Kisah Robinson Sinurat, Anak Petani yang Berhasil Lulus S2 di Columbia Univesity dan Bertemu Barack Obama

Berbagisemangat.com – Mungkin tidak habis telapak jari tangan menghitung orang bisa sukses berangkat dari ekonomi keluarga yang sangat terbatas . Namun batas itulah yang bisa ditepis seoarang Robinson Sinurat anak seorang petani kecil tepatnya Dusun III Sindoro, Tanjung Beringin, Kab. Dairi. Bermodalkan impian besar akhirnya bisa mengantongi sarjana dari Columbia University, USA, kampus dimana Barack Obama mantan presiden Amerika Serikat juga menamatkan gelar sarjananya.

Lantas siapa anak sumbul yang nekat ini. Kisahnya menginspirasi banyak orang di tanah air Republik Indonesia dari keluarga petani. Robinson membuktikan “kita bisa menjadi yang kita impikan ketika kerja keras , tekun dan berdoa meraih impian besar itu”.

Robinson Sinurat.

Apakah saat ini kita memiliki impian yang sangat tinggi yang ingin diraih, yaitu sebuah impian yang mungkin mustahil untuk kita capai dengan keadaan kita sekarang ini? Apakah mungkin sekarang kita sedang direndahkan dan ditertawakan oleh teman, saudara, atau bahkan orangtua ketika kita menceritakan impian kita kepada mereka? Jika kita menjawab ya, janganlah kita merasa kecil hati dan putus asa.

Sebaliknya, kita harus bangga dan berbahagia karena kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikian? Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian. Dan tidak semua orang bisa bermimpi besar, karena pada umumnya manusia itu cenderung pesimis saat mulai membangun impian yang besar.

Seperti halnya Robinson Sinurat. Ya, Robinson hanyalah seorang anak petani di sebuah dusun tepatnya Dusun III Sindoro, Tanjung Beringin, Kab. Dairi. Mengenyam pendidikan SD hingga SMA, Robinson bersekolah di Medan.

Kepada Dairi Pers.com yang diwawancarai Laila Hanum via layanan whatsapp itu ternyata sosok inspiratif sejak usia belia sudah jauh dari orangtua . Penyebab utama karena keadaan ekonomi orang tua yang terbatas. Anak ke 5 dari 7 bersaudara, dengan kondisi financial yang serba terbatas, pria kelahiran Tanjung Beringin, 25 Juli 1990 ini berjuang melawan takdir

Terlahir sebagai anak sederhana Robinson mengurai “Kedua orangtua saya bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, mereka tidak memiliki gelar Sarjana, dan mereka tidak pernah mengerti apa itu Sarjana. Mereka hanyalah petani biasa yang berjuang memeras keringat di ladang demi kebutuhan ke 7 anaknya.

Namun, sejak kecil orangtua saya selalu menanamkan bahwa pendidikan itu penting. Karena pendidikan dapat mengangkat derajat keluarga. Menjadi agen perubahan di keluarga maupun orang lain. Saya lulus dari SD Negeri 2 Medan, SMP Negeri 30 Medan, dan SMA Negeri 15 Medan. Dulu itu, saya sangat ingin bersekolah di sekolah swasta yang fasilitasnya lebih lengkap. Tetapi, orangtua saya hanya petani biasa dan pastinya tidak sanggup membiayai saya untuk bersekolah di sekolah swasta bonafit tersebut , sebut Robinson.

Karena biaya sekolah yang pastinya mahal, dan saya mengerti kondisi orangtua saat itu. Dan orangtua saya dulu berpesan, “Yang namanya emas itu dimanapun akan tetap menjadi emas. Begitupun denganmu, dimana pun kamu bersekolah kalau kamu memang pintar, kamu akan tetap pintar dan berhasil”, kenang Robin.

“Nasehat orangtua saya itu menjadi sebuah pedoman bagi saya dan bergiat belajar meskipun jauh dari orangtua”.

Kondisi saat itu mengharuskan saya untuk pulang ke kampung hanya saat hari libur saja. Atau orangtua saya yang datang mengunjungi saya ke Medan. Setelah menduduki tingkat SMA kondisi keuangan orangtua saya semakin buruk.

Namun, saya tetap ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Saat orangtua saya mengetahui impian saya untuk kuliah, mereka hanya berpesan bahwa saya harus bisa kuliah di universitas negeri. Jika kuliah di universitas swasta, mereka tidak akan sanggup.

Atas nasehat dan doa orangtua, akhirnya saya lulus perguruan tinggi negeri di Universitas Sriwijaya, Palembang. Ternyata kendala harus kami hadapi ketika saya harus berangkat ke Palembang. Orangtua saya tidak mempunyai uang dan sudah mencoba meminjam keman-mana di kampung, namun tidak ada yang mau meminjamkan. Hingga pada akhirnya Tuhan membukakan jalan bagi saya, melalui seorang sahabat yang meminjamkan uangnya kepada orangtua saya.

Saya pun berangkat dengan uang pas-pasan hasil pinjaman orangtua saya. Saya menempuh waktu selama 4 tahun berkuliah disana dan lulus perguruan tinggi negeri di Universitas Sriwijaya, Palembang dengan gelar Sarjana Sains Fisika.

4 tahun bukanlah waktu singkat untuk menimba ilmu dikondisi serba kekurangan. Namun kerja keras dan ketekunan mengantarkan “anak Par sumbul” ini setahap meraih gelar sarjananya dari Universitas dalam negeri Sriwijaya Palembang.

Please follow and like us:

Related posts