Kisah Keluarga Penjaga Palang Pintu Kereta Api, Sekadar Berharap Dari Pemberian Orang

Berbagisemangat.com – Lebih dari 15 tahun Dwi Mariadi (39) menjadi relawan penjaga perlintasan Kereta Api palang pintu di Pagesangan Jambangan Surabaya. Dwi mengatakan perlintasan itu sudah ada sejak dulu yang dijaga oleh keluarganya dari genari ke genarasi.

“Dulu ayah sekarang saya gantikan bersama anak saya,” ucapnya kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (28/10/2018).

Menurut dia, keberadaan palang pintu swadaya masyarakat ini sudah ada semenjak jalan itu ramai dilewati pengguna jalan. Palang pintu dari besi itu merupakan hasil sumbangan sukarela pemberian dari donatur pengguna jalan yang setiap hari melintas di jalur tersebut.

“Kalau dulu sepi yang lewat sekarang ini paling ramai pagi dan sore menjelang petang,” ungkapnya.

Dwi menjelaskan jalur perlintasan ini sangat padat dilalui Kereta Api dari arah Surabaya ke Sepanjang dan Mojokerto dan sebaliknya. Perlintasan ini merupakan jalur cepat yang setiap hari dilewati 42 Kereta Api.

“Pembagian jadwalnya kereta api ditempel di pos swadaya masyarakat lewat pagi, siang dan malam hingga dini hari,” jelasnya.

Masih kata Dwi, secara sukarela menjaga perlintasan Kereta Api di Pagesangan Jambangan. Dia tidak digaji dari Dishub maupun dari PT KAI Daop 8 Surabaya.

Ia hanya mengandalkan pemberian sukarela dari pengguna jalan itu pun hasilnya tidak sebanding dengan tanggung jawabnya yang diembannya menutup palang pintu swadaya masyarakat tepat waktu untuk mengantisipasi kecelakaan Kereta Api.

“Tidak ada yang gaji kalau satu tahun sekali dapat bingkisan sembako dari PT KAI itu saja. Ya biasanya dikasih sama pengguna jalan diterima, sama jual tissu di pinggir jalan,” ujarnya.

Ditambahkannya, setiap tahun dia mengikuti diklat dari PT KAI di Mojokerto yang diperuntukkan untuk penjaga perlintasan tanpa palang pintu. Dari Diklat itulah ia memperoleh pengetahun SOP penjaga palang pintu yang pengalamannya dibagi dengan keluarganya, termasuk pada putranya Achmad Cholilur (19). Untuk diketahui, Achmad Cholilur merupakan penjaga palang pintu saat terjadinya kecelakaan KA Sri Tanjung dan mobil Pajero Sport.

“Sudah lama keluarga saya jaga perlintasan Kereta Api ini mungkin selamanya,” imbuhnya.

Dwi mengutarakan menjadi relawan penjaga perlintasan tanpa palang pintu ini merupakan bentuk keperdulian sosial yang diembannya dari ayahnya. Dia tidak mengharapkan apapun dari apa yang dilakukannya lantaran murni untuk membantu pengguna jalan.

“Saya ikhlas karena merasa kasihan lihat pengguna jalan kalau tidak ada yang jaga perlintasan,” pungkasnya.

Related posts