Kisah Tunanetra yang Didiskriminasi Keluarga Kini Sukses Jadi Terapis

Berbagisemangat.com – Disabilitas tak menjadi penghalang seseorang untuk mandiri dan berdaya secara ekonomi. Seperti wanita asal Jawa Tengah ini. Wanita tuna netra ini mampu membuktikan pada masyarakat bahwa ia bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja, bukan mengemis.

Munsiah mengalami keterbatasan fisik sejak lahir. Ia tak bisa melihat dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari keluarganya sendiri. Terlahir sebagai satu-satunya tuna netra di keluarga, Munsiah kerap kali diperlakukan berbeda oleh kedua orangtuanya.

“Kemana-mana saya dilarang, yang lebih menyedihkan lagi sering kalau ada tamu di rumah terus saya disuruh ngumpet dulu. Mereka menyembunyikan saya. Saya sering mendapat perlakuan diskriminatif,” cerita Munsiah kepada Wolipop di Lewis and Carroll, Kebayoran, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Kisah Tunanetra yang Didiskriminasi Keluarga Kini Sukses Jadi TerapisMunsiah, terapis tunanetra. Foto: Anggi Mayasari/Wolipop

Diperlakukan berbeda di keluarganya, wanita asal Kebumen ini memiliki prinsip harus mandiri dan tak ingin bergantung pada orang lain.

“Entah bagaimana pokoknya saya harus bisa mengumpulkan uang. Kemudian saya masuk sekolah braille dan massage gitu di Purworejo, dan lulus dalam waktu dua tahun,” jelas Munsiah.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Angkie Yudistia yang Bantu Para Difabel Berdaya Ekonomi

Setelah lulus dan memiliki keterampilan sebagai ahli terapis, Munsiah hijrah ke Jakarta pada 2000. Ia kemudian berbagung dengan Thisable Enterprise, sebuah social enterprise yang memiliki misi memberdayakan penyandang disabilitas Indonesia secara ekonomi di dunia kerja.

Kisah Tunanetra yang Didiskriminasi Keluarga Kini Sukses Jadi TerapisMunsiah, terapis tunanetra. Foto: Anggi Mayasari/Wolipop

Wanita kelahiran 1976 ini kini tergabung dengan GoLife, salah satu jasa yang ditawarkan dari GO-JEK untuk massage atau pijat. Setiap harinya Munsia bisa mendapatkan empat sampai lima pesanan yang bisa membantu mencukupi kebutuhan hidupnya.

“Lumayan itu bisa membantu, karena suami saya juga baru dapat kerja. Saya juga ngajar terapis di sebuah yayasan,” ujar ibu satu anak ini.

Pekerjaan yang digeluti Munsiah tak selalu berjalan mulus dan lancar. Sebagai difabel, Munsiah juga sering mendapat penolakan dari pelanggannya yang membuat dirinya merasa tak dihargai.

“Sekarang ini setelah ada profil tuna netra jadi banyak mereka yang cancel. Mereka nggak percaya dengan kemampuan kami. Pernah juga sudah ada di depan pintu langsung di-cancel dan ditolak. Sedih dan campur aduk, merasa nggak dihargai,” terang Munsiah.

“Cuma yakin saja, nggak semua orang tega dan jahat, pasti ada kok orang baik, berpikir positif,” tambahnya.

Wanita yang tinggal di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat ini juga menambahkan meskipun dirinya tak bisa melihat, ia masih bisa menggunakan tubuhnya yang lain untuk bisa berdaya secara ekonomi, mandiri, dan tak bergantung pada orang lain.

Please follow and like us:

Related posts