Viral Video Anggota Pasukan PBB di Sudan Ajarkan Anak-anak Mengaji, Ternyata Polisi Asal Polda Aceh

Berbagisemangat.com – Video pendek yang memperlihatkan aksi seorang anggota pasukan perdamaian PBB di Sudan, baru-baru ini viral di media sosial.

Berdiri di samping mobil patroli berlambang UN (United Nation), personel berseragam pasukan perdamaian PBB ini dikerubungi oleh anak-anak Sudan.

Tulisan “POLISI” di dada kiri dan bendera Merah Putih di lengan kiri seragam PBB itu sudah cukup menunjukkan bahwa sang petugas ini adalah polisi asal Indonesia yang menjadi bagian dari pasukan perdamaian PBB di Sudan.

Ayat per ayat dari Surat An-Nas meluncur fasih dari mulutnya.

Belasan anak-anak yang memakai baju seadanya, terlihat antusias mengikuti setiap ayat yang dibaca oleh

Dia dengan fasih membaca ayat Alquran yang diikuti oleh anak-anak tersebut.

Video tersebut hanya berdurasi 1 menit dan terputus setelah mereka menyelesaikan bacaan 6 ayat pendek Surat An-Nas.

Penelusuran Serambinews.com, diperoleh informasi bahwa polisi yang ada dalam video itu bernama Nabhani Akbar.

Ia adalah personel Polri yang berdinas di Polda Aceh, dengan pangkat Brigadir Satu.

Video tersebut ternyata juga diposting di Instagram miliknya.

Video ini diposting pada tanggal 20 November 2020.

“Belajar Tahsin Al Qur’an bersama saudara muslim, semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan dan kekuatan untuk selalu mengindahkan kalam Allah dimanapun berada,” tulis Nabhani dalam postingannya.

Hingga Jumat 4 Desember 2020, postingan ini sudah ditonton sebanyak 17,235 kali.

Sosok Nabhani dikenal luas sebagai anggota Polri yang jago mengaji.

Sebelum bertugas sebagai anggota pasukan perdamaian PBB di Sudan, ia mengajarkan Alquran kepada santri di pondok pesantren Markaz Al Islah Al Aziziyah, kecamatan Lueng Bata Banda Aceh.

Serambi Indonesia/Serambinews.com pernah secara khusus menurunkan tulisan tentang sosok Briptu Nabhani ini.

Berikut kisah Briptu Nabhani Akbar yang tayang di Serambinews.com Kamis 2 Juli 2020.

NABHANI Akbar, polisi yang bertugas di Mapolda Aceh ini juga terkenal sebagai qari.

Ia tidak hanya bertugas sebagai abdi negara, tetapi juga sebagai guru bagi para santri di Dayah Markaz Al Islah Al Aziziyah, Banda Aceh.

Kegiatan mengajar ini ia lakukan sore hari sepulang bertugas dari rutinitasnya sebagai polisi.

Setiap hari, pria berpangkat Brigadir Satu (Briptu) ini selalu meluangkan waktunya untuk mengajarkan tilawah Alquran dan Bahasa Arab kepada puluhan santri, yatim korban tsunami dan korban konflik yang berasal dari seluruh Aceh.

Sebenarnya, sejak menjadi anggota polisi tahun 2014, Nabhani sudah menjadi guru ngaji bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Polsek Luengbata, Kota Banda Aceh.

Ia juga pernah menjadi juara Musabaqah Tilawatil Quran Polda Aceh pada tahun 2016.

Atas prestasi tersebut, ia mendapatkan hadiah umrah ke Tanah Suci.

Selain itu, akibat kecakapannya dalam berbahasa Arab, Nabhani juga ditugaskan ke Sudan dalam misi perdamaian PBB sebagai penerjemah Bahasa Arab.

Kemahirannya berbahasa Arab itu dia dapatkan saat menempuh pendidikan di salah satu dayah di kampung halamannya, Bireuen.

Ilmu itulah yang kemudian ia aplikasikan kepada santri-santri di dayah tempat ia mengajar dan tinggal saat ini.

Selama proses belajar, ia kerap menyampaikan pesan-pesan bermanfaat kepada muridnya, terlebih para anak didiknya didominasi oleh santri usia remaja.

“Apa yang saya lakukan ini merupakan salah satu kewajiban di luar tugas pokok kepolisian dan menjadi tanggung jawab saya sebagai anggota Polri,” kata Briptu Nabhani.

Dia juga mengaku sangat senang bisa mengajar mengaji, mengajar kitab dan Bahasa Arab bagi anak-anak yatim tersebut.

“Rasa penat dan lelah di kantor hilang seketika jika sudah mengajar para santri di sini,” imbuhnya saat diwawancarai Serambi, Rabu (1/7/2020).

Nabhani mengaku sudah enam tahun mengajarkan ilmu agama dan mengaji di Dayah Markaz Al Islah Al Aziziyah.

Dimulai dari tahun 2014 saat mengikuti Program Polisi Saweu Dayah.

Dari 25 polisi yang ditempatkan di dayah tersebut, hanya dirinya yang mampu bertahan dan beradaptasi.

Nabhani bahkan menetap di dayah tersebut. Baginya, menjadi seorang guru ngaji adalah panggilan hati. Bahkan usai bertugas di Sudan nanti, ia tetap berkeinginan kembali mengajar ngaji.

“Selepas pulang nanti dari Sudan, saya bertekad tetap terus menjadi guru ngaji di sini,” pungkasnya.

Lantas apa impian dan harapannya ke depan? Nabhani mengaku ingin jajaran kepolisian bisa lebih dekat dengan masyarakat.

Ia juga berharap mendapatkan dukungan dari semua pihak untuk bisa terus mengajar mengaji dan bermanfaat bagi masyarakat dan Negara.

Artikel: serambinews.com

Related posts