Cerita Kesri, Petugas PPSU Bergaji Rp 3,6 Juta yang Hidupi Anak Yatim Piatu

Berbagisemangat.com – Di sepanjang jalan Woltermonginsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kesri (51) sedang menyapu mengumpulkan sampah.

Kesri merupakan satu di antara Petugas Penanganan Pra Sarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Saya dari tahun 80-an sudah kerja jadi petugas kebersihan. Awalnya jadi petugas kebersihan di sebuah perusahaan,” ungkapnya kepada TribunJakarta.com, Senin (10/9/2018) di lokasi.

Terlihat ia mengenakan rompi dan topi jingga yang tampak mencolok khas petugas PPSU.

Kesri menganggap jalanan yang ia bersihkan sudah dianggap menjadi rumah sendiri.

“Jadinya kayak rumah sendiri, kan kalau kotor enggak betah. Dari dulu kerjanya begini. Dari gaji murah di sebuah perusahaan sampai saya pindah dengan gaji udah gede kalau kita berhenti, Sayang. Awalnya tahun 80an gaji saya 5 ribu rupiah sampai sekarang dapat 3,6 juta,” terangnya.

Ia membersihkan jalan dari lampu merah Pasar Santa hingga Jembatan Penyeberangan STM Penerbangan di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tampak kedua tangannya tangkas menggerakkan gagang sapu lidinya kala menyapu jalanan berdebu.

“Kerja di area ini dari jam setengah lima pagi sampai dua siang, jadi petugas PPSU bukan hanya untuk menghidupi keluarga saya saja,” terangnya.

Saat berhenti menyapu, ia pun bercerita sekelumit perjuangannya demi mencukupi saudara besarnya.

Bukan saja kelima anaknya, banyak sanak saudara yang ia harus hidupi juga.

“Penghasilan saya bukan cuma untuk lima anak saya, tapi juga keponakan-keponakan. Karena mereka telah ditinggal ayah-ibunya,” paparnya.

Sambil mengusap buliran peluh yang mengalir di wajahnya, ia mengaku tak sendiri mengais rezeki.

Penghasilannya juga dibantu oleh suaminya yang bekerja sebagai sopir.

“Tanggung jawab saya berat juga, saya harus hidupi ibu saya, keponakan saya, lima anak saya, cucu juga. Keponakan saya juga sudah yatim piatu juga saya hidupi. Alhamdulilah penghasilan ini bisa diatur,”¬†kata dia.

Kini, ia dan suaminya menjadi tulang punggung saudara besarnya.

“Dua adek saya sudah tiada. Saya yang mengurusi semua. Enggak lepas tangan. Boleh tanya tetangga-tetangga saya. Harus sabar. Cobaan mungkin Allah lagi percaya sama saya dikasih rezeki,” ungkapnya.

Related posts