Kreatif! Limbah Popok Bayi di Karangploso Malang Disulap Jadi Barang Bagus nan Indah

Berbagisemangat.com – Ernawati Agustina merasa prihatin dengan kondisi sungai di sekitar rumahnya yang dipenuhi oleh sampah popok bayi setiap pagi dan sore.

Pemandangan tak elok nan berbau tak sedap itu sontak menggugah ide kreatif wanita 28 tahun ini, untuk mengubah lingkungan di sekitarnya.

Bersama rekan-rekannya ia pun menciptakan karya memanfaatkan sampah popok bayi yang kotor itu. Tahun 2017 menjadi titik awal terciptanya karya tersebut.

Ditemui di rumahnya yang berlokasi di Dusun Turi, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, wanita lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM) ini menceritakan awal perjuangannya mengubah pola pikir masyarakat, yang membuang sampah popok bayi sembarangan di sungai.

“Awal itu karena di sungai di sekitar rumah banyak sekali sampah popok bayi yang dibuang sembarangan. Sampai akhirnya tahun 2017 dibentuk bank sampah oleh DLH (Dinas Lingkungan Hidup) di desa ini, lahirlah ide untuk memanfaatkan sampah popok yang dikenal menjijikkan itu,” kenang wanita yang juga sebagai ketua Bank Sampah Dusun Turi itu.

Mengubah pola pikir masyarakat untuk membuang sampah popok bayi di sungai diakuinya tak mudah.

“Butuh kesabaran kala itu sampai akhirnya masyarakat bisa menyadari, kebanyakan kan warga gak mau ribet langsung buang ke sungai,” beber wanita yang akrab disapa Erna¬† ini.

 

Kondisi tersebut tak membuat Erna menyerah. Ia bersama rekannya bernama Rahayu terus berpikir sebuah inovasi. Sampai akhirnya tercetus ide memanfaatkan sampah popok bayi menjadi pot bunga yang bernilai seni.

Dengan gigih dan tak jijik berkutat dengan sampah popok bayi, Erna pun mengolah sedemikian rupa hingga akhirnya tercipta sebuah pot bunga berbahan dasar popok bayi.

“Saya terpikir bagian luar popok ini kan dari plastik, dan bentuknya seperti celana dalam artinya bisa menampung benda. Nah tercetuslah membuat karya jenis pot bunga,” ungkapnya.

Erna menuturkan membuat pot berbahan dasar popok bayi tidak lah susah. Kuncinya, harus telaten dan tidak jijik berkutat dengan sampah yang akrab dengan kotoran bayi itu.

Dalam sehari, ia bersama rekan-rekannya dapat menghasilkan dua puluh buah pot.

“Untuk membuatnya, dibutuhkan bahan semen untuk adonannya. Kemudian, dikasih semen sebanyak 5 cintung (serok) nasi, perbandingan dengan air sebanyak 1 gelas air besar. Pilih bagian luar popok yang berbentuk plastik.

“Selanjutnya dicampur ke adonan semen, lalu dicetak dibentuk sesuka hati. Dijemur di bawah sinar mata hari 5-6 jam, kemudian terkahir dikasih semen putih untuk semakin mengkeraskan,” kata Erna menjelaskan sambil menujukkan detail produknya kala itu.

Agar produknya semakin dikenal, Erna pun tak mati akal. Ia memanfaat media sosial serta vendor toko online untuk memasarkan produknya. Produk pot popok bayi ini dihargai cukup murah. Hanya Rp 10 ribu sampai 15 ribu tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan ketika produksinya.

“Kemarin saat event di Pendopo laku keras, terjual 40 buah,” katanya.

Seiring dengan produknya yang mulai mendapat pangsa pasar, membuat Erna memiliki ide untuk mempersuasi masyarakat tidak membuang sampah sembarangan di sungai. Bank Sampah binaanya berani membeli sampah popok dari masyarakat.

“Melaui Bank Sampah, kita beli sampah popok dari masyarakat. Satu popok kami beli Rp 150. Kita ajak ibu-ibu daripada sampahnya dibuang begitu saja mending di jual ke kita (Bank Sampah). Tapi syaratnya popok harus dicuci bersih terlebih dahulu,” sebutnya.

Cara tersebut diakuinya berhasil, warga di daerahnya kini lambat laun meninggalkan kebiasaan buruk membuang popok di sungai. Dalam dua minggu sekali, Erna berhasil mendapatkan sampah popok bayi sebanyak 25 kilogram.

“Alhamdulillah masyarakat sudah mulai sadar,” ucapnya penuh syukur.

Kini, Erna bersama Bank Sampahnya yang beranggotakan 51 orang tersebut mempunyai mimpi menciptakan sentra pembuatan pot popok bayi di wilayahnya.

“Awalnya Bank Sampah. Kedepan kita nanti mau buat sentra kerajinan popok bayi, dengan berbagai karya,” harapnya.

Please follow and like us:

Related posts