Cerita Guru Ines, Naik Perahu ke Pulau Lembeh untuk Mengajar Luring

Berbagisemangat.com – Tak ada kata lelah bagi Marike Ines Bidara, guru matematika di SMA Negeri 3 Kota Bitung yang ada di Pulau Lembeh, untuk bisa mengajar anak-anak didiknya selama pandemi corona. Enci Ines, sapaan akrab guru muda ini, bahkan rela pulang jam 11 malam, hanya untuk menyambangi satu per satu murid yang rumah mereka ada di pulau tersebut.

“Kalau hanya gunakan zoom ada batasannya. Belum lagi tidak semua anak-anak punya handphone bagus atau kuota. Selain itu, jika tidak dikunjungi, saya tidak bisa tahu perkembangan anak-anak apakah sudah mengerti dengan materi ajar. Jadi, saya berusaha beri pelajaran secara luring atau tatap muka,” ujar Enci Ines saat diwawancara manadobacirita.

Menurut anak bungsu dari lima orang bersaudara tersebut, anak-anak didik harus tetap mendapatkan pelajaran yang baik, sehingga mereka mendapatkan bekal yang cukup walaupun di tengah pandemi.

Untuk itu, dirinya memberikan diri untuk bisa tetap mengajar secara tatap muka, tetapi dilakukan dengan cara membentuk kelompok belajar kecil atau dikunjungi satu per satu di rumah mereka.

Walaupun, untuk bisa menyelesaikan kunjungan belajar itu, dirinya harus rela berangkat dari rumahnya di Kota Manado jam 5 pagi dan baru pulang jam 11 malam. Selain itu, naik perahu untuk menuju pulau lembeh harus dilakukannya, agar tidak ada satupun anak didiknya yang tidak mendapatkan pembelajaran.

“Terus terang, lebih mudah menjangkau anak-anak yang kurang paham dengan materi yang dijelaskan secara tatap muka langsung, karena komunikasi dengan siswa terjalin. Kita juga bisa memantau secara langsung sejauh mana materi dikuasai oleh siswa,” kata Ines.

Ines mengakui ada beberapa faktor yang mengakibatkan proses pembelajaran secara virtual atau daring kurang maksimal. Dikatakannya, tidak semua siswa punya akses internet yang stabil, terutama di pulau lembeh. Bahkan, diawal pandemi, tidak semua siswa punya kapasitas memori dan kuota yang cukup, sehingga cakupan siswa masih sangat sedikit.

Selain itu, proses pembelajaran via zoom masih dibatasi waktu, sehingga guru hanya punya sedikit akses untuk bertanya tentang pengalaman belajar dan pemahaman siswa.

“Faktor lainnya, tidak semua siswa terbuka dengan guru. Ada siswa yang jika tidak paham langsung menghubungi guru, tetapi banyak juga siswa yang tertutup. Walaupun sudah dihubungi, mereka mengaku sudah paham. Tapi, akhirnya tugas tidak dikerjakan,” kata Ines.

Faktor-faktor tersebutlah yang kemudian membuat Ines rela untuk mendatangi para siswanya langsung. Dikatakannya, selama pandemi, dalam satu bulan, dirinya dua kali berkunjung ke rumah siswa yang ada di seluruh kelurahan di pulau lembeh.

Memang diakuinya, masa pandemi memakan waktu ekstra adalah saat harus pembelajaran secara luring, dimana dirinya juga harus mempersiapkan metode pembelajaran yang pas agar tidak ada kendala saat sudah berada di hadapan siswa.

“Ya kami harus lebih cermat dalam memilih dan memilah materi yang sesuai dan metode pembelajaran yang tepat dengan pemberian tugas-tugas yang tidak membebani siswa,” kata Ines.

Namun demikian, Ines merasa tetap semangat. Apalagi Ines mengakui jika pandemi corona ini semuanya terdampak, sehingga dirinya juga harus bisa mengabdikan diri mengingat statusnya sebagai seorang tenaga pengajar.

Apalagi menurut Ines, dirinya bisa sekaligus mengetahui lokasi rumah siswa termasuk memahami seberapa jauh jarak rumah siswa dengan sekolah, sehingga akan lebih memahami dan mengerti situasi dari para siswa.

“Khusus untuk saya bisa juga sekalian jalan-jalan mengitari pulau lembeh yang indah,” katanya sembari tertawa.

Ines sendiri mengaku salut dengan kecakapan dan sikap tanggap dari pemerintah di masa pandemi ini khususnya di bidang pendidikan. Dirinya berharap, pemerintah bisa terus memperhatikan dunia pendidikan ke depannya, sehingga menciptakan proses pembelajaran yang bermakna dan bermanfaat untuk membangun SDM yang lebih baik.

“Satu lagi, saya dan juga guru-guru lain, berharap tentunya pemerintah selalu memperhatikan pemberian diri dan kesejahteraan guru,” kata Ines kembali.

Artikel : Kumparan.com

Related posts