Perpustakaan Indonesia Terbanyak Kedua Di Dunia

Berbagisemangat.com – Jumlah infrastruktur perpustakaan Indonesia ternyata sangat besar bahkan terbanyak kedua di dunia setelah India. Namun, sayangnya hal itu tidak dibarengi oleh tingginya minat baca masyarakat. Kini pemerintah sedang berupaya untuk mendorong budaya baca lewat pembentukan aplikasi elektronik perpustakaan, peningkatan digitalisasi buku, hingga sinergitas KTP dengan akses ke perpustakaan.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengungkapkan, jumlah perpustakaan di Indonesia 164.610 buah. Hal ini menempatkan Indonesia berada di posisi kedua perpustakaan terbanyak di dunia. Urutan pertama ditempati India dengan 323.605 perpustakaan.

Negara dengan infrastruktur perpustakaan terbanyak ketiga adalah Rusia dengan 113.440 dan China di urutan ke empat dengan 105.831 perpustakaan. Muhammad menyampaikan, mandatori untuk mendirikan kelembagaan perpustakaan di provinsi dan kabupaten kota itu baru dimulai setelah ada UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Lalu setelah itu pun harus menunggu PP 18/2016. Jika jumlah perpustakaan di Indonesia banyak maka bagaimana tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Dia menjawab bahwa yang harus menjadi catatan penting ialah sejauh mana perpustakaan tersebut bisa memberi akses kepada masyarakat.

Misalnya dengan menggunakan teknologi, Perpustakaan Nasional memiliki aplikasi elektronik perpustakaan di mana masyarakat yang tidak berminat menjadi anggota tetap bisa membaca buku koleksi Perpustakaan Nasional melalui telepon genggamnya.

Muhammad menjelaskan, saat ini aplikasi tersebut sudah bisa diinstal oleh masyarakat yang langsung bisa mengakses 600.000 kopi buku yang sudah didigitalisasikan. “Dan aplikasi ini yang menempatkan Perpustakaan Nasional di Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia yang sudah menerapkan digital recognition,” ungkapnya.

Langkah kedua agar seluruh masyarakat bisa mengakses koleksi buku ialah dengan mengajukan ke Kementerian Dalam Negeri agar ke depan setiap masyarakat yang mempunyai KTP bisa langsung koneksi ke perpustakaan. Harapan sinergitas KTP ini, katanya, tentu bisa diawali di Perpustakaan Nasional, sehingga begitu pengunjung menunjukkan NIK-nya maka dia pun bisa langsung terkoneksi.

Dengan teknologi ini, masyarakat tidak perlu datang ke perpustakaan untuk membaca, tetapi dia bisa mengakses koleksi e-book ataupun e-journal yang dimiliki Perpustakaan Nasional melalui aplikasi Indonesia One Search yang dikelola Perpustakaan Nasional.

“Jadi sekarang ada pilihan ke masyarakat. Dia mau gunakan HP yang ada untuk habiskan waktu, energi, biaya, dan pulsa hanya untuk (mengakses) medsos atau mau pintar. Negara berubah karena literasi. Dan yang membedakan antara negara maju dan terbelakang ialah kegemaran membaca.

Sementara perpustakaan menjadi institusi universal yang bisa memfasilitasi orang untuk berkembang,” jelasnya. Deputi Bidang Pengembangan Badan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Ofy Sofiana menerangkan, koleksi buku di Perpustakaan Nasional hingga saat ini mencapai 5 juta judul, lalu ditambah lagi ada 2 miliar artikel dari semua bidang ilmu yang bisa diakses dan ada 27.000 judul ebook yang juga bisa diakses langsung oleh masyarakat.

Mendagri Tjahjo Kumolo menjelaskan, tahun 2019 ini Presiden Joko Widodo mencanangkan program prioritas pembangunan kualitas SDM. Salah satu dampak yang ingin dicapai ialah untuk membangun kegemaran masyarakat Indonesia akan budaya membaca.

Dia pun mendukung target dari Perpustakaan Nasional yang ingin minimal di setiap desa ataupun tingkat ke amatan dan kabupaten kota mempunyai perpustakaan. “Hasil rakor ini akan dibawakan ke Presiden. Setidaknya di internal kami akan buat regulasi.

Minimal kabupaten kota (bisa) menganggarkan ada unit perpustakaan yang bisa menggerakkan masyarakat atau mengorganisasi untuk gemar membaca dan juga bisa menambah ilmu pengetahuan,” katanya.

Dalam sambutan, Mendagri menyampaikan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam upaya mewujudkan SDM yang berkualitas, mandiri, dan mampu berdaya saing di era global. Salah satu peran penting tersebut ialah membangun ekosistem masyarakat berpengetahuan (knowledge based society).

Dalam rakor yang dihadiri oleh gubernur, wali kota, bupati, dan Dinas Perpustakaan seluruh Indonesia ini, Mendagri menyerahkan penghargaan kepada Gubernur Jambi Fachrori Umar sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di wilayahnya.

Juga kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam inovasi layanan perpustakaan umum dan Sri Sultan Hamengku Buwono X atas kepedulian dan komitmen beliau terhadap pelestarian naskah kuno di lingkungan keraton Yogyakarta.

Minat Baca Rendah

Berdasarkan studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU) John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. Dalam menyusun studi tersebut, Miller menggunakan lima kategori pendukung minat baca di sebuah negara, dua di antaranya adalah ukuran serta jumlah perpustakaan dan kebiasaan membaca koran.

Ia dan timnya memeriksa data dari 200 negara di dunia. Tetapi karena kurangnya sumber daya maka hanya memasukkan 61 negara dalam pemeringkatan. “Faktor-faktor yang kami selidiki menunjukkan betapa kompleksnya budaya serta kondisi dari negara-negara tersebut.

Tingkat literasi sangat penting bagi keberhasilan individu dan negara dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global,” urai John Miller, melansir dari situs resmi CCSU. Studi tersebut memadukan dua variabel, yakni uji pencapaian dan karakteristik perilaku literasi.

Faktor yang tidak bisa terpisahkan dari variabel tersebut adalah sistem pendidikan di suatu negara. Lima negara dengan peringkat tertinggi yakni Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, dan Swedia, menunjukkan pengaruh tersebut.

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin berpendapat, jumlah perpustakaan Indonesia terbanyak kedua di dunia, namun tidak sebanding dengan rendahnya minat baca karena konsep perpustakaan yang dikembangkan di Indonesia masih kuno.

“Karena konsep perpustakaannya kuno. Fokusnya ke jumlah buku. Bukan kegiatan dengan buku yang ada tersebut,” katanya ketika dihubungi KORAN SINDO. Totok melanjutkan, perpustakaan yang beroperasi di negara-negara maju bahkan sudah berubah.

Mereka tidak hanya tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat kegiatan warga masyarakat dan berbagi macam-macam pengetahuan. Dia pun mendorong agar perpustakaan di Indonesia menjadi tempat warga untuk berkumpul dan beraktivitas, berbagi ilmu, pameran, peragaan, diskusi berbagai isu, berkarya, nonton bareng, ataupun sekadar ngopi bareng.

“Mendorong literasi itu tidak hanya tawarkan buku bacaan. Ciptakan tema yang relevan dengan warga sekitar setiap bulan. Buat suasana senang dan nyaman untuk semua usia datang ke perpustakaan,” harapnya.

Related posts