Perjuangan Jendi Panggabean, Atlet Renang Berkaki Satu Yang Sukses Merajai Asia Tenggara

Berbagisemangat.com – Keterbatasan fisik, nyatanya bukan menjadi penghalang bagi sosok Jendi Panggabean untuk meraih prestasi di bidang olahraga. Meski sempat pesimis karena menyandang difabel, toh ia berhasil mengharumkan nama Indonesia lewat ajang renang. Ya, lewat olahraga air itu, Jendi banyak mendulang medali di beberapa pertandingan tingkat nasional dan internasional.

Tak banyak yang tahu, ia sempat jatuh dan terpuruk saat mengetahui kondisi tubuhnya yang tak sempurna itu. Tak hanya Jendi seorang, kedua orang tuanya pun sempat merasa terpukul saat melihat kondisinya pada saat itu. Seiring berjalannya waktu, kedewasaan dan ketabahan ternyata mampu membuat Jendi menerima keadaanya. Hal tersebut bahkan menjadi salah satu pemacu semangat bagi dirinya untuk berprestasi.

Berawal dari kecelakaan yang merenggut sebelah kakinya

Peristiwa nahas itu terjadi kala ia berusia 12 tahun pada 2003 silam. Di mana sebuah kecelakaan motor yang ia alami, merenggut sebelah kakinya yang harus diamputasi. Meski selamat dari kejadian tersebut, toh Jendi tak bisa menghilangkan begitu saja memori buruk yang menimpa dirinya. Ia pun harus ikhlas menerima dirinya yang kini menjadi penyandang difabel.

Waktu kecelakaan saya dalam kondisi sadar dan yang saya ingat perkataan dokter saat itu kaki tak mungkin diselamatkan lagi dan harus diamputasi. Kalau tidak diamputasi bisa mengancam keselamatan saya karena pada saat itu kondisi tubuh sudah kehabisan darah,” ujar Jendi yang dilansir dari sport.detik.com.

Sempat terpuruk dan minder dalam kehidupan sehari-hari

Setelah peristiwa itu berlalu, ia merasa bisa menghadapi kenyataan hidup sebagai seorang penyandang difabel. Kala itu, ia berpikir dapat bergaul normal di lingkungan dengan menggunakan kaki palsu. Namun, hal tersebut berubah saat dirinya lulus dari SMP. Jendi tersadar, bahwa bukan hanya dirinya saja yang menanggung beban moral. Kedua orang tuanya pun juga ikut terpukul secara psikis saat melihat kondisinya. Dari situlah ia pun berpikir, bagaimana masa depannya kelak?

Saat itu saya tidak kepikiran bakal menjadi anak difabel. Di pikiran saya akan baik-baik saja. Tetapi, ketika melihat ke orang tua terpukul dengan keadaan saya itu. Saya sedih juga dan baru mulai tidak percaya diri justru saat menuju SMA.” kata Jendi yang dilansir dari sport.detik.com.

Renang menjadi kunci sukses Jendi keluar dari kelamnya nasib

Alih-alih terpekur merenungi nasib, Jendi pun memutuskan untuk move on ke dalam kegiatan yang lebih positif. Ia pun memilih renang dan aktif di dalamnya. Kebetulan, merasa telah memiliki bakat di olahraga tersebut karena telah menjadi kegiatan rutinnya dahulu. Jendi pun meminta salah seorang pelatih renang di Palembang agar dimasukkan ke dalam klub.

Saya kepikiran renang karena saya merasa sudah punya bakat. Waktu kecil kan hobi renang. Alhamdullilah ada pelatih di Palembang. Bapak Dirman, dia punya klub renang Lumban Tirta, dari sana saya minta dimasukkan klub dan akhirnya bisa seperti sekarang,” tuturnya yang dilansir dari sport.detik.com.

Sukses menapaki karir sebagai atlet renang

Meski dalam keterbatasan, semangat Jendi untuk berlatih sangat tinggi. Alhasil, prestasi pertamanya datang dari ajang Pekan Paralimpik Nasional pada 2012. Saat itu, ia berhasil mendulang dua emas, satu perak, dan satu perunggu. Kemenangan itu bersambung pada gelaran internasional ASEAN Para Games dengan perolehan lima medali emas. Lalu pada 2018, Jendi mendapat masing-masing satu buah emas, perak, dan perunggu dalam kejuaraan di Berlin, Jerman. Semua prestasinya di atas, diraih Jendi dengan latihan dan perjuangan yang berat.

Saya tak pernah diet, tapi memang setiap hari harus keluarkan kalori yang banyak. Pukul 5 pagi sudah di dalam air, lalu sore hari pukul 16.00-19.00. Lalu ada latihan di gym, tapi tidak boleh banyak,” ungkap Jendi yang dilansir dari cnnindonesia.com.

Atlet renang yang sukses menaklukan keadaan

Bagi pria kelahiran Sugih Waras, 10 Juni 1991 ini, dirinya senantiasa bersyukur karena mampu menjadi atlet di tengah keterbatasan hidup yang ia alami. Yang menggembirakan, Jendi mendapat panggilan ke Jakarta untuk mendaftar sebagai PNS berkat prestasinya di ajang ASEAN Para Games. Ia juga berharap, agar atlet penyandang disabilitas seperti dirinya, diberi kesempatan bekerja maupun menggunakan fasilitas publik.

Mungkin dari Undang-Undangnya sudah ada dari pemerintah tapi faktanya di lapangan banyak yang belum bisa menerima kami yang seperti ini. Ya harapannya ke depan lebih welcome lah. Tapi untuk olahraga, saat ini pemerintah sudah bagus. Artinya, sudah disamakan dengan olahraga normal. Sementara untuk aksesibilitas masih sangat kurang dan belum memenuhi standar seperti gedung dan jalan,” harapnya yang dilansir dari sport.detik.com.

Memang tak mudah menerima keterbatasn fisik dalam hidup. Terlebih jika faktor lingkungan di sekeliling tak mendukung hal tersebut. Namun, kisah Jendi di atas ternyata mematahkan hal itu. Terbukti, ia berhasil meraih prestasi dalam hidupnya meski menyandang keterbatasan secara fisik. Sebuah contoh nyata, bahwa setiap usaha yang dilakukan secara ikhlas tak pernah mengkhianati hasilnya.

Related posts