Komunitas Berbagi Sebungkus Nasi (BerNas) : Hindari Nongkrong Malam Hari, Pilih Bagi Nasi ke Dhuafa

Berbagisemangat.com – Berawal dari kepedulian, sekumpulan anak muda Kota Surabaya membuat sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial. Komunitas tersebut bernama Berbagi Nasi Surabaya (BerNas). Komunitas BerNas ini sudah terbentuk 3 tahun lalu di Kota Pahlawan, tepatnya pada 7 November 2015.

Alasan dibentuknya komunitas ini, Ketua Komunitas BerNas Muji Cahyo Wijaya menjelaskan karena adanya rasa peduli pada orang-orang pinggiran yang kurang beruntung nasibnya. Orang-orang pinggiran itu dianggap sebagai bagian dari warga Surabaya yang harus dibantu kehidupannya.

“Dapat nasi bungkus dari kita, meski tidak seberapa, mereka senangnya setengah mati, lho,” ungkap Muji, belum lama ini. Ia menjelaskan, berbagi nasi ini juga bertujuan agar masyarakat yang kurang beruntung ini dapat menyadarkan anak-anak muda zaman sekarang agar tidak mudah mengeluh.

Sebab, di zaman serba instan seperti sekarang ini, banyak anak muda yang maunya hidup senang terus. Kalau nggak bahagia, lantas mengeluh. “Anak zaman sekarang ini masih kurang rasa peduli dengan orang-orang yang di jalan yang kurang beruntung. Rasa peduli itu kami wujudkan dalam bentuk sebungkus nasi,” lanjutnya.

Komunitas BerNas ini, kata Muji, beraksi mulai malam hari. Mengapa malam, karena masyarakat yang kurang mampu kebanyakan bekerja pada malam hari. Sasarannya adalah tukang becak, pemulung, tukang tambal ban, pendorong gerobak sampah, dan masih banyak lainnya.

“Jadi, tidak hanya berbagi nasi saja, tapi bagaimana kita bisa menjadi wadah curhatan bagi mereka yang membutuhkan,” jelas Muji. Muji mengungkapkan, kegiatan potif yang mereka lakukan bersama itu juga bagian dari cara agar tidak nongkrong dan membuang waktu sia-sia.

“Daripada nongkrong gak jelas, lalu melihat sekitar kita, banyak yang kurang beruntung, banyak warga yang prasejahtera, nah itu mereka malam bekerja. Sedangkan kita malah tidur, main, nongkrong gak jelas dan kurang bermanfaat. Akhirnya kita coba dari nasi itu,” urainya.

Selama tiga tahun terakhir berjalan, BerNas Surabaya telah memiliki 50 orang anggota. Anggota didominasi oleh pemuda, baik perantauan maupun mahasiswa dan memiliki keanggotaan yang tersebar di berbagai wilayah di Jatim. Khusus di Surabaya, mereka biasa berkumpul pada Sabtu di Taman Apsari.

“Jadi kami sering nongkrong di situ (Taman Apsari, Red). Di situ kami diskusi dan kami jadikan mini base camp, karena kami belum memiliki kesekretariatan. Jadi kami memilih taman tersebut karena berlokasi di jantung kota,” tuturnya.

Muji menambahkan, ke depannya masih ada beberapa proyek lagi selain berbagi nasi bungkus. Di antaranya ialah program berbagi kasih bersama anak-anak yatim di panti asuhan. Hal itu dilakukan agar ada selingan di sela-sela waktu berbagi nasi.

“Dalam waktu dekat kami akan agendakan kegiatan jalan-jalan bersama anak yatim. Di samping jalan-jalan, kami juga mengenalkan kota Surabaya lebih dekat lagi pada mereka. Ya itung-itung menambah pengetahuan anak-anak yatim itu,” pungkas Muji.

Related posts