Kejar Cita-cita, Siswa Kelas V SD Ini Tak Malu Jualan Pastel

Berbagisemangat.com – Jika anak seusianya masih asik bermain selepas sekolah, maka Firman (11) menghabiskan waktunya berjualan jalangkote atau pastel. Mulai sore hingga larut malam, murid kelas V SD itu berkeliling berjalan kaki menjajakan jualannya dari satu tempat ke tempat lain.

Semangatnya yang besar untuk terus bersekolah demi meraih cita-cita membuat ia harus berjuang keras. Tak jarang, ia berjalan kaki hingga lima kilometer setiap harinya demi membantu ekonomi orang tuanya dan bekal biaya bersekolah bersama adik-adiknya.

“Masih banyak anak yang lebih malang dari saya. Mereka tidak bisa sekolah karena tidak mampu. Saya bersyukur, karena saya masih bisa sekolah dan bisa membantu ibu saya dengan cara ini,” kata Firman saat ditemui detikcom, Jumat (30/3/2018).

Bocah yang gemar dengan pelajaran matematika ini, mengaku tidak pernah malu dicibir. Justru, ia merasa bahagia bisa membantu keluarganya. Setiap harinya, ia membawa 150 biji jalangkote seharga Rp 1000/bijinya. Jika beruntung, maka Firman bisa membawa uang Rp 150 ribu/hari.

“Yang buat jalangkote ini nenek saya, jadi saya tidak diupah. Saya hanya dikasi uang lebih untuk jajan kalau ke sekolah. Kadang juga nenek saya kasi sepuluh ribu setiap saya pulang menjual,” ucap anak yang bercita-cita jadi polisi ini.

Uang lebih dari penjualan itulah yang kadang ia kumpulkan untuk membeli perlengkapan sekolah sendiri tanpa harus meminta ke ibunya. Namun, jika ibunya memerlukan uang, maka uang celengannya itu tidak jarang ia berikan ke ibunya.

Sejak ayahnya, Haruddin meninggal 3 tahun lalu, ibunya juga harus bekerja untuk menghidupi tujuh anaknya. Lina kini bekerja sebagai tukang masak di salah satu rumah makan di Maros dengan penghasilan di bawah Rp 1 juta/bulannya.

Sementara kakak tertua Firman, Fajar (18) yang baru lulus SMA, hari-harinya sebagai marbut/penjaga masjid. Ia pun kerap membantu ibunya bekerja apa saja. Firman mengaku, ibunya tidak pernah memaksa atau bahkan menganjurkan anak-anaknya untuk membantu dirinya.

“Saya tidak pernah disuruh jualan begini, saya sendiri yang mau karena saya mau bantu orang tua dan nenek saya. Saya tidak mau susahkan mereka. Sekali-kali saya ajak adik saya yang baru kelas 2 SD,” sebutnya.

Bagi warga yang sudah sering nongkrong di seputaran kantor Bupati Maros dan kawasan Kuliner Pantai Tak Berombak (PTB), suara khasnya menjajakan jalangkote, sudah pasti mengenal anak yang penuh semangat ini. Jalangkotenya pun laris manis, karena ia sangat pandai bergaul.

“Saya sangat salut dengan anak ini. Semangatnya layak kita contoh. Masih kecil-kecil, tapi dia sudah pintar mandiri. Orang di sini sudah kenal dia karena teriakannya saat menjajakkan jualannya itu unik,” kata seorang warga, Syamsir.

Related posts