Punya Tiga Rumah Masih Suka Ngemis, Wanita Ini Keciduk Saat Karungin Uang 43 Juta

Berbagisemangat.com – Saat menggelar operasi gabungan penertiban tuna wisma, penyandang gangguan jiwa, dan pengemis, Kamis (22/2/2018) siang, anggota Satpol PP Kota Tasikmalaya mengamankan seorang pengemis yang bernama Epon.

Sebelumnya ia meronta-ronta menolak diamankan oleh petugas dan mengaku bukan pengemis. Namun apa daya ia tak sanggup melepaskan diri dari tangan para petugas.

Dia pun digiring ke atas truk Satpol PP bersama lima pengemis lainnya. Sepintas ini merupakan peristiwa biasa, namun saat didata dan diperiksa dari tangan Epon petugas menemukan uang hasil mengemis yang ketika dihitung mencapai jumlah Rp 43 juta.

Tak sampai disitu, Epon kembali mengejutkan petugas karena ditubuhnya ditemukan perhiasan emas berupa gelang dan kalung seberat 30 gram.

Kepala Satpol PP dan Damkar Kota Tasikmalaya Budi Rahman menjelaskan Epon tidak tergolong warga tidak mampu. Pasalnya ia memiliki tiga rumah dan beberapa petak sawah. Bahkan sebelum mengemis, dia merupakan penjual sayur di Pasar Pancasila.

“Untuk memberikan efek jera harus ada sanksi yang berat, karena tidak menutup kemungkinan banyak Epon-Epon yang lain,” kata Budi, Senin (26/2).

Epon tak dikirim ke Dinas Sosial (Dinsos) karena tidak miskin. Sehingga dipulangkan ke rumahnya di Cibeureum.

“Dia hanya ingin mencari penghasilan secara instan. Modal ingkig (jalan kaki) saja,” terang dia.

Budi mendapat kabar jika Epon kembali beraksi menadahkan tangan meminta belas kasihan di keramaian kota, sehari setelah dirazia Satpol PP dan polisi. Wilayahnya di Pancasila dan Mayasari Plaza.

“Saya mendapat kabar dari para pedagang, bahkan dari ayah saya sendiri melihat Epon kembali mengemis,” ungkap dia. Jika Epon kembali terjaring, tambah dia, maka akan dikenakan sanksi tipiring.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Tasikmalaya Beti Badrawati membenarkan jika Epon tak dikirim ke Dinsos. Ia sebetulnya menyayangkan hal itu. Sebab jika pengemis terjaring tidak diserahkan ke Dinsos, maka tidak akan terdata.

“Jika sudah terdata lalu terjaring kembali misal sudah tiga kali, maka prosesnya bisa kita kirim ke panti rehabilitasi di Cirebon atau di Sukabumi,” katanya.

Cecep (47) adik Epon ketika dikonfirmasi mengakui bahwa kakaknya memang sudah lama mengemis.

“Awalnya ya jualan daun singkong, daun pepaya di pasar. Tapi engggak laku. Jadi mungkin ngemis. Sudah dikasih tau enggak usah ngemis tapi susah,” ujar Cecep.

Keluhan yang sama dikatakan Kakak Epon, Burhan (52). Ia mengaku sudah berbagai cara untuk melarang adiknya mengemis. “Sudah habis segala cara. Sudah dilarang juga tetap kekeuh ngemis,” kata Burhan.

Saat dilarang mengemis, sambung Burhan, Epon kerap marah bahkan tak segan melukai orang yang melarangnya untuk mengemis.

“Sempat diingatkan sama emak (ibu Burhan) untuk tidak ngemis. Tapi malah menjambak rambut emak. Malahan sempat dipukulin juga sama kakaknya supaya gak ngemis lagi. Tetap enggak bisa,” ujarnya.

Please follow and like us:

Related posts