Rita Suwanda Mengelilingi Dunia Demi Pencak Silat

Berbagisemangat.com – Dapur, sumur, dan kasur. Tiga kata itu tak ubahnya stigma yang melekat pada kaum perempuan sejak lama. Katanya itu kodrat.  Sementara hal-hal yang berbau ‘kekuatan’, semisal pencak silat, jadi milik dan urusan kaum pria.

Tapi justru di zaman yang serba tabu itu muncul seorang pendekar perempuan yang justru ngotot mempelajari seni bela diri khas Tatar Sunda itu. Bukan maksud ingin mendobrak kodrat, tapi ia hanya ingin mengubah paradigma kolot soal seni bela diri pencak silat yang kerap diidentikkan dengan kekerasan dan kaum pria.

Awal kisah sekira tahun 1960-an, ketika kaum perempuan dianggap tidak pantas menekuni seni bela diri.  Adalah Rita Suwanda, yang merasa pencak silat bukan melulu soal kekerasan atau citra keperkasaan. Toh, sah-sah saja jika seni bela diri berubah format sesuai kebutuhan seseorang yang mempelajarinya. Apalagi bagi kaum perempuan, dimana pencak silat bisa diibaratkan kemampuan pertahanan.

Sikap keras kepala Rita dan aturan yang mengikat, membuatnya berang dan ingin mendapatkan ilmu pencak silat yang sama seperti halnya dua saudara laki-lakinya, Herman Suwanda dan Bambang Suwanda. Meski kala itu sang ayah, Uyuh Suwanda, mati-matian melarang putrinya ini belajar pencak silat.

Meski dilarang, tapi Rita, yang kala itu baru menginjak usia 14 tahun, keukeuh untuk mengikuti latihan pencak silat di kediamannya, di Padepokan Pencak Silat Mande Muda yang didirikan sang ayah di Bandung. “Karena tiap hari di rumah ada latihan silat, jadi saya sering melihat,” kenangnya ketika berbincang dengan AyoBandung di Taman Budaya Jawa Barat, Bandung.

Namun perlahan, keseriusan dan keuletan Rita rupanya membuahkan hasil. Sikap sang ayah kian melunak. Rita diizinkan untuk memperdalam pencak silat. Dan dari sanalah, Rita berhasil menggenggam dunia dengan berbagai penghargaan kompetisi seni dan festival pencak silat yang didapatnya.

“Karena saya memang terlahir dari keluarga pesilat, makaya darah gairah di pencak silat selalu ada. Dulu, bukan tanpa kendala saya terjun sebagai pesilat wanita. Tapi ya itulah tekad, tidak kalah hanya dengan kerikil kecil.”

— Rita Suwanda

Tekad Rita memang tidak main-main. Terbukti, setelah berkeluarga, Rita melanjutkan kepemimpinan kakaknya, Herman Suwanda, di Perguruan Silat Mande Muda di Amerika Serikat. Ia mantap dengan misinya mengembangkan pencak silat aliran Mande Muda, khas Jawa Barat di mata dunia. Berbekal wasiat dari sang ayah, Rita melenggang ke Negeri Paman Sam.

Usaha Rita untuk mengembangkan seni bela diri pencak silat di negeri orang itu tidak berjalan tanpa hambatan. Selama tujuh tahun, ia kerap dianggap remeh oleh para ahli beda diri di sana. Ia juga harus bersaing dengan bela diri yang tengah populer saat itu. Tapi lagi-lagi, bukan Rita namanya kalau tak pantang menyerah, ia tetap berusaha mengenalkan silat Mande Muda di sana.

“Mereka memandang sebelah mata pencak silat dan karena saya wanita, tapi saya membuktikannya lewat teknik silat dengan serangan gaya sendiri. Selama lima tahun, saya jatuh bangun untuk mengenalkan silat Mande Muda,” tutur Rita.

Kini perjuangan Rita berbuah manis, membuatnya mengelilingi dunia, menggenggam dunia. Dari Eropa sampai Amerika disambanginya hanya untuk mengembangkan seni bela diri pencak silat.

“Kita harus bangga sekarang pencak silat sudah dihargai dan sejajar dengan bela diri yang lain. Karena semua pihak mengembangkan, juga melestarikan kembali. Saya merasa bangga bisa bercerita ke dunia luar, silat tidak kalah hebat. Saya juga tidak merasa segan mengajak mereka ke Indonesia.”

Namun, di balik kebanggaan itu rupanya ada duka. Melihat di tanah air, pencak silat seolah asing dan terabaikan. Sementara, orang asing dibuat penasaran oleh pencak silat. Ironis.

“Saya hanya berpesan seni tradisi khususnya pencak silat itu lebih bermasyarakat di Indonesia sendiri sebagai pribumi. Jangan sampai nanti misal 20 tahun ke depan, kita malah belajar pencak silat itu ke Amerika atau ke Eropa,” pinta Rita.

Related posts