Pendidikan Marinir, Alarm Bangun Tidurnya Suara Ledakan Granat Dan Rentetan Tembakan AK-47

Berbagisemangat.com – Menjadi prajurit TNI bagi insan Indonesia adalah kebanggaan tersendiri. Namun perlu kerja keras amat ekstra agar seorang warga sipil pantas mengenakan baret dan seragam doreng TNI.

Bagi yang lemah mental, lebih baik mundur sebelum berniat mendaftar menjadi hulu balang republik. Dikutip dari Intisari, Rabu (30/1) salah satu Komando Utama (Kotama) TNI ialah Marinir.

Marinir berada dalam struktur TNI AL dengan slogan “Jalesu Bhumyamca Jayamahe” yang artinya “Di Laut dan Darat Kita Jaya.”

Untuk menjadi seorang prajurit Marinir maka calon harus mendaftar jika ada pembukaan penerimaan anggota TNI AL baik dari jalur Tamtama, Bintara, AAL maupun Perwira Karier.

Jika dinyatakan lolos maka siswa akan mendapat pendidikan dasar militer terlebih dahulu di Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kobangdikal).

Usai di Kobangdikal, siswa akan melanjutkan pendidikan kejuruan di Komando Pendidikan Marinir (Kodikmar) Gunungsari, Dukuh Pakis, Surabaya.

Di sini latihan keras sudah menunggu para calon prajurit Marinir. Selama tiga bulan penuh siswa akan digembleng layaknya dalam suasana perang sungguhan.

Contohnya saja bunyi Alarm membangunkan siswa dari tidur lelapnya waktu subuh. Pelatih akan meledakkan tiga buah granat dan disusul rentetan tembakan senapan serbu AK-47.

Ledakkan dan rentetan tembakan yang bunyinya memekikan telinga tentu membuat siswa gelagapan saat bangun. Sembari gelagapan itulah siswa harus segera mandi, salat subuh bagi yang menjalankan, sarapan dan bersiap menerima latihan brutal.

Marinir saat latihan perang kota

Hampir semua latihan untuk menggembleng pasukan komando itu dilakukan dalam kondisi berlari sembari membawa ransel seberat 20 kg dan menenteng senapan AK-47.

Selama tiga bulan lamanya siswa akan digembleng sampai batas fisik dan ketahanan mental seorang manusia. Ada lima tahapan berat yang harus dilewati untuk dapat menyelesaikan pendidikan guna mendapatkan baret ungu Marinir.

Tahap Laut menjadi ujian pertama yang harus dilalui, kemudian beranjak ke Tahap Komando, Tahap Hutan, dan Tahap Gerilya Lawan Gerilya (GLG).

Tahap yang terakhir adalah Tahap Lintas Medan dengan menempuh jarak 300 km dari Banyuwangi menuju Surabaya. Jarak itu ditempuh dengan berjalan kaki memotong 4 pegunungan di Jawa Timur.

Nah, makan siang siswa juga tak kalah ‘keras’ dengan pendidikan mereka, yakni nasi komando yang bisa buat muntah.

Nasi Komando, makan siang siswa Marinir yang bikin muntah

Namun ketika dihidangi nasi bercampur telur ayam mentah ini, siswa seakan tak hirau. Mereka secara lahap makan apa saja didepannya karena amat lapar akibat pendidikan berat Marinir.

Jika semua tahapan diatas sudah berhasil dilewati, maka siswa didik berhak memakai baret ungu Marinir.

Related posts