Kisah Rehan, Bocah di Banjarmasin yang Jadi Badut Jalanan untuk Cari Nafkah

Setiap hari di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rehan melakukan atraksinya di depan para pengguna jalan. Ia kenakan kostumnya dan mulai berjoget di depan mereka demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Kisah Rehan menjadi viral setelah diunggah oleh akun Instagram milik @rhmadii_ alias Rahmadi (20). Dalam unggahannya, ia menceritakan keseharian Rehan sebagai seorang badut jalanan.

“Menurut pengakuan Rehan, keputusannya menjadi Badut jalanan didasari oleh motif ekonomi agar ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibunya yang bekerja serabutan hanya mampu mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa kontrakan. Jika ada rezeki berlebih, uang tersebut sengaja disisihkan untuk biaya sekolahnya,” tulis Rahmadi dalam unggahannya, Kamis (27/8).

Rehan selalu rajin berangkat di pagi hari untuk melakukan atraksinya. Alasannya karena ia ingin menyisihkan waktu sorenya untuk bermain bola.

View this post on Instagram

EDISI KEHIDUPAN…. Setiap hari, Rehan harus bangun pagi-pagi betul agar atraksinya bisa disaksikan oleh para pekerja kantoran dan warga disekitar jalan Gatot Subroto… Bagi sebagian orang, atraksi badut jalanan yang disuguhkan Rehan dinilai ampuh untuk mengusir rasa suntuk di tengah padatnya jalan Gatot subroto. Namun, ada beberapa hal penting yang luput dari pikiran mereka. Pertunjukkan yang mereka anggap menarik itu sebetulnya dilakukan oleh anak di bawah umur, bahkan termasuk dalam kategori eksploitasi anak. Menurut pengakuan Rehan, keputusannya menjadi Badut jalanan didasari oleh motif ekonomi agar ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibunya yang bekerja serabutan hanya mampu mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa kontrakan. Jika ada rejeki berlebih, uang tersebut sengaja disisihkan untuk biaya sekolahnya. “Uangnya lumayan. Bisa buat beli Nasi bungkus untuk dibawa pulang ke rumah,” tutur Rehan Agar atraksinya menarik perhatian banyak orang, Rehan memperlihatkan jogetan kecilnya. Sementara untuk urusan kostum dan kepala boneka, Rehan mengaku selalu mengganti kostumnya setiap hari. Sang penyedia kostum juga menyediakan beberapa pilihan kepala boneka yang didesain menyerupai tokoh-tokoh kartun, mulai dari Dora the Explorer, Upin dan Ipin, hingga Spongebob Squarepants. Kepala dan bajunya saya sewa. Saya tidak tahu biayanya, karena ibu yang membayar,” ungkap Rehan sembari menyeka keringat yang menetes di kelopak matanya. Setiap hari Rehan memang sengaja berangkat pagi-pagi buta, bahkan sebelum mentari pagi bersinar. Selain mengincar mobil-mobil yang terjebak macet, ia ingin menyisihkan waktu di sore hari untuk bermain bola di rumah. Lepas Sholat Isya saya biasanya langsung pulang ke rumah bersama ibu setelah ibu selesai beberes kebersihan halaman Alfamart jl. Gatot subroto kata Rehan Namun saat ditanya, apakah ia dan ibunya nyaman dengan profesi mereka saat ini, Rehan mengaku senang dapat membantu memberikan uang tambahan kepada ibunya. Kendati demikian, Rehan tidak memungkiri bahwa terkadang ia merasa lelah karena harus berjalan hingga sejauh 10 km dari rumahnya.

A post shared by KONTEN INSPIRATIF (@rhmadii__) on

“Setiap hari Rehan memang sengaja berangkat pagi-pagi buta, bahkan sebelum mentari pagi bersinar. Selain mengincar mobil-mobil yang terjebak macet, ia ingin menyisihkan waktu di sore hari untuk bermain bola di rumah,” lanjut Rahmadi dalam tulisannya.

Rahmadi juga menuliskan bahwa Rehan terkadang lelah karena harus berjalan sejauh 10 kilometer dari rumahnya. Meskipun begitu, ia tetap senang dapat membantu ibunya mencari uang.

“Rehan mengaku senang dapat membantu memberikan uang tambahan kepada ibunya. Kendati demikian, Rehan tidak memungkiri bahwa terkadang ia merasa lelah karena harus berjalan hingga sejauh 10 km dari rumahnya,” lanjutnya.

Rehan biasanya menjadi badut jalanan di satu tempat saja, yakni di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selama melakukan hal tersebut, ia sendirian dan tidak diawasi atau ditemani oleh siapa pun.

“Dia sering jadi badut di Banjarmasin Jalan Gatot Subroto, di satu tempat aja. Kalau kesehariannya jadi badut aja dari pagi. Selama kerja itu enggak ada yang ngawasi,” jelas Rahmadi kepada kumparan, Jumat (28/8).

Sumber Kumparan.com

Related posts