Berhenti Jadi Sopir karena Pandemi, Astika Buka Usaha Kopi Sepeda, Terinspirasi dari Jerman

Berbagisemangat.com – Hampir tujuh bulan Ketut Astika (47), warga asal Singaraja, Bali, tak bekerja akibat pandemi Covid-19. Sebelumnya Astika bekerja sebagai sopir travel wisatawan asing di Bali selama 15 tahun.

Ia berhenti karena tak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke Bali sejak pandemi. Namun, Astika tak ingin berdiam diri lebih lama lagi.

Awal Oktober 2020, ia memutuskan membuka usaha kopi di pinggir Jalan Raya Puputan, Renon, Kecamatan Denpasar Selatan.

“Saya sudah tujuh bulan enggak punya pekerjaan dan penghasilan, sehingga saya memutuskan untuk membuat usaha ini,” kata Astika saat ditemui di lokasi usahanya, Rabu (21/10/2020).

Usaha yang dibangun Astika, yakni sebuah sepeda yang dimodifikasi dengan menambahkan gerobak kayu di depannya.

Di usaha yang baru dirintis ini, Astika menyajikan beragam jenis kopi nusantara yang diracik sendiri. Astika memilih berjualan di pinggir jalan dengan harapan lebih mudah mendapatkan pelanggan.

Astika memutuskan membuat usaha ini karena memang sangat menyukai kopi dan bersepeda.

“Saya suka kopi, saya suka meracik kopi, suka olahraga bersepeda juga,” kata dia.

Ide ini juga didapatkan saat berselancar di dunia maya. Dia melihat bahwa usaha kopi di gerobak sepeda ini banyak ditemukan di Eropa, seperti Belanda, Jerman, dan Denmark.

Modal awal yang dihabiskan untuk membuka usaha ini sekitar Rp 8 juta. Uang tersebut digunakan untuk modifikasi sepeda, kotak gerobak, peralatan meracik kopi seperti french press, V60, ketle atau teko leher angsa, manual grinder, dan kopi.

Ia menjual kopi nusantara seperti Arabika Pupuan, Flores, hingga Toraja. Selama 20 hari berjualan, Astika mengaku bersyukur usahanya terus berkembang.

Kini dalam sehari, ia rata-rata menjual 20 hingga 25 cangkir kopi dengan harga Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per cangkir.

“Ya, astungkara (syukur) cukup untuk keluarga,” katanya.

Meski memiliki nama Ketut, Astika menamai usahanya dengan nama Made Coffe. Nama itu merujuk pada anak keduanya yang bernama Made Mas Swardana. Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan pariwisata Bali kembali buka.

Ia juga berpesan kepada masyarakat yang terdampak pandemi ini untuk bangkit dan tidak menyerah.

“Tetap semangat, ini kan musibah dunia dan berpikir positif. Mudahan pariwistaa Bali buka karena dampaknya luar biasa,” harapnya.

Jika kondisi Bali sudah normal, ia mungkin akan kembali menjadi sopir travel. Namun, usaha kopinya akan tetap dijalankan bagaimanapun caranya.

Artikel : Kompas.com

Related posts