Makam Dipindahkan, Jasad Guru Ngaji yang Dikubur 42 Tahun Lalu Masih Utuh

Berbagisemangat.com – Pembangunan proyek Tol-Depok-Antasari (Desari) berdampak pada pemindahan ratusan makam warga.

Dikutip dari Kompas.com, sebanyak 400 jenazah yang dikubur di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kumpi Saribah Kelurahan Grogol, Limo, Depok dipindahkan ke lokasi baru.

Pemindahan ratusan jenazah itu dilakukan demi memuluskan pembangunan proyek Jalan Tol Depok–Antasari (Desari).

“Dua hari ini kurang lebih sudah 400 Jenazah lah yang dipindakan ke lokasi yang baru bertepatan di sebelah utara dari makam yang lama,” ucap Camat Limo Herry Restu Gumelar saat dihubungi Kompas.com, Selasa (18/9/2018).

Menurut Herry, jumlah tersebut akan terus bertambah. Total ada 1.100 jenazah yang harus dipindahkan.

Dalam proses pemindahan makam, petugas menemukan ada beberapa jasad yang masih utuh.

Kedua jasad itu adalah almarhumah Mak Anih dan almarhum Syamsudin.

Mak Anih dimakamkan sejak 42 tahun silam dan semasa hidupnya ia dikenal sebagia guru ngaji.

Sementara Syamsudin meninggal 27 tahun silam akibat kecelakaan, dan semasa hidupnya ia dikenal sederhana dan ramah.

Selain di Depok, kejadian jasad masih utuh juga pernah terjadi di Bogor.

 

Jasad Sekeluarga Utuh

Pertama, jasad masih utuh ditemukan saat proses pemindahan makam untuk proyek pembangunan Gelanggang Olahraga di kawasan Stadion Pakansari, Kecematan Cibinong, Kabupaten Bogor pada akhir November 2015.

Saat proses pemindahan, tiga jenazah yang sudah belasan tahun dikubur ternyata jasadnya masih utuh.

“Kain kafannya juga masih utuh, cuma kotor ajah sama tanah,” ujar Abdul Fatah (42) kepada TribunnewsBogor.com, Sabtu (21/11/2015).

Abdul Fatah merupakan keluarga dari ketiga jenazah itu.

Ada 29 makam yang berada di pemakaman berlokasi di RT 3/5, Kelurahan Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Abdul Fatah mengatakan, makam keluarga besarnya harus dipindahkan ke lokasi lain.

Tiga jenazah jasadnya masih utuh saat digali di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/11/2015)
Tiga jenazah jasadnya masih utuh saat digali di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/11/2015) (TribunnewsBogor.com/Damanhuri)

Harus pindah karena areal lahan makan ini akan digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.

Pemerintah sedang membangun proyek Gelanggang Olahraga Pakansari.

Ketiga jenazah itu, terdiri dua jasad laki-laki dan satu jasad perempuan.

“Makam orang tua kami, Nenek dan Kakek saya,” ujarnya

Menurut Abdul Fatah, sebagain besar jasad yang dimakamkan di pemakaman keluarganya ini merupakan orang dewasa.

 

Sering Beramal

Fenomena serupa juga terjadi di Taman Pagelaran, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Dimana jenazah salah satu warga yang sudah meninggal hampir 20 tahun ternyata masih utuh.

Utuhnya jenazah itu diketahui setelah pihak keluarga menggali makam almarhumah Triyani bin Kartomulyo (52) yang berlokasi di TPU Kampung Bubulak.

Saat tanah makam digali, ternyata kain kafan almarhum dan bagian tubuhnya masih utuh.

Oleh anak-anak almarhum, jenazah Triyani kemudian dibawa menggunakan mobil ke rumah salah satu anaknya di Perum Taman Pagelaran.

Nanang Ariyanto (49), anak sulung Triyani mengatakan, ibunya meninggal dunia 19 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Juni 1994.

Ibunya meninggal dunia di rumah anak keduanya, Teguh (48) di Perumahan Taman Pagelaran, Blok D3 RT 1/11, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

“Almarhum ibu sebenarnya tinggal di Jawa, tepatnya di Desa Purwosari, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Purworedjo, Jawa Tangeh. Tapi, karena sakit kemudian dibawa ke Bogor dan tinggal di rumah adik saya ini. Tapi, baru tiga hari di Bogor, ibu meninggal,” ujar Nanang saat ditemui di rumah Teguh.

jenazah utuh
jenazah utuh ()

Karena terlalu jauh jika dimakamkan di kampung halamannya, kemudian Triyani dimakamkan di TPU Kampung Bubulak, tidak jauh dari rumah Teguh.

Hampir 20 tahun berlalu setelah meninggalnya Triyani, seluruh anak-anak almarhum kemudian sepakat memindahkan jenazah ibunya ke kampung halamannya di Purwodadi.

“Pemindahan makam ibu juga karena lokasi makam sebagiannya sudah mulai tergerus aliran kali Ciapus. Posisi air kali tinggal 80 centimeter lagi kena ke makam ibu, makanya daripada kebawa air, kita sepakat memindahkannya,” kata Nanang.

Tapi, alangkah kagetnya Nanang dan adik-adiknya yang lain saat mengetahui tubuh ibunya masih nampak utuh kendati sudah dimakamkan sejak hampir 20 tahun lalu.

Utuhnya jenazah ibunya kata Nanang, terlihat dari kain kafan yang masih membungkus tubuh Triyani.

“Saya tidak tahu fenomena dengan kejadian ini. Tapi, mungkin karena amal baik beliau semasa hidupnya. Ibu saya dulu berjualan sayuran matang, dan suka membagikan dagangannya ke orang-orang yang membutuhkan,” kata Teguh.

Saat disambangi rumah Teguh di Perumahan Taman Pagelaran sempat melihat dari dekat kondisi jenazah Triyani yang dibaringkan di atas tikar plastik.

Kain kafan yang warnanya sudah memudar dan bercampur tanah masih utuh membungkus tubuh almarhum.

Demikian pula dengan ikatan kain kafan tersebut. Tidak tercium mau tidak sedap dari jenazah yang sudah dimakamkan selama puluhan tahun lalu itu.

“Kalau papan yang menutup lubang makam sudah hancur, tapi jenazah ibu saya masih itu,” kata Ariswismanto (33) anak almarhum lainnya.

Please follow and like us:

Related posts