Kisah Kajali yang 53 Tahun Mendalang, Pernah Dibayar 3 Kg Beras

Berbagisemangat.com – Di daerah Banten, ada sebuah kesenian pertunjukan wayang yang dikenal sebagai Wayang Garing. Sebuah pertunjukan wayang kulit yang dimainkan seorang dalang tanpa iringan sinden dan gamelan.

Ki Kajali (71) kini menjari satu-satunya dalang Wayang Garing di Banten. Kajali asal Desa Mandaya, Kecamatan Carenang sebuah daerah di pesisir bagian utara Kabupaten Serang. Ia mendalang sejak tahun 1965 setelah belajar dari Madasih, seorang dalang wayang kulit yang terkenal waktu itu.

Perbedaan Wayang Garing dengan Wayang Kulit atau Wayang Golek di Jawa Barat adalah pada iringan gamelan dan sinden. Kajali mengaku hanya bermain sendiri menceritakan kisah pewayangan dari Arjuna, Pandawa sampai Gatot Kaca. Sebagai pengganti, ia biasanya menirukan suara bunyi-bunyian gamelan atau gong melaui mulutnya.

“Saya dalangnya sendirian, tidak pakai apa-apa. Wayang Garing nggak pakai gamelan,” kata Kajali saat berbincang dengan detikcom, Kecamata Carenang, Kabupaten Serang, Kamis (29/3/2018).

Karena mendalang sendirian, penonton menurut Kajali menamai wayangnya dengan sebutan Wayang Garing. Atau dalam istilah Kajali, ia menyebut ‘teu asak’ (tidak matang) dalam bahasa Sunda karena tak ada lantunan gamelan dan sinden.

Di tahun 1965 saat gurunya meninggal, Kajali kemudian mewarisi wayang kulit milik gurunya. Ia mewarisi wayang dan mendalang mulai dari panggilan kampung sampai ke luar daerah. Kajali ingat, permainan wayang yang ia mainkan tanpa gamelan diakui oleh para dalang waktu itu. Ia menyebut seperti dalang Priyatna dari Serang dan Dalang Kamajaya dari Sukabumi.

“Lalu saya diadukan di Majalengka dengan seluruh dalang itu pakai sinden segala. (Tapi) saya juara satu,” ingatnya.

Kajali ingat, di tahun-tahun pertama ia bermain, setiap mendalang ia hanya dibayar segantang beras. Gantang adalah satuan ukuran isi atau takaran, sama dengan 3 kg. Ia hafal kurang lebih 125 kisah dalam pewayangan lakon dalam kisah Ramayana dan Mahabaratha. Saat mendalang, Kajali biasanya mengguanakan Bahasa Jawa Serang atau Jaseng dan Sunda Banten.

Dedikasinya dalam menciptakan Wayang Garing kemudian mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak. Ia tampil bukan hanya di wilayah Banten, tapi di Jakarta sampai Jawa Barat. Bahkan, kepada detikcom Kajali menunjukan berbagai penghargaan yang pernah didapat.

Tercatat, Kajali pernah mendapatkan penghargaan atas dedikasi dan prestasinya memajukan kesenian budaya Banten dari Gubernur Atut Chosiyah pada 2008. Selain itu, ia juga mendapatkan Penghargaan Kebudayaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia pada dies natalies ke-72 pada 2012.

Di usianya Kajali yang ke-71, Wayang Garing yang sudah jadi ciri khas Banten otomatis hanya bisa dimainkan dirinya seorang. Ia kesulitan menurunkan warisan kesenian ini karena mengaku kurang perhatian dari pihak pemerintah daerah. Kajali pun hidup sederhana di rumah yang sederhana bersama 5 orang anaknya di daerah pesisir utara Banten.

“Mang Jali geus tua, kata orang riren bae ngadalang (Mang Jali udah tua, sudah berhenti saja ngedalang),” kata Ki Kajali menirukan saran orang-orang agar ia berhenti mendalang.

Related posts