Kisah Andri ‘Dokter Lampu’ Berkursi Roda di Cirebon

Berbagisemangat.com – Nyala lampu LED yang panjangnya sekitar satu meter di pojok ruang tv menjadi penanda aktivitas Andri Rahman (18) dimulai. Lampu-lampu bekas berserakan di pojok ruangan itu.

Andri Rahman merupakan tukang servis dan penjual lampu bekas. Dia memiliki keterbatasan fisik. Kedua kakinya tak dapat bergerak. Kendati memiliki keterbatasan fisik, Andri tetap memiliki semangat untuk bekerja dan membantu ekonomi keluarganya. Andri merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan suami istri Ali Rahman (45) dengan Dunisa (42). Rumahnya berada di di Blok Tiga Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Sesekali Andri merangkak untuk menjangkau peralatan, seperti solder listrik, tang, dan lainnya. Kursi roda yang menjadi teman hidupnya selalu berada di samping Andri. Usaha servis listrik dan jual beli lampu bekas itu sudah digelutinya sejak empat tahun silam. Keahliannya membuat Andri mendapat ragam julukan, salah satunya ‘dokter lampu’.

“Iya dikasih julukan apa saja, saya mah terima. tukang servis juga enggak apa-apa. Terima-terima saja,” kata Andri saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/12/2017).

Kisah Andri 'Dokter Lampu' Berkursi Roda di CirebonAndri Rahman kesehariannya servis lampu. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)

Dia lalu menceritakan singkat masa kecil hingga dewasa. “Sejak lahir sudah tidak bisa berjalan. Malu kalau diam saja. Terus saya punya keinginan untuk belajar servis lampu, Alhamdulillah selama sebulan belajar terus bisa,” ujar Andri.

Dia mulai belajar menjadi tukang servis lampu saat mendapatkan kursi roda. Andri berpikir keras untuk bisa mendapatkan penghasilan demi membantu ekonomi keluarganya. Kursi roda Andri pun dimodifikasi seperti sepeda. Di bagian belakang kursi rodanya ada keranjang untuk lampu bekas.

Kursi roda itu digunakan untuk berjualan lampu bekas yang sudah diservis olehnya. “Setiap jam empat sore mulai servis lampu. Yang sudah jadi kemudian dijual keliling,” ucap Andri.

Selepas salat Maghrib, Andri langsung bergegas merapikan lampu-lampu yang siap dijual. Andri mulai berjualan lampu dari bada Maghrib hingga pukul 23.00 WIB. Panghasilannya tak menentu. Namun, dia tetap bersyukur. “Kadang dapat 50 ribu rupiah, kadang juga tidak dapat. Paling gede dapat 200 ribu rupiah. Uangnya buat bantu orang tua, terus ditabung juga,” ucapnya.

Andri mengaku pernah ditabrak saat berjualan. Namun, kecelakaan tersebut tak membuatnya kapok untuk terus berjuang membantu ekonomi keluarga. “Pernah ditabrak, dua tahunan lalu. Alhamdulillah masih bisa kerja lagi, tangannya saja yang luka,” kata Andri sambil menunjukkan bekas luka di tangannya.

Andri menambahkan dirinya membeli lampu bekas dari para bos rongsok yang ada di desanya. “Bayarnya nanti kalau sudah laku, jadi ngambil dulu ke bos-bos itu. Alhamdulillah sudah punya langganan,” ujarnya.

Kisah Andri 'Dokter Lampu' Berkursi Roda di CirebonAndri Rahman yang keterbatasan fisik ini tetap semangat bekerja. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)

Di tempat yang sama, orang tua Andri, Dunisah mengaku bersyukur anaknya itu bisa membantu ekonomi keluarga, walaupun memiliki keterbatasan fisik. Dunisah mengaku selalu khawatir saat Andri berjualan keliling. Karena, sambungnya hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi kepada Andri.

“Kalau tak pulang-pulang sampai larut malam tuh bikin khawatir. Saya nunggu di depan rumah, biasanya gitu. Orangnya memang tak pernah mengeluh walau pun fisiknya seperti itu,” kata Dunisah dengan mata berkaca-kaca.

Dunisah sering melarang Andri berjualan saat kondisi cuaca atau kesehatan Andri tak memungkinkan. Namun, Dunisah menjelaskan, Andri selalu ngotot untuk berjualan. “Ya sering nolak disuruh istirahat tuh. Katanya kalau Andri tak kerja nanti makan apa. Sudah empat tahun servis dan jualan lampu bekas. Ya Alhamdulilah, uangnya selalu diserahin ke saya untuk kebutuhan keluarga, sebagian ditabung” ujar Dunisah.

Related posts