Kisah 5 Penyandang Autis Yang Sukses Dan Menjadi Sosok Inspiratif

Berbagisemangat.com – Istilah autisme pertama kali digunakan oleh Leo Kanner, seorang ahli psikologi. Ia menyorot beberapa aspek dalam autisme, di antaranya terkait keterbatasan dalam berinteraksi, lebih spesifik yaitu gangguan dalam berbahasa.

Berdasarkan analisis tersebut, penyandang autis tampaknya memang memilki beberapa keterbatasan. Tapi, apakah keterbatasan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dilampaui? Benarkah seorang penyandang autis tidak bisa berperan dalam masyarakat?

Tampaknya, para penyandang autis di bawah ini akan meruntuhkan persepsi-persepi itu. Mereka telah membuktikan kepada masyarakat dunia bahwa penyandang autis mampu berperan bagi masyarakat, bahkan bisa saja melebihi apa yang bisa dilakukan!

1. Prof. Mary Temple Grandin, Si Pecinta Hewan

Mary Temple Grandin, divonis autis sebelum usianya genap tiga tahun, ia memiliki masalah pada perkembangan saraf kompleksnya. Namun, itu tidak membuatnya berkecil hati dan putus asa.

Grandin berhasil menjadi profesor di bidang ilmu hewan di Colorado State University. Selain itu, ia juga menulis sepuluh buku tentang hewan dan perilaku manusia. Salah satu bukunya adalah “Animal Makes Human” yang terbit tahun 2009.

Tahun 2010 ia masuk dalam daftar tahunan 100 orang paling berpengaruh di dunia, dalam kategori “Heroes”. Di tahun yang sama, HBO membuat film yang inspiratif “Temple Grandin” yang sutradarai oleh Scott Ferguson.

Film tersebut menceritakan bagaimana Grandin menjalani dan melewati masa-masa sulit sebagai penyandang autis, sampai akhirnya ia berhasil meraih gelar profesor.

2. Matt Savage “Mozzart of Jazz”: Pianis yang Baik Hati

Matt Savage lahir 1992, divonis menderita autis saat usia tiga tahun. Tumbuh dengan keterbatasan, ternyata tidak membuatnya patah semangat untuk hidup.

Savage sangat piawai bermain piano. Kepiawaiannya itu membuat ia menjadi musisi jazz yang disegani. Bahkan Dave Brubeck, Legenda Jazz itu, menyebut Savage dengan julukan “Mozart Of Jazz”.

Savage pun memiliki kepedulian tinggi kepada sesama. Buktinya, hasil penjualan dari tiga albumnya kemudian ia sumbangkan bagi para penyandang autis.

3. Daniel Tammet: “Brainman” Si Penulis yang Laris

Daniel Tammet pada tahun 2004 menulis sebuah buku yang menggugah perhatian dunia, “Born On A Blue Day”. Buku yang laris setengah juta eksemplar itu menceritakan tentang kehidupan penulisnya sebagai penyandang autis. Pada tahun 2005 buku tersebut dijadikan film dokumenter, “Brainman”. Atas film itulah Daniel dijuluki “Brainman”.

4. Oscar Yura Dompas, Sang Penakluk Autis

Di Indonesia ada nama Oscar Yura Dompas. Oscar membuktikan bahwa para penyandang autis pun berhak dan bisa menjalani pendidikan tinggi dengan baik.

Oscar berhasil menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, dengan pencapaian yang membanggakan. Capaiannya itu kemudian membuat lambaga rekor MURI Indonesia merasa perlu menganugrahinya pengahargaan.

Selain itu Oscar juga menulis “Autistic Journey” dan “The Life Of the Autistic Kid Who Never Give Up” pada tahun 2004. Buku tersebut berisi motivasi dan inspirasi tentang hidup yang harus dijalani meski mengidap autis. Bukunya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Menaklukkan Autis”.

5. Satoshi Tajiri dan Games Pokemon

Apakah kamu pernah mondar-mandir, menyusur jalan atau gang-gang kecil, akhirnya mendapati diri tersesat di dalam sebuah masjid, demi berburu Pokemon? Tapi, tahukah kamu bahwa pengusaha game tersebut adalah seorang penyandang autis?

Satoshi Tajiri lahir 1965, mengalami sindrom asperger, penyakit yang masuk ke dalam spektrum autisme. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi menghambatnya menjadi seorang pengusaha sukses.

Satoshi menciptakan salah satu waralaba video games asal Jepang yang populer di dunia, seperti Game Freak, Inc dan salah satu produk terlaris mereka adalah game Pokemon. Waralaba media ini merayakan ulang tahunnya yang ke sepuluh pada tanggal 27 Februari 2006.

Pada 23 April 2008, omset penjualan permainan video Pokemon telah mencapai 180 juta kopi. Dengan pencapaiannya tersebut Satoshi membuktikan bahwa penyandang autis pun bisa sangat sukses secara finansial.

Itu tadi sederet penyandang autis yang begitu inspiratif. Stigma bahwa para penyandang autis tidak bisa berperan tampaknya semakin tidak layak untuk kita pertahankan.

Nyatanya, mereka dapat melampui keterbatasan itu, berkarya dan bermanfaat bagi dirinya serta sesama, sesuatu yang bahkan bagi orang yang merasa ‘normal’ pun belum tentu mampu melakukannya.

Kiranya, bukan hanya lima orang tadi, tapi masih banyak para penyandang autis di luar sana yang juga sukses dalam ruangnya masing-masing tanpa kita ketahui. Jadi, adakah cerita inspiratif lain tentang mereka yang bisa kamu bagi?

Related posts