Kisah Sepasang Lansia Asal Malaysia Yang Bertahan Hidup Hanya Dengan Rp 180 Ribu Per Bulan

Berbagisemangat.com – Usia senja seharusnya menjadi saat bagi para kaum lanjut usia (lansia) untuk beristirahat, namun hal ini tidak berlaku bagi sepasang lansia asal Malaysia, Borham Kasim (80) dan Saudah Abd Samad (72).

Baru-baru ini kisah hidup sepasang lansia asal Malaysia ini menjadi bahan perbincangan di negeri Jiran tersebut karena keduanya hidup serba kekurangan.

Sepasang lansia asal Malaysia ini harus bertahan hidup bermodalkan biaya yang sangat terbatas, yakni 50 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 180 ribu per bulan.

Seperti dilansir laman situs Sinar Harian Malaysia pada Minggu (14/10/2018), Kasim dan istrinya baru-baru ini mendapat bantuan dari program Ziarah Kasih Mukim Bandar 2018.

Pada saat menerima bantuan tersebut, terungkaplah kisah sedih sepasang lansia ini dalam menjalani hidupnya mereka di usia senja. Kasim dan Saudah saat ini tinggal di sebuah rumah tua yang mereka sewa di Lorong Sekolah Jalan Abdul Rahman yang berlokasi di distrik Muar, Johor, Malaysia

Mereka terpaksa menjalani hari-hari tua mereka berdua saja karena tidak dikarunia anak. Mengutip dari laman Sinar Harian Malaysia, menurut Kasim, sisa hidup mereka sekarang bergantung pada bantuan dari dinas sosial Malaysia atau yang disebut Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM) yang mereka terima setiap bulannya.

Namun, jumlah bantuan tersebut dirasa sangat minim karena harus disisihkan guna membayar sewa rumah sebesar 300 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 1 juta.

Mengingat tingginya uang sewa, pasangan suami istri ini hanya dapat mengalokasikan dana sebesar 50 ringgit Malaysia atau sebesar Rp 180 ribu untuk pengeluaran bulanan.

“Pada saat yang sama, saya bersyukur karena warga sekitar dan tetangga tak pernah berhenti mengulurkan bantuan sekaligus membantu kami melanjutkan hidup sehari-hari,” tutur Kasim seperti dikutip Sinar Harian Malaysia.

Kasim menuturkan, sebelumnya ia sempat bekerja sebagai penarik becak sementara sang istri menjadi ibu rumah tangga. Namun, kondisi kesehatan sang istri kemudian memburuk selama kurun waktu 10 tahun terakhir, sehingga Kasim tak dapat lagi bekerja dan hanya mengandalkan uluran tangan dermawan.

“Ketika fisik masih kuat, saya sebelumnya bekerja sebagai penarik becak sedangkan istri saya tidak bekerja. Bagaimanapun setelah usia semakin tua, saya sudah tak kuat untuk bekerja sejak lebih dari 10 tahun lalu,” katanya.

Menurutnya, dengan kondisi kesehatan sang istri yang semakin merosot akibat penyakit diabetes. Akibat penyakitnya ini, kaki kanan Saudah terpaksa diamputasi tiga tahun lalu. Oleh karenanya, Kasim kemudian terpaksa mengambil alih tugas istrinya untuk mengurus rumah tangga.

“Kini, hanya berbekalkan uang tunai 50 ringgit Malaysia (Rp 180 ribu) sebulan yang dapat digunakan untuk mencukupi keperluan kami berdua. Adakalanya, jatah makanan akan disimpan untuk beberapa hari selagi masih layak dimakan sebab kami harus berhemat,” katanya.

Baru-baru ini, pasangan tersebut menerima kunjungan Adun Maharani serta Norhayati Bachok (kelompok sukarelawan Sahabat Dakwah), Datin Ella Mahmood (Ketua Wanita PKR distrik Muar), dan Fahami Samad (Kadi Daerah) melalui program Ziarah Kasih Mukim Bandar 2018.

Semua pihak tersebut hadir untuk memberikan sumbangan guna meringankan beban Kasim dan Saudah. Tak hanya memberikan bantuan uang, para relawan juga bekerja bakti membantu membersihkan kediaman Kasim secara gotong-royong.

Kegiatan ini rupanya tak hanya diikuti oleh para relawan tetapi juga pihak luar, yakni siswa Madrasah Tahfiz Ad Dai, pelajar SMK Dato Sri Amar Diraja dan sukarelawan dari Darul Takzim.

Related posts