Jadi Penjual Es Kue Keliling, 15 Tahun Tobiin Rahasiakan Pekerjaan Takut Anaknya Yang Kuliah Patah Semangat

Berbagisemangat.com – Takut keluarganya malu, Tobiin (54) diam-diam jalani profesinya.

Terhitung saat ini sudah 15 tahun Tobiin, pria asli Tegal, Jawa Tengah menjalani hidupnya sebagai penjual es kue keliling.

Tempat es berukuran sedang dan berwarna coklat selalu dibawanya sejak pagi dari kontrakannya di daerah Pondok Melati, Bekasi.

Tak lupa ia selalu mengenakan topi kesayangannya untuk melindungi kepalanya dari cuaca yang akhir-akhir kerap tak bersahabat.

“Sudah lama saya jualan begini. Ada kali 15 tahunan,” ucapnya dilansir dari TribunJakarta.com.

Selama 15 tahun bekerja, Tobiin menuturkan tak memiliki cerita unik. Kehidupan yang dijalaninya selalu pasang surut.

“Namanya orang dagang, kadang habis kadang engga.”

“Jadi saya setoran ke bos sesuai barang yang habis di jual aja,” sambungnya.

Namun, ada hal penting yang selalu dijaganya selama 15 tahun belakangan ini.

Selama ini, Tobiin selalu merahasiakan profesinya dari keluarganya maupun para tetangganya di kampung.

“Tapi selama ini keluarga saya enggak ada yang tahu saya kerja apa.”

“Sampai anak pertama dan kedua saya pada kuliah di Jakarta juga saya enggak ngaku kerja apa,” ungkap dia.

‘Malu’, menjadi kata yang selalu keluar dari mulutnya.

Tobiin mengaku profesinya pekerjaan yang saat ini dijalaninya, membuatnya tak percaya diri.

Ia kadung takut anak-anaknya patah semangat tahu profesi aslinya selama ini.

“Anak pertama saya, Hayatullah sekarang sudah kerja tadinya dia kuliah di UIN.”

“Selanjutnya, anak kedua saya, Nahib juga lagi kuliah semester 7 di Universitas Mercu Buana.”

“Nah kalau si bungsu, Halimah sedang ikut-ikut tes masuk kuliah,” katanya.

“Saya cuma takut kalau jujur mereka semua malu.”

“Selain itu mereka jadi kasian sama saya dan enggak kepingin kuliah.”

“Yang saya takutin mereka malah berucap saya mau bantu bapak aja.”

“Itu yang enggak mau saya dengar. Biarpun saya bodoh, anak-anak saya harus maju,” tambah dia.

Sebenarnya, Tobiin bukanlah tipikal pria yang tertutup.

Namun, keadaan memaksanya menutup rapat rahasia tersebut selama belasan tahun demi kebaikan bersama.

Dulunya, saat Tobiin memiliki pekerjaan yang menurutnya jelas, ia terbuka kepada keluarganya perihak profesinya.

Bagi Tobiin, apapun profesi pekerjaannya, ia sudah bertekad bulat akan menguliahkan ke-3 anaknya.

Untuk itu, sawah dan kebun sekira 8.000 meter yang ditanami pala, cengkeh dan bumbu dapur lainnya tak pernah sekalipun ia jual.

“Kalau kuliahin anak dari jualan es kue aja mana bisa. Kan sehari paling panyak juga cuma Rp 50 ribu.”

“Itupun belum dikurang setoran, makan dan lain sebagainya.”

“Makanya saya tetap kerja begini supaya untuk kehidupan sehari-hari dari uang jualan aja.”

“Sementara hasil kebun sama sawah fokus untuk keluaraga aja,” ungkapnya.

Akhirnya, selama anak-anaknya kuliah, Tobiin selalu mengandalkan hasil kebun dan sawahnya.

Semua itu untuk menutupi kekurangan biaya kuliah maupun kebutuhan kuliah anak-anaknya.

“Ya paling anak saya mintanya laptop karena untuk kuliah kan.”

“Tapi kalau transport biasanya mereka itu pada kerja.”

“Saya gimana anak-anak aja. Mau kuliah sambil kerja juga enggak apa-apa,” katanya.

Oleh sebab itu, Tobiin berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak merasa malu ataupun berkecil hati.

Bila di suatu hari nanti mengetahui profesi pekerjaan ayahnya yang sebenarnya.

Tobiin hanya ingin anak-anaknya terus melanjutkan cita-citanya dan tak memikirkan pekerjaannya.

“Ini kan istilahnya seperti pekerjaan sampingan selama merantau aja.”

“Tapi penghasilan pokok saya juga terbantu dari kebun dan sawah di kampung.”

“Jadi anak-anak bapak enggak usah khawatir.”

“Insya Allah bapak punya rezeki untuk kalian dan bisa mengantarkan kalian semua sampai lulus kuliah,” ujarnya.

Related posts