Cerita Dosen Unisma Mengajar Bahasa Indonesia Di Uzbekistan Dan Thailand

Berbagisemangat.com – Prayitno Tri Laksono MPd, dosen Bahasa Indonesia Universitas Islam Malang (Unisma) berbagai pengalaman mengajar Bahasa Indonesia di perguruan tinggi di Thailand dan Uzbekistan, Jumat (2/11/2018).

Di Thailand, ia mengajar satu semester (Juni 2016-Januari 2017) di Phitaram Techical Colllege.

Sedang di Uzbekistan di dua perguruan tinggi yaitu di Uzbekistan State World Languange University dan Tashkent State Institute of Oriental Studies pada periode Agustus 2017 sampai Juli 2018.

Untuk menjadi dosen BI di dua negara, maka harus ikut seleksi di Pusat Pengembangan Strategis dan Kebudayaan Kemendikbud.

Tesnya amat ketat. Dan selanjutnya yang lolos mendapat tugas ke berbagai negara. “Pada 2016 itu, saya baru diterima jadi dosen di Unisma dan juga lolos seleksi di Kemendikbud,” katanya mengawali ceritanya.

Atas izin Rektor Unisma Prof Dr Masykuri MSi, ia berangkat ke Thailand. Perguruan tingginya berjarak satu jam dari Bangkok.

Sedang di Uzbekistan, ia mengajar sekitar 350 mahasiswa dengan jam mengajar 19-20 jam per minggu.

“Di Uzbekistan, animo belajar Bahasa Indonesia tinggi. Namun sarana masih kurang mendukung. Misalkan buku-buku, lab dll,” paparnya.

Meski begitu, KBRI Uzbekistan sangat membuka diri bagi mahasiswa yang ingin belajar menari dan musik tradisional. Mengajar bahasa Indonesia di dua negara juga perlu membekali diri dengan bahasa setempat.

“Kalau di Thailand yang belajar bahasa Thailand sebagai pengantar. Sebab mereka tidak berbahasa Inggris,” jelas Prayitno.

Begitu juga saat mengajar mahasiswa Uzbekistan. Maka ia harus bisa sedikit berbahasa Rusia. “Bahasa Rusia dipakai sebagai selingan saat mengajar,” katanya. Minat mahasiswa belajar BI tinggi karena negara itu dikenal sebagai dengan objek wisata religi. Banyak makam imam-imam dikunjungi wisatawan Indonesia.

Sehingga mahasiswa mempersiapkan diri dengan bekal Bahasa Indonesia atau membuka biro perjalanan.

“Uzbekistan memberikan bebas visa bagi Indonesia. Karena itu, tiap minggu ada saja wisatawan Indonesia yang datang ke sana,” jelas dosen muda ini. Suka duka tinggal di negara bebas jajahan Rusia dirasakan.

“Terutama musimnya. Ada empat musim. Kalau musim panas, panas sekali. Begitu juga musim dingin,” papar alumnus S1 dari Universitas Negeri Malang ini. Ia juga merindukan nasi. Namun disana makanan utamanya roti.

“Makanya, saat Pak Rektor ke Uzbekistan saat ada MoU dengan dua perguruan tinggi di Tashkent, beberapa waktu lalu, saya senang. Saya dibawakan bumbu-bumbu dan terasi,” katanya disambut tawa. Dari sisi budaya, di Uzbek juga beda masyarakatnya.

Meski berada di Asia Tengah, namun mereka cenderung Eropa. Sehingga ia merasakan juga culture shock. Beda dengan saat mengajar di Thailand. Ia menemukan kemiripan dengan budaya Jawa, orang yang santun dll. “Bahkan saya saat Jumat diberi hari libur agar bisa sholat Jumat,” ujar Prayitno.

Hal ini karena kampus tahu jika sebagai umat Islam ia juga harus sholat Jumat. Meski ada keinginan mengajar lagi BI di luar negeri, ia juga harus mengabdi ke Unisma. Apalagi sekarang sudah ada 14 mahasiswa asing kuliah di Unisma. Yaitu empat orang dari program Darmasiswa Kemendikbud dan 10 orang mahasiswa kuliah mandiri.

Related posts