Kisah Sopir Bus Sangar Hidupi Madrasah dari Jalanan

Berbagisemangat.com – Hari masih remang-remang tanah saat bus malam ‘Rasa Sayang’ dari Mataram tiba di Terminal Dara, Bima, Nusa Tenggara Barat. Wajah-wajah kuyu bermunculan, menggambarkan lelah usai menempuh perjalanan 460 kilometer selama 10 jam.

Di balik pintu kemudi, turun seorang lelaki. Perawakannya tinggi besar, rambut gondrong dan wajah tegas. Seuntas syal merah melingkar di leher. Topi pet menempel di kepala. Sorot matanya masih tajam.

Pria yang penampilannya bikin nyali orang ciut itu adalah Muhammad Saleh Yusuf atau kerap disapa Bang Alan, si sopir bus. Subuh itu tugasnya selesai. Ia kembali ke kosan yang tak jauh dari terminal.

Tak cukup waktu buat pulang ke rumah, jaraknya makan waktu banyak. Paling dua pekan sekali bisa balik ke kampung. Di kamar kos, tidurnya pun tak bisa berlama-lama. Sebelum ba’da Ashar, ia kembali ke terminal, narik lagi. Begitu saban hari.

Di balik wajah sangar Bang Alan–banyak yang mengira dia preman–dan kerasnya pekerjaan dengan upah tak seberapa itu, ternyata menyimpan kisah hidup sangat inspiratif.

Ya, di tengah kondisi ekonomi serba terbatas. Ia tetap gigih memperjuangkan pendidikan anak-anak kurang mampu.

 alan

Muhammad Saleh Yusuf

Mendirikan Sekolah Gratis

Alan pada 2009 nekat mendirikan sekolah gratis Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darul Ulum di kampung halamannya, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bermodalkan uang tabungan dan tanah warisan orangtua, pria yang dulunya kernet truk itu mendirikan bangunan sekolah sederhana di Dusun Tololai, Desa Mawu.

” Tanah itu sebetulnya untuk naik haji, namun saya meyakinkan, kalau dijadikan sekolah, nanti Bapak dan Ibu meninggal akan lebih sejahtera di alam sana,” kata pria kelahiran Mawu, Nusa Tenggara Barat 1 Juli 1973 ini.

Niat mulianya itu berawal dari keprihatinan Alan. Melihat kesenjangan pendidikan antara anak-anak di Bima dengan kota-kota besar. Sungguh timpang.

Alan sangat prihatin melihat kondisi anak-anak terutama di Desa Tololai, yang banyak putus sekolah. Ia pun bertekad mengubah nasib anak-anak itu. Mendirikan sebuah sekolah. Meski bangunan dan fasilitas seadanya.

 alan

MIS Darul Ulum

Bangunan sekolah sederhana yang hanya terbuat dari kayu, bambu dan rumbia itu mulanya membuka tiga kelas dengan 9 orang siswa. Cukup sulit bagi Alan untuk meyakinkan keluarga di sana agar mau menyekolahkan anak-anak mereka, meski sekolah tersebut digratiskan.

Banyak orangtua ragu pada sosok Alan yang penampilannya dianggap lebih mirip preman ketimbang pendidik. Namun Alan tak patah arang. Berbagai cara coba dilakukan, demi menarik minat para anak dan orangtua.

” Banyak yang tak percaya karena penampilan saya. Tapi, ya saya memang hidup di jalan. Banyak menghadapi preman, kalau tampang kaya gini mana berani dia minta,” kata Alan menjelaskan di balik penampilan yang membuat orang tidak percaya.

Pontang-panting Mencari Dana

Akhirnya, tak hanya menggratiskan biaya sekolah, berbagai perlengkapan sekolah seperti baju seragam, buku, tas hingga sepatu ia gratiskan. Alan lalu membuat program studi khusus di luar jam belajar, di mana anak-anak diajarkan bercocok tanam. Dan anak-anak yang mau bergabung akan dijanjikan upah.

Hebatnya, semua itu dibiayai Alan sendiri, meski penghasilan dia tak seberapa sebagai sopir bus malam. Pendapatan narik Rp3-4 juta saban bulan ia sisihkan. Diatur betul-betul agar mampu menutupi semua biaya kebutuhan sekolah. Termasuk menanggung gaji para guru.

Perlahan, pengorbanan Alan mulai membuahkan hasil. Selang beberapa tahun usai sekolah beroperasi, aktivitasnya mulai diketahui banyak orang di luar Mawu. Cerita tentang pengabdian pria 45 tahun ini menyebar luas.

Dia sampai mendapat anugerah pendidikan dari sebuah lembaga di Jakarta. Bahkan, juga diundang ke acara talk show Kick Andy pada 2015 silam.

Sayangnya, meski Alan sudah dikenal, tak banyak yang berubah dari MIS Darul Ulum. Bangunannya masih tetap beratap seng, dindingnya dari bedek dan papan. Lantainya juga masih tanah, hanya sebagian saja yang telah disemen.

Alan masih harus sendirian menanggung biaya operasional sekolah. Tak banyak uluran tangan yang didapat dari pihak luar. ” Pernah ada tim (Kanwil) Kemenag NTB datang dan menjanjikan bantuan. Tapi, sampai sekarang belum ada kabar,” ungkap Sutiamin, Kepala MIS Darul Ulum.

Jadilah, Alan yang tetap harus pontang-panting mencari dana agar MIS Darul Ulum bisa tetap beroperasi. Ia sampai memilih berhenti menjadi sopir bus agar bisa fokus mengembangkan usaha di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. ” Semua akan saya lakukan agar sekolah tetap jalan,” kata Alan.

‘Saya Tak Mengejar Materi’

Menariknya, di sela kesibukannya mencari biaya operasional sekolah, sesekali Alan masih menyempatkan diri mengajar langsung para siswanya. Alan yang cuma lulusan SMA itu biasanya mengajar mata pelajaran agama. ” Kalau pas ke sekolah juga saya manfaatkan untuk menyemangati para guru,” ujar Alan.

Ya, semangat itu tampaknya sukses ditularkan Alan pada para guru Darul Ulum. Buktinya, meski sudah bertahun-tahun bekerja di sekolah sederhana dengan gaji tak seberapa, mereka memilih bertahan.

Padahal, setiap bulan mereka hanya menerima bayaran sebesar Rp120 ribu dari yayasan yang dipimpin Alan. Ditambah, tiga bulan sekali para guru mendapat gaji dari dana BOS masing-masing Rp350 ribu.

” Gaji yang kami terima memang kecil. Tapi, ini kami anggap sebagai pengabdian kepada generasi mendatang,” kata Sutiamin.

Alan mengakui masih banyak kekurangan dari sekolah yang didirikannya. Namun, meski begitu, ia berharap sekolah ini bisa menjadi jalan awal anak-anak Desa Mawu menuju masa depan cemerlang.

” Saya tak mengejar materi. Saya hanya ingin anak-anak di desa ini jadi ‘orang’ nantinya,” ujar dia.

Please follow and like us:

Related posts