Bikin Bangga, Kisah Ryan Penyandang Disabilitas yang Sempat Jadi Pengamen Lalu Pegawai SPBU

Berbagisemangat.com – Petugas SPBU Shell di bilangan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, itu tampak sibuk melayani para pengendara yang silih berganti mengisi bahan bakar.

Dengan senyum yang ramah, ia melayani para pengendara di bagian khusus mobil.

Kendati hanya memiliki satu tangan, ia tangkas kesana kemari mengisi dan memberikan struk pembelian di pos kasir kepada pelanggan yang telah menunggu.

Alhasil, antrian pun tak pernah terlihat mengular di sekitaran SPBU tersebut lantaran para petugas termasuk dirinya sigap melayani para pengendara.

Ryan, Petugas SPBU Shell Gatot Subroto yang tetap semangat bekerja di tengah keterbatasan fisiknya.
Ryan, Petugas SPBU Shell Gatot Subroto yang tetap semangat bekerja di tengah keterbatasan fisiknya. (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Begitulah sosok Ryan, penyandang disabilitas itu hanya memiliki satu tangan pascakecelakaan saat dirinya masih remaja.

Ryan tak pernah terlihat bermuram durja saat melayani para pengendara.

“Saya selalu bersikap ramah dengan para pengendara. Selalu senyum melayani para pengendara sudah kewajiban saya dan yang lainnya” ujarnya saat ditemui TribunJakarta.com, Rabu (28/3/2018).

Tampaknya sikap ramahnya tak hanya ia tunjukkan kepada para konsumen saja, melainkan kepada siapa saja.

Terbukti, ia dengan senang hati mengisahkan kisah hidupnya hingga menjadi seorang petugas SPBU Shell.

“Sebenarnya ini bukan karena dari lahir (kehilangan tangan kirinya) tapi karena kecelakaan saat saya masih remaja. Waktu itu jadi kenek tronton, kakak saya jadi supir. Pas perjalanan dari Bandung ke Jakarta terjadi kecelakaan parah,” kenangnya.

Namun, nasib baik masih menghinggapi dirinya.

“Saya selamat tapi jahitan memenuhi sekujur tubuh saya. Bagian tubuh yang enggak ketolong di bagian tangan kiri saya. Udah kepisah sewaktu kecelakaan. Sekitar tahun 1999 itu terjadi,” tuturnya.

Ia pun sempat mengalami masa depresi pascakecelakaan tersebut yang mengakibatkan kehilangan tangan kirinya.

“Awalnya saya sempat ada masa-masa itu (depresi). Tapi saya tetep ngelanjutin hidup. Saya sekolah sampe kuliah. Meski kuliah pun saya lulusnya lama karena masalah keuangan,” terangnya.

Pascakecelakaan itu, ia pun berhenti menjadi seorang kenek tronton lantas beralih menjadi seorang pengamen jalanan.

“Saya sempet jadi pengamen jalanan karena engga punya duit dan kerjaan. Di metromini ngamen buat ngumpulin duit. Kuliah mau engga mau terhenti dulu karena kakak juga lagi sakit pengeluaran duit banyak,” ungkapnya.

Akan tetapi Ryan tak ingin selalu jatuh dalam keterpurukan.

Ia ingin berbenah menjadi seorang pribadi yang berguna dan bisa membangun sebuah keluarga.

“Saya engga mau begini terus kemudian bekerja keras cari pekerjaan yang layak. Itu saya lakukan sewaktu lulus kuliah. Saya banyak ditolak perusahaan. Tapi saya tetap salat dan selalu dzikir kepada yang maha kuasa. Mohon terus di masjid deket rumah,” kenangnya.

Tak berselang lama, Tuhan pun menjawab doa Ryan.

“Saat saya kembali putus asa, seorang teman menghampiri saya. Ia mengajak saya bekerja di sebuah perusahaan tempat saya kerja sekarang (Shell). Nunggu panggilan saya sembari sholat terus di measjid. Alhamdulilah saya dipanggil dan diterima oleh bos saya. Dia memotivasi saya kerja di SPBU di Mampang Prapatan,” tuturnya.

Berkat motivasi itu, Ryan pun banyak belajar dari arahan sang atasan tersebut.

“Kita dulu sering diajarkan untuk bagaimana melayani para pelanggan dengan sangat baik. Mungkin meski saya punya keterbatasan fisik, bos saya lihat saya tekun dan mengikuti arahannya,” ujar Ryan.

Terbukti, prestasi gemilang pun akhirnya ia raih lantaran selalu memberikan yang terbaik pada pekerjaannya di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki.

“Saya alhamdulilah mendapat Superstar peringkat ketiga pelayan terbaik Shell di Indonesia tahun 2016-2017. Selain itu saya juga pernah mendapat penghargaan Shell Internasional mendapat uang 500 ribu, baju dan topi ferrari asli karena memberikan minuman kepada konsumen yang terlihat lelah,” kenangnya.

Di akhir pembicaraan, ia pun memiliki pesan kepada pemerintah dan para penyandang disabilitas.

“Untuk pemerintah semoga terus ada perhatian kepada orang-orang difabel untuk peluang bekerja di kantor semakin besar. Dikasih kesempatan mereka bekerja. Selain itu bagi para penyandang disabilitas jangan patah arang terus semangat jangan sampai drop,” tutur ayah dua orang anak itu.

Related posts