Kisah Wanita Tanpa Tangan di Tanjungpinang, Pernah Dilempar Pakai Uang Sampai Mendirikan TPA

Berbagisemangat.com – “Aneh saja, orang nggak minta tapi dilempari dengan uang,” ucap Nihayah (59) dengan suara lirih.

Itulah sepenggal pengalaman yang masih membekas di hati wanita yang memiliki keterbatasan fisik ini.

Dia mengenang pengalaman tersebut berlangsung saat dirinya berbelanja di Pasar Tradisional Pekanbaru.

“Saya hanya membalasnya dengan senyum simpul saja,” tuturnya.

Nihayah sendiri lahir dengan tidak memiliki kedua tangan.

Keterbatasan fisiknya ini sempat mengetuk hati seorang ustadz asal Sirya untuk menjadikannya anak angkat.

Dia hendak dibawa untuk tinggal dan bersekolah di sana. Namun, sang ayah, Abu Bakar menolak keinginan ustadz. Sebab, ayahnya ingin Nihayah tetap bersama keluarga di Tanjungpinang.

Keluarga menyekolahkan Nihayah di sekolah umum, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Dia pernah berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Riau.

Namun, jejak kuliah akhirnya kandas setelah ayahnya meninggal. Nihayah lalu mencoba berbagai peruntungan setelah itu.

“Saya pernah berbisnis kain. Saya beli di Singapura dan kemudian saya pasarkan di wilayah Tanjungpinang,” ucapnya mengenang.

Cacat fisik bukanlah merupakan sebuah penghalang dalam menebarkan kebaikan kepada dunia. Semboyan tersebut setidaknya menjadi pegangan hidup Nihayah.

Dia lahir di Tanjungpinang pada 2 Juni 1959 silam tanpa kedua tangan. Namun, kondisi ini tidak mematahkan semangatnya untuk berkarya.

“Lewat jari-jari kaki ini, sudah tidak terbilang berapa banyak orang yang akhirnya pandai mengaji,” ungkapnya bangga.

Betapa tidak, sekitar dua puluh tahun terakhir Nihayah menghabiskan banyak waktunya di TPA Masjid Al-Hikmah.

Bersama kedua rekannya, dia mendirikan TPA pada 30 Agustus 1999 silam.

Sejak saat itu, dia mulai aktif mendidik anak-anak belajar mengaji, mulai dari iqro (sistem belajar dasar membaca Al Quran) Juz Amma sampai Al Quran serta Ilmu Agama lainnya seperti Tauhid Fiqih dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, murid TPA tempat Nihayah megajar terus berkembang. Awalnya cuma puluhan santri berhasil menyelesaikan ilmu agama dari TPA itu.

Namun, lambat laun, jumlah tersebut bertambah menjadi ratusan bahkan ribuan santri.

“Saat ini saja, tercatat 130 santri sedang belajar ilmu agama di TPA Al Hikmah,” ucap wanita berhijab merah itu.

Kini, bersama 15 guru ngaji lainnya, dia menjalani hari-hari hidupnya dengan mendidik para santri.

Insentif yang dia terima sebesar Rp 400.000 setiap bulannya.

Uang tersebut berasal dari iuran santri dan kas Masjid Al Hikmah.

“Kalau dibilang cukup ya tidak, yang penting saya ikhlas, insyaallah jadi berkah,” ujarnya yakin.

Nihayah memang hanya mengandalkan kedua kakinya dalam beraktivitas sehari-hari.

Tidak cuma saat mengajar ngaji, kaki dan jari-jarinya jadi andalan dalam menjalani hidupnya.

Misalkan saja, ketika hendak menerima panggilan, dia menjepit telepon seluler dan meletakkannya di paha bagian kiri, dan berbicara dengan mengandalkan pengeras suara.

Di balik keterbatasan fisik ini, ada hal yang menakjubkan dalam sejarah hidup Nihayah.

Namanya sempat melambung setelah dia memerankan sebuah film layar lebar berjudul “Ku Berikan Segalanya” yang disutradarai oleh Galeb Husin.

Dia sempat beradu akting bersama aktor kawakan sekelas Dedi Mizwar, Rano Karno dan Paramita Rusady. Kala itu Nihayah memerankan sosok wanita penderita kanker payu dara.

Peran itu sukses dia mainkan. Ini terbukti dengan terpilihnya Nihayah sebagai salah seorang nominator Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1992.

Related posts