktif seperti ini tidak terus terjadi apapun alasannya.

“Demi terjaganya kondusifitas dan harmoni antara produsen dan umat, LPBKI-MUI meminta agar Penerbit Yudhistira untuk menyampaikan penjelasan dengan sejujur-jujurnya kepada MUI,” katanya.

Minta Maaf

Di tempat terpisah, penerbit Yudhistira menyampaikan permohonan maaf atas penulisan Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Mereka beralasan, data tersebut diperoleh dari sumber internet World Population Data Sheet 2010.

“Kami menyampaikan mohon maaf sehubungan dengan informasi yang berkembang saat ini atas kesalahan penyebutan Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ungkap kepala penerbitan Yudhistira Dedi Hidayat, Rabu (13/12).

Dedi mengaku, tidak mengetahui jika data yang dikutip dari sumber internet tersebut masih menjadi perdebatan dan belum diakui secara internasional. Terlebih, menurut Dedi, sumber-sumber lain di internet pun mencantumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Hingga kini, Dedi belum berencana untuk menarik buku-buku yang telah terbit di pasaran. Hanya sebagai permohonan maaf, pihaknya akan melakukan revisi isi buku pada cetakan selanjutnya.

“Kami mohon maaf jika sumber yang kami ambil dianggap keliru. Kami akan melakukan perbaikan atau revisi isi buku tersebut pada cetakan berikutnya,” tegas Dedi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan, keberadaan buku terbitan Yudhistira itu, sejak Selasa (12/12) pagi telah dihapus dari daftar BSE milik Kemendikbud. Selanjutnya, Muhadjir akan menelaah terlebih dahulu untuk melihat signifikansi masalah terkait buku tersebut.

“Kalau sebatas salah tulis, cukup diralat. Naskah buku itu kan bebas diunduh oleh siapa saja karena hak ciptanya sudah milik Kemendikbud,” kata Muhadjir.

Please follow and like us:

Related posts

Leave a Comment