Meski Hidup Pas-pasan dengan Bekerja sebagai Tukang Parkir, Puger dan Yunus Rela Merawat Anak-anak dengan HIV/AIDS

Berbagisemangat.com – Apa yang akan Anda lakukan saat di sekitar Anda ada anak kecil yang positif IV/AIDS dan sudah kehilangan orangtuanya?

Melindunginya? Merawatnya? Atau menolak lebih-lebih mengucilkannya?

Hampir semua orang akan memilih untuk menolak atau mengucilkan anak-anak dengan HIV/AIDS.

Begitulah hasil survei yang pernah dilakukan oleh Yunus Prasetyo, ketua Yayasan Lentera Surakarta.

Bermula dari kepeduliannya terhadap anak-anak positif HIV/AIDS yang ditelantarkan keluarganya, Yunus dan rekannya, Puger Mulyono, memutuskan mengasuh mereka.

Puger dan Yunus mendirikan sebuah panti asuhan yang khusus merawat anak-anak dengan HIV/AIDS bernama Yayasan Lentera Surakarta.

Yayasan Lentera Surakarta

Yayasan Lentera Surakarta

Yayasan Lentera terletak di sebuah lahan milik Pemkot Surakarta di komplek Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti.

Ada 24 anak yang saat ini tinggal di rumah Lentera. Di antara 24 anak itu, yang paling dewasa baru berusia 13 tahun dan yang paling kecil masih bayi berusia 3 bulan.

Anak-anak sedang bermain bersama sementara para bayi sedang digendong oleh pengasuh yang memang bertugas untuk menjaga mereka.

anak-anak di Yayasan Lentera sedang menonton televisi

Tujuh orang pengasuh dipekerjakan untuk merawat dan memenuhi kebutuhan anak-anak ini.

Maklum saja, anak dengan HIV/AIDS butuh perawatan lebih sebab mereka lebih rentan terserang sakit. Mereka juga perlu minum obat yang cukup banyak setiap harinya.

Meski mereka tahu bahwa mereka sakit, tak satu pun anak-anak itu terlihat sedih atau murung.

“Dulu awalnya saat mereka baru datang ya sedih, depresi. Beberapa anak juga mengurung diri dan menolak berbicara. Trauma,” kata Yunus.

“Merawat anak-anak ini gampang-gampang susah. Namanya masih kecil, mereka sering rewel dan bosan, tidak mau minum obat. Padahal dengan obat-obatan itu mereka bisa bertahan hidup,” lanjutnya.

Yunus dan Puger sendiri tidak menderita HIV/AIDS. Keduanya sehat dan punya keluarga (istri, anak).

Namun kedua pria paruh baya ini menghabiskan hari-harinya melindungi anak-anak ini.

Yunus sehari-hari bekerja di sebuah Lembaga Penyuluhan HIV/AIDS di Surakarta, sementara Puger bekerja sebagai tukang parkir di sepanjang jalan Slamet Riyadi.

Dengan latar belakang keduanya yang seperti itu, kenapa Yunus dan Puger rela mengorbankan banyak hal demi Yayasan Lentera?

Menurut Yunus, itu semua karena panggilan hatinya. Ia juga bercerita tentang anak pertama yang dia selamatkan dan dia rawat sampai memutuskan mendirikan Lentera.

“Saat itu akhir tahun 2012. Saya mendapat laporan tentang seorang anak yang ibunya menderita HIV/AIDS dan meninggal, lalu anak ini dibiarkan terlantar oleh neneknya, oleh keluarga besarnya. Mereka malu mungkin punya keluarga yang sakit HIV,”

“Saat saya ke sana, anak ini sudah mengalami gizi buruk. Motoriknya sudah tidak berjalan, perutnya membesar tapi badannya kurus kering. Lihat yang seperti itu, saya dan Puger langsung membawa dia. Tidak tega lihatnya,” kata Yunus.

kondisi kamar untuk tidur anak-anak di Yasayan Lentera

Yunus dan Puger tidak punya pikiran lain. Tekad mereka hanya satu: anak ini bisa diselamatkan.

Please follow and like us:

Related posts