Cerita Anak Tukang Urut yang Prestasinya Mengharumkan Nama Daerah Asalnya

Berbagisemangat.com – Meski hidup susah, tetap berusaha lebih baik dan memperbanyak amal ibadah telah menjadi rahasia sukses Iswandi. Betapa tidak, di tengah kondisinya yang minim, ia justru berhasil mendidik ketiga anaknya, Miftahul Huda (15), Lailatur Rohman (11) dan Nurul Aisyah (9), menjadi orang-orang hebat yang berprestasi.

Rumah selebar 7 meter x 6 meter dengan dinding rumah anyaman bambu yang sudah lapuk dan berlantaikan tanah, tak membuat tekad Iswandi surut untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hatinya. Tidak ada barang mewah yang terlihat. Keluarga itu bahkan hanya tidur bersama-sama dengan menggunakan tikar sebagai alas.

Tidur di rumah sederhana beralaskan tikar [sumber gambar]

Kalau malam kami tidur di sini bareng-bareng beralaskan tikar di ruangan ini,” kata Iswandi yang ditemui di rumahnya di RT 004/RW 002, Dusun Danyang, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, seperti yang dilansir dari regional.kompas.com.

Berkat kegigihan kerja keras, serta doa Iswandi dan istrinya, dua dari ketiga anaknya berhasil meraih beasiswa yang membanggakan dirinya. “Meski kondisi kami serba kekurangan kami terus berdoa dan berusaha agar anak-anak kami bisa menjadi orang yang berhasil,” katanya.

Ilustrasi anak SD raih beasiswa [sumber gambar]

Miftatul Huda (15) yang saat ini duduk di Kelas VIII MTs Ar Rohman, Desa Tegalrejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Magetan, menjadi juara pidato berbahasa Inggris dan bahasa Arab tingkat karesidenan Madiun, mewakili sekolahnya. Sementara Sementara anak keduanya, Lailatur Rohman mewakili Kabupaten Ponorogo di ajang lomba pantomim tingkat pelajar SD se-Provinsi Jawa Timur.

Ilustrasi anak SD raih beasiswa [sumber gambar]

Padahal, Iswandi tergolong keluarga yang bisa dibilang pas-pasan dalam membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Ia berprofesi sebagai tukang urut dan memelihara itik milik tetangganya. Sementara istrinya, Nur Hidayati bekerja di warung makan dari pagi hingga malam dengan upah Rp 40.000 per hari.

Seikhlasnya saja dari yang memberi. Terkadang dikasih Rp 40.000. Terkadang juga dikasih beras,” ungkap Iswandi.

Ilustrasi shalat tahajud [sumber gambar]

Namun, ada satu hal penting yang menjadi kunci suksesnya dalam mendidik anak dan keluarganya. Iswandi dan istrinya selalu menunaikan salat tahajud setiap malam. Saat orang-oran lain terlelelap itulah , mereka berdoa agar cita-cita anaknya kelak tercapai dan bisa hidup lebih baik dari mereka.

Related posts