Buku Pelajaran IPS yang Memuat Yerusalem Ibukota Israel Ditarik dari Peredaran Januari 2018

Berbagisemangat.com – Setelah sempat menimbulkan kontroversi, buku IPS kelas VI SD yang memuat Yerusalem sebagai ibukota Israel akan ditarik dari peredaran.

Penarikan buku itu dilakukan pada Januari 2018.

Kepastian penarikan buku itu setelah KPAI bertemu penerbit buku Yudistira pada Senin, (18/12/2017) siang.

Pihak Penerbit Yudistira diwakili Djadja Subagdja. KPAI mendalami pelaporan dan bukti yang terkait buku IPS kelas VI yang memuat Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Komisoner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan penarikan pada awal tahun depan, karena akhir tahun ini banyak sekolah berkonsentrasi di pembagian rapor semester ganjil.

“Jadi kemungkinan besar, baru bisa menarik dan mendistribusi buku pengganti pada Januari 2018. Penerbit berjanji akan melaporkan proses tersebut ke KPAI sebagai lembaga pengawas,” tuturnya, Selasa (19/12/2017).

Yudistira, selaku pihak penerbit, meminta maaf serta mengakui buku terbitan telah memuat bahasan negara-negara di Benua Asia dan menampilkan tabel negara-negara di Benua Asia.

Nama negara diurut sesuai abjad, Israel di urutan nomor 7 dan dikolom ibukota tertulis Jerusalem. Sedangkan Palestina di urutan nomor 12 ibukota diisi tanda strip (-) alias kosong.

Menurut dia, buku itu belum didaftarkan pihak Yudistira ke Pusat Buku dan Kurikulum (Pusbukkur Kemendikbud RI) , sehingga penerbit bertanggungjawab penuh atas isi buku tersebut.

“Sudah melakukan revisi buku tersebut. Revisinya adalah Ibukota Israel yaitu Tel Aviv dan ibukota Palestina yaitu Yerusalem,” kata Retno.

Penerbit Yudistira sudah mengirimkan surat penjelasan resmi bernomor 12/Pnb-YGI/XII/2017 tertanggal 12 Desember 2017 yang menyatakan, sumber data negara Israel ibukotanya Yerusalem dari world population sheet 2010.

Sumber diakui sebagai sumber yang tidak tepat digunakan sebagai referensi penulisan sebuah buku.

Selain Yudistira, buku keluaran Intan Pariwara juga mencantumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dalam hal ini, KPAI sudah mendapatkan penjelasan dari pihak Intan Pariwara melalui surat elektronik yang berisi, mereka hanya memperbanyak naskah buku bse dari pemerintah. Artinya, Intan Pariwara hanya mencetak bukan sebagai penerbit.

Retno menjelaskan, program buku Sekolah Elektronik (bse) adalah program pada era pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di program bse kala itu, Kemendiknas melalui Pusat Perbukuan membeli naskah-naskah buku dari para penulis, lalu, diunggah di laman website Kemendiknas dan para penerbit diizinkan memperbanyak secara gratis.

“Maksud dan tujuan pembelian hak cipta nakah buku oleh pemerintah patut di apresiasi karena untuk menekan harga buku pelajaran agar murah. Sayangnya, proses seleksi dan penilaian bukunya diduga memiliki kelemahan pada penelaah isi dan editan,” tambahnya.

(Tribunnews)

Related posts

Leave a Comment