Terinspirasi Anders Breivik, Manifesto Pembantaian Masjid New Zealand Ungkap Motivasi Pelaku

Berbagisemangat.com – Detail mengenai pembantaian jemaah Al Noor Mosque di Christchurch, New Zealand, Jumat (15/3/2019) bermunculan. Di antaranya manifesto pelaku yang berasal dari Australia, Brenton Tarrant. Melalui akun Twitter miliknya ekstremis sayap kanan berusia 28 tahun itu memosting manifesto berisi rincian rencananya melakukan pembantaian, hanya beberapa jam sebelum serangan.

Dikutip dari DailyMail, dalam manifesto online 73 halaman berjudul The Great Replacement  pagi hari itu, Tarrant mengungkap motivasi dan detail pembantaian yang menewaskan setidaknya 40 jemaah di masjid berkapasitas 300 orang tersebut. Kepolisian menyebut pihaknya menangkap tiga orang pria dan seorang perempuan, termasuk Tarrant.

Brenton Tarrant.

His inspiration: Anders Behring Breivik.

The manifesto.

Manifesto Tarrant mengungkapkan secara detail apa yang membuatnya merasa wajib melakukan pembantaian. Juga alasannya memilih masjid. Tarrant pun menegaskan dirinya terinspirasi penembak massal asal Norwegia, Anders Behring Breivik.

“Aku  telah membaca tulisan-tulisan Dylan Roof (pelaku penembakan gereja di Amerika Serikat dengan sembilan korban tewas) dan banyak lainnya, tapi aku  benar-benar hanya terinspirasi Knight Justiciar Breivik,” tulisnya.

Brievik merupakan  warga Norwegia yang juga pelaku tunggal pembantaian pada 22 Juli 2011. Ia meledakkan bom mobil di luar gedung pemerintah di Oslo hingga menewaskan delapan orang. Aksinya berlanjut dengan melakukan penembakan massal yang menewaskan 69 orang,  mayoritas  remaja di perkemahan musim panas Liga Pemuda Buruh di Pulau Utoya. Seperti Breivik, aksi Tarrant didorong “rasa keadilan”.

PM New Zealand Jacinda Ardern.

PM Australia, Scott Morrison.

Mengaku pria kulit putih biasa yang lahir di Australia dari kalangan kelas pekerja dan keluarga berpenghasilan rendah, Tarrant bertekad mengambil sikap demi keadilan bagi warga kulit putih dari “invasi pendatang”. “Aku hanya pria kulit putih biasa dari keluarga biasa, yang memutuskan mengambil sikap untuk memastikan masa depan bagi sesama,” tulisnya.

Daily Mail Australia menyebut Tarrant dibesarkan di Grafton, New South Wales, tempat sebagian besar keluarganya masih tinggal. Ayahnya, atlet yang triathlon  meninggal akibat  kanker pada tahun 2010 di usia  49. Ibunya masih tinggal di daerah yang sama.

Tarrant bersekolah di sekolah menengah setempat dan bekerja sebagai pelatih pribadi di Big River Squash and Fitness Center sejak 2010. Seorang wanita yang mengenal Tarrant di gym mengatakan Tarrant menjalani diet ketat dan penggila olahraga.

The amunition.

Dalam manifestonya Tarrant mengaku tak tertarik dengan pendidikan atau apa pun yang ditawarkan universitas. Tarrant awalnya berencana  menargetkan sebuah masjid di Dunedin, tapi berubah menjadi Masjid Al Noor karena diyakini memiliki jauh lebih banyak “penjajah”.

“Untuk menunjukkan pada para penjajah bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka, tanah air kita adalah milik kita dan selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah juga menggantikan orang-orang kita. By the definition, then yes, ini serangan teroris tapi aku percaya ini tindakan partisan melawan kekuatan pendudukan.” Demikian di antara manifesto Tarrant.

Tak hanya Breivik, Tarrant juga  terinspirasi  Candace Owens,  pendukung vokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Orang yang paling memengaruhiku adalah Candace Owens, setiap kali dia beropini aku selalu  dibuat terkejut dengan wawasannya.” Dan Tarrant mengeksekusi semua manifestonya dengan menyiarkan langsung penembakan massal di dalam Masjid Al Noor ketika salat Jumat sedang berlangsung.

Related posts