Belajar Sukses Dari Kisah Hidup Saddil Ramdani, Andalan Timnas U-19 Mantan Penjual Jambu

Berbagisemangat.com – Sebagai salah satu punggawa Timnas, nama Saddil Ramdani tentunya bukanlah sosok yang asing di telinga kita semua. Selain memiliki bakat jempolan, ia juga merupakan bagian penting dari Tim Merah Putih baik itu yang U-23 atau U-19. Tak cukup itu saja, ketika bermain membela panji Persela pemuda 19 tahun ini juga kerap tunjukkan performa yang luar biasa. Seperti, cetak dua gol kala menghadapi Mitra Kukar di lanjutan Liga 1 bulan Juni lalu.

Kendati kini punya cerita yang indah, tapi hal itu tidaklah begitu saja terjadi layaknya pesulap bin salabim. Terlahir dari keluarga yang pas-pas membuatnya harus bekerja 1000 kali lebih keras untuk menggapai mimpinya. Bahkan beberapa kali harus ikut banting tulang untuk membantu kehidupannya dan saudaranya. Dan berikut kisah perjalanan Sanddil yang agaknya bisa jadi pelajaran untuk kita.

Saddil kecil hampir tinggalkan sekolah dan berjual jambu

Seperti yang sudah dijelaskan di awal tadi, masa kecil Saddil bisa dikatakan tidaklah berjalan mulus layaknya tol-tol yang sudah berdiri di era Presiden Jokowi. Ia dulu harus rela melewatkan masa kecilnya penuh kegembiraan dengan perjuangan keras demi membantu keluarga dan wujudkan mimpi. Pemain berkaki kiri ini juga hampir saja putus sekolah lantaran keadaan ekonomi keluarganya yang sulit. Bahkan demi bisa mewujudkan mimpi menjadi pesepakbola ia rela berjualan jambu demi mendapatkan sepatu bola. Kisah perjuangan yang dapatlah jadi tamparan untuk kita yang masih sering mengeluh.

Kerja kerasnya dan dukungan orang tuanya

Bagi sebagian orang hidup kekurangan memang menyulitkan untuk meraih mimpi. Tapi, berbeda dengan orang yang mau berusaha, tentu rintangan semacam itu atau sulit apapun bukan jadi masalah. Begitu juga dengan Sanddil, hidup dengan serba keterbatasan ia terus saja berusaha mengejar mimpinya. Melansir laman Bola.net, pemain berposisi di sayap ini juga sempat dilarang melajutkan cita-citanya lantaran kondisi ekonomi yang menurut orang tuanya susah menunjang kariernya. Bahkan demi bisa berlatih di tempat lebih baik ibunya pun harus mengutang untuk bisa memberangkatkannya ke Jawa. Cerita perjuangan yang menjadi bumbu bagaimana Saddil meraih mimpinya sekarang.

Terimakasih Saddil untuk Aji Santoso dan Asifa

Setelah berpeluh dengan kondisi serba sulit, akhirnya kisah Saddil sedikit berjalan di garis cerita lebih indah. Titik terang yang mengubah hidupnya adalah turnamen sepak bola junior berhasil ia memenangi. Dilansir laman Kumparan, setelah sukses menyabet trofi dalam ajang Pekan Olah Raga Daerah (Porda) Kendari bakatnya mulai tercium kemana-mana. Sampai akhirnya, legenda Arema dan Persebaya Surabaya menemukannya. Pertemuan dengan Aji Santoso adalah titik balik sekaligus jawaban dari Tuhan untuk kerja keras dan doanya. Bergabung dengan Asifa, kemampuan dalam olahraga ini terus berkembang hingga pada akhirnya pintu kompetisi teratas Indonesia berhasil dimasukan dan nama Sanddil pun terlihat ada di skuad Merah Putih.

Sempat menjadi kambing hitam dari kekalahan Timnas

Seperti halnya roda hidup yang sering berputar, cerita manis yang ia mencoba ia torehkan kembali mendapatkan kenyataan pahit. Ia yang jalani debut bermain di kompetisi Asia Tenggara harus rela dijadikan kambing hitam oleh para netizen dari kegagalan anak asuh Indra Sjafri melaju ke final. Singkat cerita, ia terkena kartu merah setelah menyikut lawan. Alhasil Timnas yang berusaha menang harus bermain dengan Thailand dengan sepuluh orang. Kendati pengaruhnya tak terlalu besar, namun jika Saddil tetap main peluang Indonesia akan lebih besar lagi. Olok-olokan dari A sampai Z pun mampir di kolom komentar miliknya.

Keras keras Sanddil kini kini tua hasil

Terlepas dari kisah masa lalunya tadi, kini Saddil agaknya menjadi representasi dengan pepatah lama yang mengatakan apa yang ditanam itulah yang dituai. Hal ini dibuktikan dengan torehan-torehan manis yang mengiringi langkahnya bermain sepak bola. Pemuda 19 tahun kini menjadi langganan dua Timnas sekaligus yakni U-23 dan U-19. Dan khusus untuk nama Tim Merah Putih terakhir tersebut, ia disebut-sebut menjadi tumpuan atau pemain penting di skuad garuda muda. Masih berbicara tentang Timnas, ia juga sukses persembahkan perunggu Asean Games 2017. Selain itu, performa baiknya di Persela juga kerap terpilih jadi pemain terbaik bulanan.

Berkaca dari kisah Sanddil Ramdani, tentu kita dapat sedikit belajar bagaimana sebuah kerja keras tidak pernah mengkhianati sebuah hasil. Jadi untuk kalian yang kini merajut mimpi di bidang apapun perjuangan adalah kunci wajib mewujudkan angan-angan kalian. Jangan sampai jadi seorang pencari mutiara tapi tidak mau menyelam ke dalam laut.

Related posts