Jadikan Anak Sebagai Investasi Dunia dan Akhirat

Shalihah, menjadikan anak sebagai investasi dunia dan akhirat tentunya perlu direncanakan sejak dini agar dapat menuai hasil yang baik.

Berbagisemangat.com – Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dalam hal pendidikan, misalnya, orang tua berharap sang anak sedapat mungkin bisa menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Maka, mereka akan bekerja lebih keras agar dapat menabung atau berinvestasi sehingga kelak memiliki dana yang cukup untuk membiayai sekolah anak.

Namun, investasi orang tua jangan hanya terfokus pada hal itu saja. Menumbuhkan anak yang shalih dan shalihah, taat pada orang tua dan Rabb-Nya, cerdas, serta mandiri, adalah hal utama yang harus orang tua lakukan. Inilah investasi terpenting dalam hidup, yang mesti direncanakan sedari dini. Dan hasilnya bukan cuma dirasakan oleh sang anak, orangtua pun turut menikmati manfaat investasi ini, bahkan ketika kita telah tiada.

Berikut beberapa “rencana investasi anak” yang bisa kita lakukan sebagai orang tua:

1. Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan

Meski masih berada dalam kandungan, orangtua sudah bisa memulai pendidikan untuk buah hatinya. Justru di saat inilah, sejak janin berusia 4 bulan, sel-sel otaknya terbentuk, dan dilanjutkan dengan tersambungnya hubungan antarsel otak. Karena itu, memberinya asupan nutrisi yang cukup dan beragam stimulasi akan dapat menunjang perkembangan otaknya dengan optimal.

Stimulasi tersebut antara lain, memberinya sentuhan kasih sayang, mengajaknya mengobrol, memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, memperkenalkannya dengan kata-kata baik, membacakan cerita, dan sebagainya. Semua stimulasi ini dapat dirasakan oleh janin seiring dengan perkembangan fungsi organnya. Perhatikan pula psikologis ibu, jika kondisinya positif, bisa menjadi stimulasi yang baik bagi pembentukan karakter si kecil kelak. Maka, peran suami juga penting untuk selalu membantu istri agar psikologisnya terjaga dalam kondisi yang baik.

2. Menanamkan Dasar-dasar Agama

Jangan lewatkan waktu untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak sejak dini. Hal ini penting, sebab akan menjadi fondasi bagi kesuksesan hidup anak selaku hamba Allah ‘Azza wa Jalla. Kokohkan akidah anak agar ia dapat meniti di jalan yang lurus dengan selamat. Luqman pernah menasihati anaknya, sebagaimana terekam dalam surat Luqman [31]: 13, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Kemudian, ajari cara beribadah yang benar, sehingga anak akan terbiasa melakukannya ketika memasuki usia wajib shalat. Begitu pula dengan akhlak, tanamkan akhlak yang baik (husnul khuluq) kepada anak seperti yang dicontohkan Rasulullah agar ia tumbuh menjadi anak yang shalih dan berakhlak mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu, tapi dengan wajah yang menarik simpati dan dengan akhlak yang baik,” (HR Abu Ya’la dan Al-Baihaqi).

Seiring tumbuhnya harapan agar sang anak menjadi anak yang shalih, sudah semestinya orangtua menunjukkan bahwa dirinya juga shalih dan dekat kepada Allah. Jika ayah menyuruh anak shalat, misalnya, perlihatkan dulu bahwa ayah tak pernah meninggalkan shalat. Ajak anak untuk shalat berjamaah, meskipun ia belum mampu melakukan gerakan shalat dengan baik. Pun saat mengajarkan sedekah atau ibadah lainnya, akan lebih mengena bagi anak apabila ia melihat orangtuanya melakukan hal tersebut.

3. Membiasakan Melakukan Kegiatan Bermanfaat

Bak kertas kosong, hidup anak perlu diisi dan diarahkan dengan kegiatan yang bermanfaat, baik dalam hal ibadah, belajar, bermain, ataupun lainnya. Susun kegiatan yang bisa dilakukan untuk anak mulai dari pagi hingga ia terlelap, dan upayakan agar anak disiplin menjalaninya. Misalnya, membiasakan anak untuk shalat Subuh berjamaah di masjid bersama ayah, mengaji Al-Qur’an dan murajaah hafalan tiap habis shalat, menonton TV atau melihat layar perangkat digital apa pun hanya dua jam sehari, serta orangtua punya jadwal rutin untuk membacakan anak cerita atau kisah-kisah para nabi. Usahakan pula untuk memperdengarkan murattal agar telinga anak terbiasa dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

4. Mengajarkan Investasi dan Kemandirian Ekonomi

Sedari kecil anak sudah bisa diajari untuk berinvestasi. Namun, menurut perencana keuangan Ahmad Gozali, bukan untuk menyiapkan dana pendidikan si anak. “Belajar investasi bagi anak tujuannya adalah untuk menumbuhkan kebiasaan menabung secara rutin. Urusan hasil, tidak terlalu penting,” jelasnya. Bagaimana caranya? Untuk anak SD, bisa dimulai dengan menyisihkan uang jajan. Ajari dia untuk menabung dulu sebelum jajan, jangan terbalik, jajan dulu baru uang yang sisa ditabung.

Pada usia SMP dan SMA, anak sudah bisa mulai dikenalkan dengan bank. Tabungannya mungkin masih sedikit, tapi dengan menempatkan di bank maka anak menjadi terbiasa dengan pelayanan dan produk lainnya di bank.

Di usia ini pula, kata Gozali, anak sudah bisa diajari untuk “mencari uang”, tentu disesuaikan dengan kapasitasnya. Minimal, anak sudah tahu bahwa uang tidak tumbuh di pohon, tapi harus diusahakan. Dia melihat bagaimana orangtuanya berusaha untuk mendapatkan uang, sehingga ia juga bisa mulai mencoba. Entah itu dengan bekerja musiman, membantu orangtua di saat liburan, atau berjualan kecil-kecilan. “Targetnya bukan jumlah penghasilan yang diperoleh, tapi pemahaman anak tentang sumber penghasilan, korelasi antara usaha dan hasil,” tekan Gozali.

Untuk mengoptimalkan “investasi anak” ini, orangtua perlu menciptakan kondisi rumah dan lingkungan yang kondusif. Perhatikan pulabagaimana anak-anak di sekitar rumah yang menjadi teman bermain anak. Bila perlu, ajak mereka untuk belajar mengaji dengan anak di rumah atau beribadah bersama-sama agar anak dan teman-temannya bisa saling memberi pengaruh yang positif.

Related posts