Punya Penghasilan Hanya 16 Ribu, Keluarga Ini Harus Terima Hidup di Hubuk Pinggir Sungai

Berbagisemangat.com – Tinggal dalam rumah ataupun hunian yang layak tentu menjadi hal yang diinginkan oleh hampir seluruh keluarga. Akan tetapi, berbeda dengan keluarga dari bapak Aca (70) yang tak mampu lagi membayar rumah kontrakan.

Amat pilu, kini dirinya bersama keluarga tinggal dalam sebuah gubuk di pinggiran sungai. Bahkan, gubuk tersebut berdiri bukan di tanah tanpa pemilik.

Diketahui, dirinya tak lagi dapat bekerja seperti sedia kala untuk mencari nafkah sejak mengalami kecelakaan dan mengakibatkan patah tulang. Sebelumnya Pak Aca bekerja sebagai seorang petani.

Sebuah kisah pilu datang dari salah satu keluarga yang ada di Mangkumbumi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Keluarga bapak Aca terpaksa harus tinggal dalam sebuah gubuk yang ia dirikan di pinggiran sungai.

Seperti dilansir dari Kitabisa.com, pak Aca sudah tak sanggup untuk membayar rumah kontrakan. Maka ia terpaksa memboyong keluarganya tinggal dalam gubuk tersebut.

Begitu memprihatinkan, gubuk tempat tinggal pak Aca dan keluarga terbuat dari tempelen beberapa bahan kayu. Dindingnya pun nampak bolong, dengan atap yang hanya berbahan spons sehingga selalu bocor jika hujan.

Selain itu, pak Aca juga tidak mampu untuk membayar listrik. Sehingga ia dan keluarga sudah terpaksa hidup tanpa adanya listrik penerangan.

Yang lebih memilukan, gubuk tersebut berdiri di Tanah milik pemerintah. Hal tersebut tentu membuat pak Aca dan keluarga merasa was-was setiap saat.

Ia khawatir, karena suatu saat gubuknya akan digusur saat Tanah tersebut dibangun oleh pemerintah. Belum lagi tempat tinggalnya tersebut tidak dilengkapi dengan sanitasi yang baik sehingga membuat pak Aca dan keluarga memanfaatkan sungai dan pengairan darurat.

Dilansir dari Kitabisa.com, pak Aca memiliki satu orang istri dan dua buah hati. Namun sayang, buah hati pertamanya terpaksa harus putus sekolah lantaran pak Aca tak sanggup lagi membiayai.

Sedangkan anak keduanya saat ini sedang menempuh pendidikan tingkat SMP di salah satu pesantren.

Saat ini pak Aca hanya bisa berjualan bubur di depan gubuknya. Sesekali ia kerap mengeluh sakit akibat kecelakaan yang menimpanya.

Namun hal tersebut tak membuat pak Aca menyerah dalam mencari nafkah. Meski dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup yakni Rp16 ribu per hari, pak Aca tetap berusaha demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

Related posts