Sudah Tua Masih Jadi Buruh Gendong Pasar Wonogiri, Sukini Akui Tidak Malu

Berbagisemangat.com – Sukini, perempuan asal Grobog, Wuryorejo, Wonogiri, Jawa Tengah ini sehari-hari bekerja sebagai buruh gendong di Pasar Kota Wonogiri.

Meski sudah berusia senja, yakni 62 tahun, Sukini tetap bersikeras menjalani pekerjaannya sebagai buruh gendong di Wonogiri. Ia menjalani pekerjaan sebagai buruh gendong sejak 2002, tepatnya setelah Pasar Kota direnovasi akibat kebakaran.

Selama dua tahun awal, dia menggunakan senik dan jarik untuk menggendong atau mengantar barang pelanggan. Melihat hal tersebut, suaminya merasa kasihan. Sehingga akhirnya ia dibelikan troli atau alat angkut barang.

Hasil yang ia peroleh dari buruh gendong pun bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Bahkan, terkadang ia menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk membantu sekolah cucunya.

Namun, sejak pandemi Covid-19, pendapatan yang ia peroleh mengalami penurunan signifikan. Untuk tarif ia tidak menentukan. Rata-rata pelanggan memberi dia upah Rp5.000 hingga Rp20.000.

“Pelanggan memberi uang kepada saya tidak tentu. Kadang kalau orang sudah tua, saya dikasih Rp2.000-Rp3.000. Tetapi saat ada orang yang kasihan dengan saya, kadang diberi upah di atas Rp20.000,” kata dia kepada Solopos.com di area Pasar Kota Wonogiri, Kamis (18/6/2020).

Berkurangnya pendapatan hasil buruh gendong disebabkan jumlah pengunjung di Pasar Kota Wonogiri menurun. Kondisi itu terjadi selama tiga bulan atau sejak pertengahan Maret 2020. Bahkan ia lebih sering tidak ke pasar dan memilih di rumah saja.

Sebelum ada pandemi, ia bisa mengantar barang sebanyak 10 kali dalam satu hari. Selama pandemi, ia hanya bisa mengangkut barang sebanyak tiga kali. Penghasilan yang ia peroleh selama pandemi rata-rata Rp15.000 per hari. Padahal dalam kondisi normal ia bisa mendapat penghasilan Rp100.000 per hari.

“Kalau buruh perempuan mengangkut barangnya tidak bisa banyak seperti laki-laki. Jadi pelanggannya pun lebih sedikit dibandingkan buruh laki-laki. Tetapi, meskipun perempuan saya tidak malu. Ini sudah kemauan saya. Saya masuk toko-toko sudah biasa” tambah dia.

Selain menjadi buruh gendong di Pasar Kota Wonogiri, Sukini juga berdagang aneka makanan dan minuman ringan berupa angkringan di pojokan pasar sisi utara lantai II.

Warung tempat ia berjualan di pasar juga terdampak. Jika biasanya mendapat penghasilan kotor senilai Rp300.000 per hari, saat pandemi rata-rata hanya Rp50.000 per hari.

Suami Sukini masih ada. Ia adalah penjual tempe keripik. Saat pandemi, dagangan suami Sukini juga terdampak. Ia mempunyai tiga anak dan empat cucu.

Salah satu alasan ia tetap bekerja sebagai buruh gendong dan berjualan di Pasar Kota Wonogiri adalah ingin membantu biaya sekolah cucunya. Ia ingin melihat cucunya sukses kelak. Salah satu cucunya saat ini sudah kuliah. Dua pekan sekali ia turut memberi uang untuk cucunya.

“Saya masih bersemangat membiayai cucu saya, selagi saya masih mampu. Kelak ketika sudah tidak bisa bekerja, saya bisa dirumati cucu,” kata dia.

Artikel : Solopos.com

Related posts