Kisah Keberanian Gadis-gadis Palestina Melawan Tentara Israel

Berbagisemangat.com – Desa Nabi Saleh di sebelah utara wilayah Tepi Barat, Palestina, Selasa dini hari, 19 Desember 2017. Basem al Tamimi, istri, dan anak-anaknya masih terlelap. Beberapa jam sebelum Azan Subuh berkumandang, tidur Basem terusik oleh derap langkah sepatu serombongan tentara Israel yang menuju ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian, para tentara Israel dengan senjata di tangan itu merangsek masuk ke dalam rumah. Satu yang mereka cari adalah salah satu putri Basem, Ahed al-Tamimi. Gadis berusia 16 tahun itu dipaksa bangun lalu diborgol tangannya.

Tentara Israel juga menyita komputer jinjing dan kamera milik Ahed. “Mereka (tentara Israel) memborgol putri saya dan entah di bawa ke mana,” kata Basem seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ahed dikenal sebagai gadis pemberani. Pada 2012 lalu dia menerima penghargaan Hanzala Courage Award dari distrik Başakşehir Municipality di Istanbul, Turki. Penghargaan diberikan atas keberanian Ahed melawan tentara Israel yang menahan kakaknya.

Tapi Ahed bukan satu-satunya perempuan Palestina yang bernyali menentang pendudukan Israel di wilayah Tepi Barat. Sejak meletusnya gerakan intifadah pada 1987, para perempuan Palestina sudah terlibat langsung melawan pendudukan Israel di Tepi Barat.

Raja Mustafa
Raja Mustafa Foto: Abed al Qaisi – Al Jazeera

Raja Mustafa, salah satunya. Saat meletus gerakan intifada pertama usianya baru 16 tahun. Dia dan rekan sebaya menghadapi kebrutalan tentara Israel dengan senjata seadanya. Batu dan katapel salah satunya batu.

“Semua gadis seusiaku bertempur di Intifadah pertama, kami berada di jalanan sambil melemparkan batu dan menghalangi jalan dan menjerit. Sungguh, dari awal hingga akhir, para wanita berpartisipasi,” kata Raja mengenang.

Ada juga Manal Abu Akhar. Usianya baru 12 tahun saat pecah intifada pertama. Namun dia dan gadis seusianya turun ke jalan membantu pria-pria Palestina melawan pendudukan Israel.

Dalam salah satu aksinya, Manal terkena peluru tentara Israel. Peluru mengenai dadanya sehingga dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa bulan.

Manal Abu Akhar
Manal Abu Akhar Foto: Abed al Qaisi – Al Jazeera

Pada 2000 kembali pecah gerakan Intifadah kedua. Namun Raja Mustafa dan Manal serta perempuan Palestina lain tak memungkinkan untuk terjun langsung dalam kancah perang. “Sulit bagi wanita (terlibat) selama Intifada kedua,” kata Manal yang kini berusia 40 tahun.

“Semuanya menggunakan senjata dan kelompok bersenjata berjuang. Jadi para wanita sulit terlibat (intifada kedua),” tambahnya.

Namun bukan berarti wanita Palestina berpangku tangan. Raja Mustafa, Manal dan perempuan-perempuan Palestina terlibat di belakang pasukan Palestina.

Manal misalnya, menyediakan rumahnya untuk persembunyian pejuang Palestina dari kejaran tentara Israel.

Saat Raja Mustafa dan Manal sudah tak lagi muda, perjuangan mereka melawan tentara Israel dilanjutkan oleh Ahed Tamimi, perempuan-perempuan dan pemuda Palestina saat ini.

(Detik.com)

Related posts