Curhat Pilu Kuli Bangunan, Tetap Kerja Keras di Tengah Demo dan Pandemi

Seorang kuli bangunan seketika jadi sorotan usai curhat mengenai pekerjaannya sejak pandemi hingga demo yang baru-baru ini terjadi. Hanya bisa berjuang dan bekerja keras, ia sadar tak pernah menjadi prioritas.

Sebelumnya diketahui, imbas pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR RI pada 5 Oktober 2020 lalu, berbondong-bondong mahasiswa dan buruh berdemo di berbagai kota untuk melakukan penolakan.
Namun, dari buruh-buruh yang turun ke jalan tersebut, ada yang terpaksa tak bisa meninggalkan pekerjaannya demi menghidupi istri dan anak. Adapun salah satunya kuli bangunan ini, curhat di sosial media mengenai nasibnya.
Cerita tersebut dibagikan lewat grup Facebook Kumpulan Tukang Bangunan oleh akun Papahe Nokk Risma Lagimerana, Jumat (9/10/2020). Mengunggah foto diri ketika sedang bekerja, ia kemudian menceritakan nasibnya sebagai kuli.
“Kami buruh yang gak pernah demo karena kami sadar gak ada peraturan yang pernah condong ke kami. Dari dulu kami dihina walau karya kami dikagumi. Kami dicaci walau mereka menikmati karya kami,” ujar Papahe.
Bahkan, ia mengaku terkadang bantuan tersebut tidak pernah mengarah kepada mereka, para kuli atau buruh bangunan.
“Kami kuli bangunan yang tak pernah ada jasa di mata mereka. Yang dipikirkan waktu pagebluk (wabah) corona pun tak tercantum dalam daftar penerima bantuan, tidak seperti ojol dan UMKM,” ungkap buruh bangunan tersebut.
Baginya, demo pun percuma. Pasalnya, mereka sebagai kuli terlanjur sadar tak kunjung menjadi prioritas. Mereka hanya bisa berjuang setiap harinya bekerja, demi bisa menghidupi keluarga di rumah.
Contoh malangnya nasib menjadi kuli pun diberikan Papahe, seperti misalnya mengenai prioritas penerimaan bantuan selama pandemi virus corona. Adapun perhatian itu lebih diarahkan kepada pengendara ojek online dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1513461788838732&set=gm.576717963100492&type=3

Related posts