Perjuangan Anak Pedagang Angkringan Berbuah Cumlaude

Berbagisemangat.com — Angkringan, sebuah tempat makan yang jauh dari kata mewah. Para pedagangnya kerap hanya menyajikan gorengan, nasi kucing, dan sejumlah lauk dengan harga sangat miring.

Tapi, angkringan justru merupakan sumber pendapatan utama bagi wong cilik, khususnya di Yogyakarta. Dan angkringan menjadi lambang sebuah perjuangan hidup tanpa mengenal kata menyerah pada nasib.

Hal itulah yang coba ditunjukkan oleh seorang lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nurasih. Saat diwisuda pada Sabtu, 21 Oktober 2017 lalu, selempang hijau bertuliskan ‘Terbaik’ terpasang menyilang di baju toga yang dia kenakan.

Meski anak pedagang angkringan, gadis ini lulus dengan prestasi Cumlaude. Dia berhasil mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif 3,94.

Nurasih mengatakan pendidikan merupakan salah satu jalan baginya untuk mengangkat derajat ibu dan keluarganya. Dia ingin membuktikan pada khalayak pendidikan adalah hak semua orang, termasuk bagi mereka yang tergolong miskin.


 Nurasih

Nurasih Sarjana Cumlaude Asal Yogyakarta (muhammadiyah.or.id) meraih IPK 3,94 ketika lulus dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY.

” Pendidikan bukan untuk mereka yang mampu, tapi mereka yang mau,” kata Nurasih, dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Sang ibu, Sujeti, bukanlah orang mampu. Dari usaha angkringan yang dia jalankan, Sujeti hanya mampu meraih keuntungan sebesar Rp30-40 ribu.

Untuk membiayai kuliahnya, Nurasih tidak mau merepotkan sang ibu. Nurasih juga tercatat sebagai mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi UMY tahun 2013 yang sangat membantunya dalam menjalani kuliah.

Meski begitu, bukan berarti Nurasih hanya kuliah tanpa membantu ibunya. Sejak 2014, dia bekerja paruh waktu di salah satu biro penjualan tiket perjalanan di Kota Pelajar itu.

Upah yang dia terima memang tidaklah besar. Tetapi, Nurasih mengaku bersyukur dan berbangga karena bisa sedikit meringankan beban ibunya.

Please follow and like us:

Related posts

Leave a Comment