Hijrah Pendulang Emas Ilegal

Berbagisemangat.com – Ini kisah hijrah Ahmad Syarif. Pemuda 24 tahun asal Desa Pacakan, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, ini semula menjadi pendulang emas ilegal. Profesi ini digeluti sejak lulus SMA.

Setiap hari, Syarif mengantongi uang minimal Rp200 ribu sampai Rp500 ribu. Sayangnya, aktivitas ini dijalankan secara ilegal. Pemerintah setempat juga menyatakan aktivitas penambangan liar menjadi pemicu kerusakan lingkungan.

Tetapi, itu sudah menjadi masa lalu bagi Syarif. Sekarang, dia menduduki jabatan sebagai Kepala Urusan Pemerintahan Desa Pacakan. Dia sudah meninggalkan profesi lamanya sebagai pendulang emas ilegal.

Syarif mengakui profesi sebagai pendulang emas memberikan pendapatan cukup besar. Sayangnya, dia tidak merasa nyaman dengan pekerjaan itu.

” Saya pikir kerjaan seperti itu walaupun dapat uangnya besar, tapi tidak menambah pengalaman, karena kerjanya cuma di dalam hutan,” ujar Syarif.

 Syarif

Jengah dengan profesi itu, Syarif memutuskan berhenti dan mencari pekerjaan lain. Dorongan orangtuanya untuk mengubah pola hidupnya membuat Syarif bersemangat untuk alih profesi.

Awal 2014 setelah lulus SMAN 1 Kusan Hulu, Syarif mendaftar sebagai santri Rumah Gemilang Indionesia. Di lembaga pendidikan ketrampilan di bawah naungan LAZ Al Azhar ini, Syarif menempa diri di bidang Aplikasi Perkantoran.

Selama di RGI, Syarif memperoleh ilmu administrasi yang belum pernah dia dapat sebelumnya. Dia belajar cara surat-menyurat, membuat presentasi, menyusun laporan, membuat agenda kantor, mengarsip data, serta mengelola laman web dan menulis kreatif.

Lulus dari RGI, Syarif kembali ke kampung halaman. Dia segera diminta bekerja di bagian tata usaha oleh salah satu pegawai kantor desa.

” Dari pertengahan 2014 sampai Maret 2016 saya menjadi tata usaha di desa,” kata Syarif.

 Syarif

Selama bekerja, Syarif juga belajar seluk beluk administrasi perkantoran dari pegawai lain. ” Serta dari kepala seksi pemerintahan di kecamatan,” ucap dia.

Dari pengalaman itu, Syarif mencoba membuat rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa serta RKPDes bersama sarjana motivator desa, Suko Harto. Sejak 2008 hingga 2016, Suko Harto mengurusi administrasi Desa Pacakan.

Pada 2016, jabatan Kaur Pemerintahan Desa Pacakan kosong lantaran pejabat sebelumnya mengundurkan diri. Syarif diminta kepala desa mengisi posisi tersebut.

Syarif merasa bersyukur dengan pencapaian yang diraihnya hingga saat ini. Syarif pun menyadari apa yang dia dapat merupakan hasil dari belajar di RGI.

” Semua itu tidak akan pernah terjadi kalau saya tidak belajar di RGI dan belajar tentang Microsoft Office, karena di kampung saya masih minim orang yang bisa mengoperasikan komputer,” kata dia.

Syarif rela menempuh perjalanan jauh dari rumahnya demi belajar di kampus RGI yang terletak di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Kini, dia merasa senang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.

” Saya sangat berterima kasih kepada RGI atas ilmu yang bermanfaat ini. Akhirnya, saya bisa mengabdikan diri kepada desa saya berkat ilmu yang saya dapat dari RGI,” tutur dia.

Related posts