Tak Mampu Beli Gerobak, Pria Ini Jadikan Becak untuk Angkringan

Berbagisemangat.com – Angkringan yang biasa kita lihat di pinggir jalan, umumnya berdiri di atas gerobak beratap terpal. Namun, ada yang berbeda dari angkringan unik milik Paimin ini. Bukan di atas gerobak, angkringan ini justru berdiri di atas becak bekas.

Di jalan HOS Cokro Aminoto, sebelah selatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul, Jogjakarta ini merupakan salah satu tempat mangkalnya angkringan Paimin.

Angkringan yang masih berbentuk becak ini rupanya telah ditambahkan meja dan atap yang juga terbuat dari terpal dengan sanggahan dari kayu. Ketika di lihat dari kejauhan, angkringan Paimin ini didominasi warna hijau tua dan oranye, serta ada sedikit hijau tosca.

Selain itu, di bagian depan kursi penumpang disediakan sebagai meja pelanggan, berupa satu lembar papan sepanjang 1,5 meter. Dudukan penumpang ditutup dengan beberapa lembar papan. Di atasnya terdapat beberapa nampan berisi nasi kucing, gorengan, toples berisi krupuk, rak berisi gelas, toples gula, serta teko.

Gerobak Mahal, Paimin Pilih Beli Becak Bekas

Selain itu, ternyata semua makanan juga dihasilkan dari dapur rumah Pak Min sendiri. Angkringan becak Pak Min sudah digunakan enam bulan. Sebelumnya, selama 1,5 tahun pria yang kumis dan rambutnya tak lagi hitam ini membuka warung angkringan gerobak.

Gerobak itu rusak sehingga Pak Min harus memutar otak agar usaha warung tetap berjalan. Perihal ekonomi menjadi pendorong Paimin untuk berpikir kreatif.

“Saya beli becak bekas terus saya buat angkringan. Mau beli gerobak mahal harganya, saya nggak punya uang. Saya bikin sendiri dari becak yang saya beli cuma Rp 500 ribu. Atapnya saya ganti pakai kayu-kayu ini. Kayu-kayunya nggak beli, dikasih tetangga. Ini sudah paten, nggak pernah saya copot tendanya,” tuturnya dengan antusias.

Penghasilan Berkurang

Warung angkringan Pak Min rata-rata menghasilkan Rp 30.000 per hari. Uang itu menjadi pemasukan tambahan dari mengoperasikan becak motor dari pagi hingga siang. Jumlah pemasukan angkringan kisaran itu selama beberapa bulan belakangan terbilang menurun.

Sebelumnya, per hari Pak Min bisa mengantongi hingga Rp 100 ribu per hari. Pelanggan yang kerap datang adalah para pasien Dokter Barkah Djaka Purwanta yang pernah membuka praktik di sekitar area itu. Semenjak Dokter Barkah pindah, pemasukan Pak Min menurun drastis.

“Angkringan saya pakai becak itu orang-orang heran, dibilang kreatif. Semua tanya ‘kok pakai becak?’. Saya jawab mau beli gerobag tapi mahal,” tambahnya.

Malam itu, pukul 21.00 WIB, Pak Min mematikan penerangan untuk angkringan becaknya. Dia membereskan sisa dagangan beserta peralatan makan, lalu menata kursi panjang ke becak. Dia mendorong becak menuju sebuah jalan kecil di seberang kembali ke rumahnya.

Please follow and like us:

Related posts