Kisah Akbar Wibriansyah, Mendadak Jadi Dokter Serba Bisa Saat Tangani Korban Gempa Sulteng

Berbagisemangat.com – Akbar Wibriansyah (29) seorang dokter umum yang sedang menjalani stase untuk menjadi spesialis saraf. Selama setahun ini, dia akan mendatangi berbagai daerah.

Tepat bulan Oktober, giliran di RSUD Undata, Palu yang dikunjungi. Jadwal itu bertepatan dengan dibutuhkannya banyak tenaga medis pascagempa dan tsunami di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah. Akbar menjadikan kesempatan ini pengalaman yang paling berharga.

Sebanyak 109 korban menjadi pasien RSUD Undata. Banyak jumlah pasien yang masuk tak sebanding dengan dokter yang sedang berjaga. Di situ, Akbar mendadak menjadi dokter serba bisa.

Betapa tidak, saat kejadian cuma ada empat dokter. Selebihnya, mahasiswa koas atau ko-asisten.

“Ada dokter IGD dua orang, satu saya sebagai residen saraf. Ditambah satu lagi dokter,” ucap dia ketika berbincang, Sabtu (6/10).

Di hari pertama, pasien yang dirawat rata-rata mengalami patah tulang. Sebenarnya itu bukan kewenangannya. Tapi dalam keadaan darurat, mau tidak mau itu menjadi tanggung jawabnya.

“Kalau jadi dokter bisa semua. Cuma kalau bedah saraf saya cuma operasi otak sama tulang belakang ibaratnya udah bukan kompetensinya lagi. Tapi kita pernah mengerjakan itu,” ucap dia.

Contohnya, kala menangani beberapa pasien yang mengalami patah di saluran kencing.

“Orang pasang selang kencing biasa. Banyak yang patah di saluran kencing berarti kita kan gak bisa pasang selang. Kita harus tusuk di kantung kecing. Dimasukan kateter. Itu saya seumur hidup belum tanganin, akhirnya karena tidak ada dokter saya kerjain aja,” cerita dia.

Tercatat yang ditangani pada hari pertama sekira 30 pasien. Selain itu cerita yang mungkin tidak dapat terlupakan yakni keberanian mahasiswa koas yang totalnya 100 orang. Mereka terpaksa menangani pasien yang sebetulnya bukan bagian dari kompetensinya.

Tapi, bagi Akbar itu sesuatu yang wajar sebab kondisinya sedang darurat.

“Hari pertama belum ada tim yang lain. Ini kebanyakan masih ko-asisten KOAS. Mereka harusnya belum boleh pasang infus. Jadinya belum punya izin melakukan tindakan apapun. Tapi kan mereka sesuai prosedur. Dia juga udah ujian sebelum KOAS,” papar dia.

Abdi mengaku, tidak dapat menggambarkan perasaan terkait berbagai tindakan selama berada di RSUD Provinsi tersebut.

“Rasanya kalau dokter bedah begitu ketemu tindakan seneng banget. Dulu kita pernah mengerjakan cuma gak ada kesempatan. Misalnya semasa KOAS
pengen bikin ini tidak dikasih, sekarang dapat. Jadi ungkapannya seneng, seneng, sedih, ngeri-ngeri sedap gitulah,” ujar dia.

Tapi yang selalu diingatnya pengalaman ini menjadi bukti sudah berhasil di dunia kedokteran.

“Saya akan kasih tau bisa macam-macam yang harusnya bukan bagian dari kerja saya dan sampai seterusnya gak akan kerjain itu,” ungkapnya bangga.

Related posts