“Demi Jilbab, Saya Rela Jadi Tukang Bersih-Bersih” Kisah yang Menggugah Iman

Berbagisemangat.com – Kamu muslimah, tapi tidak berhijab?
Apa modusmu? Biar cantik? biar bisa kerja dengan gaji tinggi? Pamer rambut?
Apa kamu tidak malu dengan kisah wanita ini, demi hijab ia rela sekalipun menjadi tukang sapu jalanan!

Perintah berjilbab disebutkan dalam ayat Alqur’an yakni sebagai berikut

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al ahzab ayat 59)

Dalam kesempatan ini saya menceritakan kisah perjuangan para muslimah di Polandia, dimana kebanyakan dari mereka adalah sister mualaf. Salah satu sister yang dekat dengan saya adalah Sister Cahaya dikutip dari eramuslim.com.

Perjuangan dan keteguhannya memegang identitas sebagai seorang Muslimah, kadang membuat saya menangis terharu hingga saya tidak berhenti mengucap kalimat tahmid dan takbir.

Setelah ujian perihal mantan suaminya, Sister Cahaya masih terus berjuang dalam kondisi keluarga yang prihatin dan mencari pekerjaan dengan kondisi tetap berhijab. Pekerjaan sebelumnya sebagai nanny (pengasuh) dengan kondisi berjilbab membuatnya tak lagi dipekerjakan.

Ia bercerita pernah suatu waktu ia datang ke rumah untuk menjaga seorang bayi umur 8 bulan, entah mengapa ibu si bayi mulai merasa keberatan dengan jilbabnya.

“Kenapa kau tidak melepas penutup kepala itu, kau kan seorang Polish (Orang Polandia)?” begitu ibu si bayi mengeluhkan tentang jilbabnya.

Sister Cahaya menjawab, “Maaf Pani, saya tidak bisa, saya seorang muslimah,” begitu teguh meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Saya pernah memberanikan diri bertanya, “Sister, mengapa kau tidak menutup kepala seperti turban agar tidak begitu nampak, mungkin dengan begitu mereka akan tetap mempekerjakanmu?”

“Tidak … Tidak, sampai akhir napas, jilbab ini akan selalu saya kenakan, Sister. Tak ada siapapun atau apapun yang bisa menggantikan hidayah yang telah Allah karuniakan ini,” jawabnya penuh keteguhan.

“Hidup ini sementara. Saya berdoa saya kembali menghadapNya dalam keadaan taat. Apa yang perlu saya khawatirkan, Sister?” ujar Cahaya.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar,” saya bertakbir dan memeluknya dengan haru.

Mari dengar apa yang hendak ia ucap saat saya kembali bertanya, “Lalu bagaimana sekarang kau menghidupi dirimu dan kedua orang tuamu?”

“Saya kerja jadi tukang bersih-bersih supaya tidak lepas jilbab. Tidak ada yang peduli atau keberatan dengan jilbab yang saya pakai. Saya lebih tenang dengan pekerjaan ini, Sister,” Ia mengucap kalimat di atas dengan binar bahagia. Semoga Allah merahmatimu.

Saya kembali mendekat dan memeluknya. Aisha yang tengah memperhatikan kami tiba-tiba sudah berdiri di depan dan ikut memeluknya. MashaAllah, putri saya pun bisa merasakan ketegaran saudari dari negeri Sang Paulus ini

Darinya saya belajar arti keteguhan dalam ucapan maupun perbuatan dalam menunjukkan identitas.

Ini saudari mualaf yang teguh dengan jilbabnya. Yang tak goyah dalam jalan imannya. Izinkan saya bertanya kepada saudari yang diberi kemudahan dan kelapangan:

Apa yang menghalangimu berjilbab?

Apa yang memberatkanmu berjilbab?

Apa yang membuatmu enggan berjilbab?

Related posts