Dengar Petuah Nenek Si Bos Difabel Pemilik 99 Toko, Merinding!

Berbagisemangat.com – Keterbatasan fisik bukan penghalang orang untuk meraih sukses. Tak hanya di bidang pendidikan, seorang difabel juga bisa sukses dalam dunia bisnis. Tak percaya? Lihat saja, Lee Thiam Wah.

Dilansir dari World of Buzz, Sabtu 3 Februari 2018, pria kelahiran 1954 ini punya bisnis ritel, 99 Speedmart. Kini, dia punya 1.000 toko 99 Speedmart di Malaysia.

Ya, pria ini mengidap polio sejak bayi. Penyakit ini membuatnya tidak bisa berdiri dan mengandalkan bantuan kursi roda. Pendidikannya harus terhenti di kelas 6 sekolah dasar (SD). Sekolahnya terlalu jauh untuk berangkat dengan kursi roda.

Tak hanya sebagai seorang penyandang disabilitas, Lee juga terlahir dari keluarga yang miskin. Ayahnya seorang kuli bangunan dan ibunya seorang pedagang kecil. Jadi, keluarganya tidak punya penghasilan yang tinggi. Orang tuanya harus bekerja keras untuk menghidupi 10 orang anaknya. Lee dan saudara-saudaranya diasuh oleh sang nenek

Apakah kemiskinan dan keterbatasan fisik membuatnya patah arang?

Tidak.

Pria ini memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan camilan. Neneknya terus mendorong cucunya untuk tidak putus asa.

“ Nenek memberi tahu saya: kamu memang secara fisik cacat, tapi tidak untuk mental. Kamu cerdas dan bisa menggunakan kedua tangan untuk berbuat hal yang lebih banyak. Kami perlu bebas dan menemukan jalan hidup atau nanti akan tertinggal jauh,” kata Lee sambil mengenang ucapan nenek, ketika diwawancarai The Star.

Tak Disangka Sukses

Dia berkata ucapan sang nenek melekat di kepala. Lee menjadi bersemangat untuk berusaha. Hasil penjualannya ditabung sedikit demi sedikit.

Setelah merasa cukup, Lee membuka toko kelontong pertama ketika berusia 23 tahun di Klang. Nama tokonya, Pasar Raya Hiap Hoe. Bisnisnya berkembang pesat karena pelayanannya ramah, harga bersaing, dan beraneka jenis barang yang dijual.

Lima tahun bisnisnya berjalan, Lee ingin mengembangkan bisnisnya. Dia menjual toko kelontong seharga 88 ribu ringgit (Rp304,31 juta) dan menggunakan uang penjualan toko untuk membuat minimarket. Dia menyasar konsumen berpenghasilan rendah dan buruh migran, tetapi bisnisnya terus berkembang.

Minimarket Lee ini berganti nama menjadi 99 Speedmart pada 2000. Lee berkata angka 99 dipilih karena merasa dirinya tidak sempurna. Plus, dia dan karyawannya berkewajiban untuk memberikan produk dan layanan terbaik bagi konsumen.

“ Angka 99 juga mengingatkan kami masih ada ruang untuk berkembang,” kata dia.

Meskipun menjadi seorang difabel, Lee berhasil membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa sukses. Dia berencana untuk menambah ritelnya menjadi 2.000 toko di seluruh Malaysia. Satu prinsip yang dia pegang ketika berbisnis adalah keterbatasan seseorang adalah diri orang itu sendiri.

Related posts