Kisah Inspiratif Bos Bayusvara, Efek Pandemi Banting Setir Jual Sayur Omzet Rp30 Juta

Berbagisemangat.com – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mempengaruhi beberapa lini bisnis. Termasuk di dunia hiburan, konser yang sifatnya berkerumun, menjadi ditiadakan. Beberapa bisnis di bidang tersebut, sebagian mengalami collapse. Sebagian yang lain, tetap berjuang demi menutupi kebutuhan dan menyejahterakan karyawannya.

Sebuah motivasi hadir dari kisah inspiratif seorang ‘Bos Sound System’ di dunia entertainment. CEO Bayusvara, perusahaan penyewaan sound system kenamaan untuk konser, Bayu Fajri Hadyan mengaku sebelum pandemi bisa meraup keuntungan sekitar Rp200 juta per bulan.

Namun kini bisnis lesu dan tak mendapat untung. Bayu akhirnya berani banting setir menjadi penjual sayur. Tak disangka, dari modalnya yang tidak mencapai Rp1 juta, kini dia bisa memiliki omzet sekitar Rp30 juta.

Selama pandemi Covid-19, banyak lini bisnis terpaksa berhenti beroperasi. Termasuk juga perusahaan milik Bayu Fajri Hadyan. Selama ini perusahaan Bayusvara yang dimilikinya, menjadi langganan para artis kenamaan selama konser. Sebut saja Barasuara, NTRL, Efek Rumah Kaca, dan masih banyak lagi.

Dilansir dari akun Instagram @Sekolah pebisnis, usaha penyewaan sound system-nya kini tak bisa menghasilkan uang sama sekali. Padahal selama ini, Bayu bisa meraup keuntungan sekitar Rp200 juta per bulan. Bukan merundung untuk meratapi nasib, Bayu akhirnya mencoba memutar otak supaya bisa mencukupi kebutuhan.

Sebuah inovasi muncul, Bayu mulai membuka bisnis baru bernama Segarsvara. Jasa pemesanan bahan makanan online atau bisa disebut tukang sayur online. Dia memulai sejak bulan April, setelah PSBB diberlakukan di Jakarta.⁣

⁣Melalui jasanya ini, Bayu menerima pesanan sayuran hingga sembako, mengemasnya, dan langsung mengantarkan ke rumah pelanggan.⁣ Tak segan-segan, Bayu selalu ikut terjun langsung ke pasar dan pengepul untuk mendapat kualitas sayur yang terbaik.

Usaha barunya ini tidak memakn modal cukup besar. Diakui Bayu, modal yang dibutuhkan hanya untuk urusan branding Segarsvara, mulai dari cetak stiker hingga seragam karyawan. Jika ditotal, perkiraan tidak lebih dari Rp1 juta.

“Hampir 0 ya kayaknya. Saya keluarin uang nggak sampai Rp 1 juta pas awal. Paling hanya biaya untuk branding aja cetak stiker, seragam karyawan, beli barang-barang buat kemasan,” kata Bayu seperti dikutip dari @sekolahpebisnis.

Usaha barunya ini berhasil menyelamatkan para karyawan dari keterpurukan. Setiap bulannya Segarsvara bisa mendapatkan antara Rp20-30 juta. Bahkan saat bulan puasa lalu, keuntungannya bisa menyentuh Rp70 juta.

Tentunya Bayu tidak sendiri dalam memulai. Dia membutuhkan karyawan untuk menerima pesanan, membeli pesanan, mengemas sayur, dan mengantar barang.⁣ Diatetap mempertahankan karyawan lama untuk ikut kerja bersama di lini bisnis yang berbeda.

“Kami cuma memanfaatkan seluruh infrastruktur yang ada dari rental sound system, termasuk mempekerjakan karyawannya,” ujar Bayu.⁣

Meski tidak sebesar pendapatan sebelumnya di perusahaan Bayusvara. Setidaknya, dia mengaku keuntungan jadi tukang sayur bisa memenuhi semua kebutuhan pribadi dan perusahaan.

Sejauh ini, perusahaan Segarsvara bisa mendapatkan sekitar 25 pesanan per hari. Berbagai wilayah yang dicakup, meliputi Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Depok.

Di balik perjuangan bangkitnya Bayu membangun usaha baru, ada proses yang patut dihargai. Tak ayal hal ini menjadi inspirasi bagi orang lain untuk ikut bersemangat, meski sempat bisnisnya terpuruk.

Related posts