Masjid Perjuangan, Saksi Bisu Kiprah Perintis Kemerdekaan Asal Garut

Berbagisemangat.com – Dilihat sepintas tidak ada yang aneh dengan masjid di Jalan Ciledug, Garut, Jawa Barat, yang satu ini. Berada di tengah pusat keramaian kota kabupaten Garut, bangunan beton satu lantai itu, seperti biasa ramai dengan pengajian warga.

Terlihat angka 1925 di kedua bidang bangunan bagian atas masjid menandakan tahun pembangunan. Namun siapa sangka, bangunan tua berkelir cat krem ini, adalah saksi sejarah warga Garut dalam pergerakan kemerdekaan melawan penjajah Belanda, hampir seabad yang lalu.

“Dulu di masjid ini selain tempat keagamaan, juga sering diadakan rapat kemerdekaan, tempat pendidikan politik warga sekitar,” ucap KH Kamil, pengelola Masjid Perjuangan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia Al Mushthofa, membuka pembicaraan, saat ditemui Liputan6.com, Kamis, 24 Mei 2018.

Pria 73 tahun itu mengatakan, masjid ini pertama kali dibangun oleh KH Mustofa Kamil, ayahnya sendiri, sekitar tahun 1925. Ulama karismatik sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan asal Garut itu membangun masjid baru sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda.

Awalnya sang kiai mengajar pengajian dan kegiatan agama lainnya di Masjid Agung Garut yang berada di alun-alun kota. Namun, pola pendidikannya yang dinilai mengancam kedaulatan Belanda, akhirnya Bupati Garut saat itu, Raden Surya Karta Legawa–yang dianggap pro penjajah–mengekang seluruh kegiatannya.

Mulai larangan menerjemaahkan Alquran ke dalam bahasa Indonesia, kemudian keharusan mengagungkan bupati dan petinggi Belanda, hingga larangan jangan membicarakan soal kemerdekaan Indonesia. “Kalau tidak (patuh), penjara bagiannya,” dia mengingatkan.

Tak terima dengan perlakuan itu, akhirnya sang kiai menanggalkan seluruh aktivitas keagamaannya di Masjid Agung. Ia kemudian membuat masjid baru sebagai sarana perjuangan. “Seluruh biaya dan pembangunannya dilakukan sukarela,” katanya.

Ia menuturkan, awalnya sang ayah tidak berencana membangun masjid baru di Garut tersebut. Namun, sikap intervensi itulah yang akhirnya mengubah seluruh jalan hidup kiai.

“Karena dalam pengajiannya selalu mengorbarkan perjuangan melawan penjajah dan Belanda tidak senang itu,” kata dia.

(Berbagisemangat.com – Liputan6)

Please follow and like us:

Related posts