Kisah Mistam, Kakek Buta Selama 50 Tahun Jualan Bensin, Terus Berharap Pada Kejujuran Pembeli

Berbagisemangat.com – Keterbatasan fisik tidak menyurutkan langkah untuk berusaha mencari rezeki. Itulah semangat kakek penjual BBM (bahan bakar minyak) yang meski tuna netra namun pantang menyerah dengan keadaan.

Kios BBM itu berlokasi di depan halaman sebuah mini market kawasan Jalan Ahmad Yani Km3, Kelurahan Kebun Bunga, Banjarmasin. Di samping kios ada rak kayu yang memajang sejumlah botol premium (bensin) dan pertalite.

Di kios kayu atau lebih tepatnya gerobak dorong alias rombong kecil itu juga berjejer deretan botol dan jeriken berisi BBM. Di dalam situ juga, penjualnya duduk menunggu pembeli.

Aroma bahan bakar cukup menyengat, namun itu sudah biasa bagi kakek 67 tahun penjual BBM ini. Ditemani sang istri, keduanya duduk berdampingan sambil mengobrol.

Selepas subuh, Mistam Johansyah, demikian nama si kakek, membuka kiosnya. Bersama istri mengatur botol dan jeriken dan ditata di rak samping kios.

Pegawai, karyawan, pelajar, mahasiswa yang pagi itu berangkat ke kantor dan sekolah atau kampus, menjadi konsumen yang ditunggu sepagi itu.

Saat ada pembeli, baik yang berkendaraan roda dua atau empat, Mistam yang kedua penglihatannya tidak bisa lagi menikmati warna-warni dunia, dibantu istrinya segera melayani para pembeli.

Jika istrinya sedang sibuk di rumah, Mistam masih mampu sendirian meraih botol atau jeriken berikut corong. Meraba tutup tangki sepeda motor atau mobil. Memasukan ujung corong dan menuang bahan bakar.

Ia pun menerima pembayaran dengan ikhlas. Harapannya adalah kejujuran pembeli yang mengatakan nominal rupiah yang diserahkan.

Jika ada kembalian, Mistam dengan cermat merogoh saku dan meraba serta merasakan lembaran dan recehan yang akan dikembalikan. Lagi, tergantung kejujuran pembeli menyatakan bahwa uang kembalian itu benar nilanya.

Keseharian Mistam berjualan BBM ternyata sudah dilakoni sejak kurang lebih 50 tahun. Lahan tempat berjualan itu dikatakannya peninggalan orangtuanya.

“Saya jualan di sini sejak bujangan. Saat tepi jalan raya ini masih berupa rawa. Sejarahnya, tanah yang tempati jualan ini milik ayah saya. Beliau tentara dan kala itu diberi hak pakai tanah oleh Gubernur Kalsel saat itu, H Abran Sulaiman,” kisahnya.

Namun diakui Mistam, surat hak pakai atas tanah itu sudah hilang, meski demikian ia tetap mendapat tempat berjualan walau harus di tepi jalan.

“Dulu pernah ditertibkan petugas Tibum atau sekarang istilahnya Satpol PP, karena tidak boleh jualan di tepi jalan. Tapi syukurnya para pejabat saat itu ada yang kenal saya dan mempersilakan tetap jualan hanya saja kiosnya lebih menjorok ke dalam. Kata pejabatnya, kalau tidak bisa membantu secara ekonomi, bantulah bagaimana caranya agar bisa tetap berjualan,” terangnya.

Kakek dua anak dan satu cucu ini, bersyukur masih bisa berjualan walaupun secara kuantitas tidak bisa seperti dulu, namun ia tetap menerima rezeki Allah SWT berapapun pendapatannya.

[Berbagisemangat.com/Tribunnews]

Related posts