Gara-Gara Trump, Kasus Sersan Bergdahl Berpotensi Ditutup

Berbagisemangat.com – Hakim pengadilan militer AS yang memimpin sidang pembacaan hukuman Sersan Bowe Bergdahl mengatakan saat ini masih mempertimbangkan kemungkinan untuk menutup kasus tersebut. Hal itu diungkapkannya setelah tim pembela mantan POW (tawanan perang) Taliban itu berargumentasi bahwa Presiden AS Donald Trump telah membuat situasi yang tidak mungkin bagi Bergdahl untuk menghadapi sebuah pengadilan yang adil.

Walaupun kasus Bergdahl ini berpotensi dibatalkan, hakim mahkamah militer Kolonel Jeffrey Nance memberi kesempatan kepada 3 anggota militer lainnya yang sempat mengalami luka-luka saat mencari Sersan Bergdahl untuk memberi kesaksian. Dikatakan, Sersan Bergdahl dengan sukarela meninggalkan posnya di Afghanistan sebelum kemudian tertangkap oleh pejuang-pejuang Taliban pada bulan Juni 2009.

“Di bawah sistem pengadilan militer, tidak boleh bagi seorang komandan mempengaruhi jalannya kasus atau perkara hukum, atau bahkan sekedar memanfaatkan posisinya untuk mempengaruhi sidang. Prinsip ini berlaku juga bagi presiden sebagai panglima tertinggi,” katanya awal pekan ini. Kolonel Jeffrey Nance sedang mempertimbangkan apakah komentar-komentar Trump baru-baru ini yang menganggap Bergdahl sebagai “pengkhianat” merupakan sebuah intervensi kasus atau tidak.

Pada saat berlangsung proses mendengarkan sejumlah saksi dalam sidang, seorang bekas anggota pasukan elit Navy SEAL terlihat sedih berurai air mata ketika menceritakan seekor anjingnya yang terbunuh dalam operasi pencarian & penyelamatan. Pensiunan perwira non-komisioner bernama James Hatch itu memasuki ruang sidang dengan wajah lesu dengan ditemani oleh seekor “anjing dinas”-nya yang lain.

Tidak seperti veteran lainnya yang masih hidup yang mampu menjawab pertanyaan hakim dengan tenang di pengadilan, James Hatch terlihat sangat tertekan dan menangis menceritakan kisah seekor anjing. Anjing militer Navy SEAL itu bisa membantu mengidentifikasi posisi musuh yang tak mampu diindera oleh mata dalam situasi “chaos” pertempuran. “Namanya Remco,” kata Hatch dengan suara terserak saat menyebut nama anjing kesayangannya itu.

Komandan Hatch mengatakan bahwa tim helikopter pasukannya dihujani tembakan oleh Taliban ketika tiba di lokasi dalam misi pencarian & penyelamatan di dekat perbatasan Pakistan. Di lokasi itu pula diduga Sersan Bergdahl berada. Operasi pencarian direncanakan dengan tergesa-gesa dan dengan misi tunggal, yaitu menemukan Sersan Bergdahl. Misi akhirnya dibatalkan dan Hatch mengatakan kepada pasukannya bahwa upaya pencarian Sersan Bergdahl hanya akan berakhir dengan kematian tentara-tentara Amerika.

Setelah helikopter mendarat, satu unit pasukan Navy SEAL kembali dihujani tembakan sementara si Remco anjing militer menjadi scout berlari di depan pasukan melewati sebuah area terbuka mirip gurun. Ternyata arah yang dituju Remco adalah posisi 2 pejuang Taliban. Tak menunggu lama, kedua pejuang Taliban itu langsung menghamburkan timah panas dari moncong Kalashnikov ke arah pasukan elit korps marinir Amerika tersebut. Si anjing Remco tewas diterjang peluru, sementara Hatch sendiri terkena luka tembak di salah satu kakinya.

“Saya terus berteriak menahan sakit. Luka saya sangat parah…(dan) saya mengira saya akan mati,” kata Hatch memberikan kesaksian.

Saksi lainnya, Kapten John Billings adalah komandan pleton Bergdahl. Billings menggambarkan operasi pencarian dilakukan tidak lama setelah Bergdahl hilang di gurun Afghanistan yang ia akui situasinya sangat panik dan mencekam.

“Sepuluh hari berikutnya keadaan seperti tidak menentu. Semua orang (Amerika) di Afghanistan terus mencari di mana Bergdahl berada,” katanya.

Pembacaan vonis untuk Sersan Bergdahl akhirnya ditunda disebabkan oleh beberapa komentar Trump, termasuk pernyataan radikal Trump terbaru yang secara langsung menyebut Bergdahl sebagai “pengkhianat busuk yang kotor”. Menurut Trump, lelaki asal Idaho (Bergdahl) itu seharusnya dieksekusi di depan regu tembak, atau dijatuhkan dari pesawat tanpa menggunakan parasut.

Sersan Bergdahl tertangkap pada tahun 2009 setelah pergi meninggalkan posnya yang kemudian mendorong upaya pencarian besar-besaran oleh militer. Sedikitnya 6 tentara AS dilaporkan tewas terbunuh dalam misi itu. Meskipun demikian, soal angka korban tewas selalu menjadi perdebatan oleh pihak-pihak yang kerap mengkambinghitamkan sulitnya situasi di wilayah zona perang.

Setelah melalui berbagai peristiwa dramatis, Bergdahl akhirnya dibebaskan Taliban pada tahun 2014 di bawah kesepakatan pertukaran tawanan dengan 5 tokoh Taliban yang ditahan di penjara Guantanamo. Dari segi jumlah tawanan yang dibebaskan, paling tidak skor 5-1 untuk Taliban.

Related posts

Leave a Comment