Bangkit dari Kelumpuhan, Maridi Mampu Hidupi Keluarga dengan Kerupuk Buatannya

Berbagisemangat.com – Dari atas kursi rodanya, Maridi membalik tumpukan rengginang yang dijemur di depan rumahnya, Padukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kudapan tradisional itu kini jadi sumber pemasukan laki-laki 40 tahun ini sejak kakinya lumpuh pada 2009. Saat Kompas.com datang ke rumahnya, Maridi baru selesai mandi dan bersiap duduk di kursi roda dibantu istrinya Hana.

Panganan ringan seperti rengginan, ceriping pisang, dan kerupuk berjajar rapi di ruang tamu.

“Membuat makanan ringan ini untuk menopang keluarga,” ucap Maridi saat memulai pembicaraan Selasa (13/10/2020).

Matanya langsung menerawang jauh menceritakan awal mula sebagian anggota tubuhnya lumpuh. Kala itu, Desember 2009, Maridi masih bekerja sebagai staf tata usaha di sebuah madrasah, dan bekerja serabutan.

Saat sore hari bersama seorang tetangganya, dia mencari pakan ternak. Hal itu merupakan keseharian pria yang sudah memiliki dua orang anak itu.

Pohon mahoni setinggi kurang lebih 7 meter dia panjat, ranting yang memiliki daun muda ditebas. Saat sedang asyik memanjat, salah satu ranting yang dia pijak ternyata rapuh.

Tubuhnya terjun bebas ke bawah. Tak berapa lama dia tidak sadar, sampai ada tetangganya yang menolong. Maridi kemudian dibawa ke rumah sakit.

Singkat cerita, Maridi berobat sampai ke beberapa rumah sakit dan pengobatan alternatif. Namun, kakinya tetap tidak bisa digerakkan. Selama beberapa tahun, Maridi hanya beraktivitas di tempat tidur. Untuk kebutuhan hidup, dia mengandalkan bantuan dari donatur.

Seiring berjalannya waktu Maridi berpikir, apakah sepanjang hidupnya akan mengandalkan bantuan dari orang lain. Dengan keterbatasan tubuhnya tentu tidak bisa bekerja secara normal. Waktu itu Hana, istri Maridi, sempat mencoba membuat nasi kuning dan dititipkan di sekolahan.

“Tahun 2013 saya mempunyai ide untuk membuat emping dari ketela. Alatnya alat press tambal ban. Waktu itu saya diberi alat itu oleh Pak Tuyadi, yang sekarang menjadi Lurah Girikarto,” ucap Maridi sambil sesekali membetulkan kakinya.

Dengan alat yang sudah dimodifikasi itu, Maridi berusaha untuk bangkit. Sambil berbaring miring dia menggunakan kedua tangannya untuk membuat emping ketela. Tubuhnya pun sampai lecet karena membuat emping ketela.

“Setelah dijual hasilnya waktu itu Rp 20.000, itu uang pertama saya setelah saya seperti ini,” ucapnya.

Sambil berusaha untuk bangkit, Maridi akhirnya bisa duduk sekitar dua tahun terakhir.

Dia pun rajin mengikuti pelatihan, dan sudah menggunakan kendaraan yang dimodifikasi agar bisa menggunakan beraktivitas. Dibantu istrinya dan ibunya, Maridi kini terus memproduksi makanan ringan. Bahkan dia membuat kerupuk model baru dengan bahan daun singkong.

“Sekarang membuat emping, ceriping, rengginan, dan kerupuk daun ketela. Semua bahannya dari sini. Andalannya sekarang kerupuk daun singkong ,” ucap dia.

Makanan ringan produksinya itu dijual antra Rp 2500 sampai Rp 7500 per bungkusnya. Sebagian besar dijual ke kawasan pantai seperti siung. Sebelum pandemi melanda, dia mampu mengantongi Rp 2.500.000 per bulannya.

Namun saat pandemi melanda kunjungan wisata pun turun. Hal itu berpengaruh terhadap hasil produk yang diberi nama ‘Cap Kursi Roda’.

“Sekarang omsetnya anjlok, sebulan paling hanya Rp 300.000,” ucap dia.

“Nama kursi roda itu maksudnya bukan ingin dikasihani, tetapi sebagai penyemangat saya, dan orang-orang yang senasib untuk tidak menyerah,” kata Maridi.

Selain dititip-titipkan di warung, produk Rengginang Thiwul juga sudah masuk ke salah satu swalayan besar di Kota Wonosari. Jika ada banyak pesanan, Maridi mengajak tetangganya untuk membantu produksi.

“Untuk online masih ada kendala belum maksimal, dan juga mengenai kemasannya masih sederhana,” kata dia.

“Paling utama saya bersyukur masih bisa memberi nafkah kepada keluarga,” ucap ayah dari Imah (15) dan Yusuf (12) ini.

Artikel : Kompas.com

Related posts