Kisah Inspiratif Penjual Mi Ayam, Ikut Serta Mencerdaskan Anak Bangsa

Berbagisemangat.com – Jualan bakso dan mi ayam adalah aktivitas kesehariannya. Di samping itu, pria ini juga aktif dalam komite sekolah di SMPN 8 Bontang. Meski bukan guru, namun komitmennya untuk mencerdaskan anak bangsa sudah terbukti. Salah satunya lewat perpustakaan dadakan yang dibuka di rumah sekaligus tempat jualannya.

“Pahlawan” pendidikan itu bernama Suyanto. Walau sederhana, namun dia bisa ikut berkontribusi dalam dunia pendidikan Bontang.

Tidak seperti pedagang makanan pada umumnya, warung jualan bakso dan mi ayam milik Suyanto yang beralamatkan di Jalan Berlian nomor 1, RT 17 Kelurahan Berebas Tengah, Kecamatan Bontang Selatan, atau tepatnya di belakang Hotel Andika memiliki keunikan tersendiri.

Warung bernama “Bakso dan Mie Ayam Jawa” itu memiliki fungsi ganda. Selain menjadi warung makan, juga jadi tempat membaca. Sebab, di sana tersedia perpustakaan mini dengan beragam buku bacaan.

“Jadi sembari pembeli menunggu pesanan datang, mereka bisa baca-baca dulu. Kebetulan bukunya banyak, tentang buku-buku ke-Islam-an. Selain pembeli tidak bosan menunggu, juga bisa jadi menambah wawasan sekaligus berdakwah lewat buku-buku tersebut,” ujar Yanto, panggilan akrabnya.

Bapak satu anak itu menjelaskan, ide membuat perpustakaan mini ini sudah dijalankan sejak dua tahun lalu. Tepatnya saat dirinya baru pertama kali memulai usaha.

Sebelumnya, suami Annisa itu hanya bekerja sebagai tukang bangunan. Namun karena memiliki keinginan untuk mengubah nasib. Sehingga, dirinya memutuskan untuk “banting setir” membuka usaha sendiri.

Walau tanpa skill, namun tak menyurutkan langkah Yanto untuk terus belajar dan mencoba. Awalnya, usahanya tak laku karena rasanya kurang enak. Namun, hal itu justru menjadi pemicu Yanto dan istri untuk terus belajar memperbaiki kualitas rasa.

“Karena rasanya dulu kurang enak, akhirnya dagangan saya tidak laku. Akhirnya tiap malam Jumat saya buat program, menggratiskan jualan saya sembari meminta masukan dari pembeli. Kira-kira mana saja yang harus diubah rasanya,” jelasnya.

Dari program menggratiskan makanan itulah, justru menjadi titik balik usahanya. Dia menceritakan, saat itu ada salah seorang pegawai pemerintahan bernama Hadi yang sedang mampir makan. Namun, saat mengetahui kalau makan di tempat itu gratis, akhirnya orang tersebut bertanya mengapa dagangannya digratiskan. “Saya bilang saja karena masih belajar dan rasanya belum terlalu enak,” tutur Yanto.

Dari situlah akhirnya dirinya bersama istrinya ditawari orang tersebut belajar ke Café Singapore tentang pembuatan bumbu-bumbu bakso dan mi ayam. Di sisi lain, Yanto juga belajar membuat pentol kepada tetangganya untuk menunjang kualitas cita rasa dagangannya.

Akhirnya setelah mampu membuat bakso dan mi ayam yang enak, perlahan dagangannya mulai laris. Bahkan dia kerap menerima pesanan.

Di masa Wali Kota Adi Darma, anak dari pasangan Trimo-Tasri itu kerap kali “dikontrak” untuk menghidangkan masakannya, baik itu event pemkot maupun pribadi, seperti ulang tahun, perayaan Idulfitri, dan lainnya. “Namun saat ini sudah tidak lagi. Jadi hanya berjualan di depan rumah saja,” terangnya.

Selain berjualan, pria kelahiran Bojonegoro 21 Juli 1973 itu juga aktif terlibat dalam kepengurusan komite SMP 8, tempat anak semata wayangnya bersekolah. Di sana, dirinya diamanahi menjadi bendahara yang juga sekaligus berperan untuk mempromosikan SMP 8 ke masyarakat.

“Saat pertama kali ditawari dulu, saya sempat tidak mau. Namun karena diminta terus oleh pihak sekolah, akhirnya saya memutuskan untuk mau bergabung. Mungkin lewat komite inilah cara saya bisa membantu berkontribusi agar dunia pendidikan, khususnya di SMP 8 bisa semakin maju,” ucapnya.

Beberapa kontribusi yang sudah dilakukan dirinya dan komite sekolah lainnya untuk kemajuan sekolah di antaranya melakukan penghijauan, perbaikan infrastrukutur, mendirikan green house tanaman hidropnik untuk pembelajaran anak-anak, hingga men-support setiap kegiatan yang ada di sekolah.Termasuk memperkenalkan SMP 8 ke anak-anak SD yang akan melanjutkan ke bangku SMP.

“Saya berharap SMP 8 ini bisa semakin maju dan bisa menjadi sekolah terbaik di Bontang. Tentu sebagai komite, kami akan mendukung terus program-program dalam upaya peningkatan sekolah,” tukasnya.

Related posts